Pertama kali mengenalkan aturan main kuiz tebak kata, siswa
langsung mengasosiasikan dengan pengalaman mereka.
"Yang
seperti ini, ya, Bu?" tanya seorang anak sambil tangannya membentuk kotak
di depan keningnya.
"Iya,
betul banget." jawabku mengacungkan jempol padanya.
Kuiz
tebak kata ini memang tidak jauh berbeda dengan kuiz yang pernah ditayangkan di
salah satu stasiun televisi swasta. Acara yang berisi hiburan sekaligus
memiliki nuansa pendidikan ini ditayangkan beberapa tahun lalu. Sekarang masih
ada atau tidak kurang paham.
Kuiz
ini dimainkan oleh siswa secara berpasangan. Mudahnya dengan teman satu bangku.
Siswa pertama yang menghadap ke layar monitor bertugas mengarahkan pasangannya
untuk menebak kata yang muncul di layar monitor. Sedangkan siswa kedua yang
membelakangi layar monitor bertugas untuk menebak kata yang tertera di layar.
Jawaban yang benar akan mendapatkan skor 1 dan jawaban salah mendapatkan skor
0.
Dalam
mengarahkan pasangannya, siswa pertama harus menggunakan konsep yang digunakan
dalam pembelajaran Sosiologi. Dapat berupa pengertian, contoh, atau hal lain
yang berhubungan dengan kata yang muncul di layar. Dasar siswa kreatif,
biasanya mereka akan membuat sendiri kode-kode pernyataan yang mengarah pada
kata yang dikehendaki. Kode yang hanya dirinya dan pasangannya yang tahu.
Sebenarnya ini melanggar aturan kuis tebak kata Sosiologi. Tetapi terkadang di
sinilah letak keseruan kuiz ini. Sorak-sorai teman lain menanggapi pasangan
yang sedang bermain.
Apabila
siswa pertama sulit mengarahkan karena kata yang muncul kurang dipahaminya,
maka dapat mengatakan 'pas' dan layar akan beralih pada kata berikutnya.
Demikian juga jika siswa yang bertugas menebak kata kesulitan untuk menemukan
kata yang dimaksud sesuai arahan pasangannya maka dapat mengatakan 'pas' dan
layar akan beralih pada kata berikutnya.
Setiap
pasangan memiliki waktu lima menit. Setelah 2,5 menit berlangsung maka mereka
akan bertukar posisi. Yang semula bertugas mengarahkan berganti peran menjadi
siswa yang menebak jawaban. Demikian sebaliknya.
Untuk
kelancaran kuiz ini, guru membutuhkan bantuan satu siswa yang tidak sedang
bermain untuk mencatat skor perolehan, satu siswa sebagai pencatat waktu dan
satu siswa sebagai operator yang bertugas mengganti kata yang ditebak.
Kuiz
dilakukan secara bergilir hingga semua siswa dalam satu kelas mendapatkan
kesempatan untuk mengikutinya. Selain dapat menghilangkan kantuk di jam
terakhir sebelum pulang, kuiz ini dapat menambah rasa percaya diri siswa untuk
tampil di depan orang lain. Dan yang pasti kuiz ini sebagai salah satu tes
lisan untuk memenuhi nilai kognitif atau pengetahuan siswa.






