Kamis, 29 Agustus 2019

KUIZ TEBAK KATA BIKIN MELEK MATA


Pertama kali mengenalkan aturan main kuiz tebak kata, siswa langsung mengasosiasikan dengan pengalaman mereka.
                "Yang seperti ini, ya, Bu?" tanya seorang anak sambil tangannya membentuk kotak di depan keningnya.
                "Iya, betul banget." jawabku mengacungkan jempol padanya.

                Kuiz tebak kata ini memang tidak jauh berbeda dengan kuiz yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Acara yang berisi hiburan sekaligus memiliki nuansa pendidikan ini ditayangkan beberapa tahun lalu. Sekarang masih ada atau tidak kurang paham.
                Kuiz ini dimainkan oleh siswa secara berpasangan. Mudahnya dengan teman satu bangku. Siswa pertama yang menghadap ke layar monitor bertugas mengarahkan pasangannya untuk menebak kata yang muncul di layar monitor. Sedangkan siswa kedua yang membelakangi layar monitor bertugas untuk menebak kata yang tertera di layar. Jawaban yang benar akan mendapatkan skor 1 dan jawaban salah mendapatkan skor 0.
                Dalam mengarahkan pasangannya, siswa pertama harus menggunakan konsep yang digunakan dalam pembelajaran Sosiologi. Dapat berupa pengertian, contoh, atau hal lain yang berhubungan dengan kata yang muncul di layar. Dasar siswa kreatif, biasanya mereka akan membuat sendiri kode-kode pernyataan yang mengarah pada kata yang dikehendaki. Kode yang hanya dirinya dan pasangannya yang tahu. Sebenarnya ini melanggar aturan kuis tebak kata Sosiologi. Tetapi terkadang di sinilah letak keseruan kuiz ini. Sorak-sorai teman lain menanggapi pasangan yang sedang bermain.

                Apabila siswa pertama sulit mengarahkan karena kata yang muncul kurang dipahaminya, maka dapat mengatakan 'pas' dan layar akan beralih pada kata berikutnya. Demikian juga jika siswa yang bertugas menebak kata kesulitan untuk menemukan kata yang dimaksud sesuai arahan pasangannya maka dapat mengatakan 'pas' dan layar akan beralih pada kata berikutnya.
                Setiap pasangan memiliki waktu lima menit. Setelah 2,5 menit berlangsung maka mereka akan bertukar posisi. Yang semula bertugas mengarahkan berganti peran menjadi siswa yang menebak jawaban. Demikian sebaliknya.
                Untuk kelancaran kuiz ini, guru membutuhkan bantuan satu siswa yang tidak sedang bermain untuk mencatat skor perolehan, satu siswa sebagai pencatat waktu dan satu siswa sebagai operator yang bertugas mengganti kata yang ditebak.
                Kuiz dilakukan secara bergilir hingga semua siswa dalam satu kelas mendapatkan kesempatan untuk mengikutinya. Selain dapat menghilangkan kantuk di jam terakhir sebelum pulang, kuiz ini dapat menambah rasa percaya diri siswa untuk tampil di depan orang lain. Dan yang pasti kuiz ini sebagai salah satu tes lisan untuk memenuhi nilai kognitif atau pengetahuan siswa.

Teka Teki Sosiologi Asyik


Media pembelajaran TTS merupakan adopsi dari Teka Teki Silang yang sudah sangat populer di masyarakat. Permainan kata ini akan membuat penasaran sebelum semua teka-teki terpecahkan. Apabila masih ada kolom yang kosong ingin segera menemukan kata yang tepat untuk mengisinya. Setelah kolom yang tersedia baik mendatar atau menurun terisi, rasanya puas bisa menyelesaikan tantangan. Biasanya orang-orang memainkan permainan ini untuk mengisi waktu luang. Selain sebagai hiburan, permainan ini dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan.

                TTS Sosiologi Asyik ini dapat dibuat dengan memanfaatkan aplikasi eclipse crossword yang kita instal secara gratis. Kita cukup mengentri kata yang kita kehendaki sebagai jawaban dan pertanyaan pada kolom yang tersedia. Sistem dalam aplikasi akan mengatur pertanyaan mendatar (across) dan menurun (down). Penomoran pada pertanyaan pun sudah diatur sistem.
                Penggunaan media pembelajaran ini sesuai untuk materi pelajaran yang berisi konsep yang cukup banyak. Level kognitif yang dapat dicapai masih pada tataran mengingat. Tetapi ini menjadi penting untuk bekal dalam mempelajari level yang lebih tinggi seperti pemahaman, analisis maupun aplikasi.
                Permainan ini mengasyikkan. Ditemukannya jawaban yang benar dapat menjadi petunjuk atas jawaban pertanyaan yang lain. Sebaliknya, apabila terdapat kesalahan jawaban maka dapat menjadi penghambat untuk menemukan jawaban yang lain.
                Media ini diterapkan pada pembelajaran Sosiologi saat evaluasi materi Kelompok Sosial  di kelas XI IPS 2. Kelas dengan karakteristik siswa yang cenderung lebih aktif daripada kelas yang lain. Hampir 30% peserta didik di kelas ini cepat merasa jenuh dengan pembelajaran yang monoton. Mereka akan melakukan aktivitas yang mengganggu kondusifitas kelas. Tetapi dengan memanfaatkan media pembelajaran yang menarik, keaktifan mereka dapat diarahkan untuk pencapaian kompetensi pembelajaran.
                Media ini dapat diaplikasikan pada hampir semua mata pelajaran yang memuat konsep yang perlu diingat peserta didik. Selain mudah membuatnya, hasilnya pun dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Kamis, 22 Agustus 2019

TIPS MENULIS


Yang mau membaca, siap-siaplah kecewa.
               
"Isi paketnya apa, Mba?" tanya pak Pos sambil tangannya meloncat-loncat di atas keyboard komputernya. Matanya serius memperhatikan layar komputer di depannya.
                "Buku, Pak." jawabku singkat.
                "Mba, penulis ya?" tanyanya lagi. Mungkin Pak Pos masih ingat kemarin kukirim paket berisi buku untuk sahabat lama di Grobogan.
                "Iya, masih belajar." kataku.
                "Penulis itu biasanya kreatif. Punya banyak ide yang cemerlang." kata Pak Pos yang mengenakan batik kemerahan itu melanjutkan. Masih dengan mengetikkan sesuatu. Mungkin alamat tujuan paketku hari itu. Empat buku siap meluncur ke kota kenangan, Sragentina. Nama gaul dari kota Sukowati, Sragen.
                Kata-kata Pak Pos masih menggangguku. Ide memang sangat diperlukan dalam menulis. Terlebih ide yang cemerlang. Tapi, sering kali ide cemerlang saja tidak cukup. Butuh keberanian untuk memulai menulis. Keberanian lahir karena kemauan yang kuat. Ide yang cemerlang saja tanpa kemauan untuk menulis takkan jadi sebuah tulisan. Menguap seperti air yang dididihkan hingga 100 derajat. Eh, berapa derajat ya. Lupa dengan pelajaran Fisika di SMP dulu.
                Ada yang mengatakan menulis itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki bakat menulis. Tanpa itu, mau menulis seperti apa pun akan sulit. Setidaknya tulisan akan menjadi kering tanpa bakat dari penulisnya.
                Apa benar ya? Aku sendiri tidak memiliki ide cemerlang dalam menulis. Ideku biasa-biasa saja. Tapi, tetap saja kutulis. Bahkan ketika aku tahu tidak akan ada orang yang akan membaca tulisanku. Biarlah, kubaca sendiri nanti.
                Apalagi kalau berbicara tentang bakat. Aku tidak tahu, apakah bakat menulis aku miliki. Bahkan aku baru belajar menulis beberapa bulan lalu. Lho, bukannya sejak SD sudah diajari menulis? Iya, maksudku menulis naskah untuk dipublikasikan. Seperti buku, essay, penelitian atau apa lah.
                Lalu apa yang kupunya sebagai modal penulis. Hah, penulis? Sepertinya gelar itu belum pantas kusandang. Mengingat minimnya naskah tulisan yang kuhasilkan. Untuk menulis aku hanya punya kerjakeras. Berfikir ketika orang lain bersantai. Terjaga di saat orang lain tertidur. Karena bagiku menulis bukan pekerjaan ringan. Butuh kejernihan berfikir. Konsentrasi tingkat tinggi. Bahkan, perasaan (mood. Selebihnya? Ya, nulis saja. Apa yang ada di kepala tuangkan. Sudah. Apa pun hasilnya.

Ruang Kelas XII IS, Jumat, 23 Agustus 2019, sambil mengawasi Penilaian Harian 1

PUZZLE SOSIOLOGI BIKIN HAPPY


Sosiologi merupakan mata pelajaran wajib pada jurusan IPS. Seperti halnya mata pelajaran pada jurusan IPS yang lain yaitu sejarah, ekonomi dan geografi, peserta didik sering menganggap pelajaran yang mengkaji tentang gejala sosial tersebut sebagai pelajaran yang penuh dengan hafalan. Meskipun sebenarnya ada beberapa konsep yang memang harus dihafal untuk lebih memahami realitas sosial. Tetapi, hafalan tersebut bukan hanya berlaku untuk ilmu sosial, melainkan untuk semua ilmu.
                Anggapan peserta didik tersebut menyebabkan rendahnya minat mereka terhadap mata pelajaran Sosiologi. Apalagi dengan model pembelajaran yang monoton dan kurang menarik, Sosiologi yang sebenarnya merupakan mata pelajaran yang asyik karena mengkaji sesuatu yang sangat dekat dengan peserta didik menjadi hal yang kurang diminati.
                Menemukan solusi atas permasalahan tersebut wajib hukumnya. Mengembalikan semangat peserta didik yang hilang harus segera dilakukan. Mengubah metode pembelajaran adalah sebuah langkah yang ditempuh oleh guru. Dengan niat tulus untuk menghidupkan kembali kelas Sosiologi yang serasa mati.
Puzzle Tokoh Sosiologi Dunia

                Pada pembelajaran kelas X semester 1 dalam materi Perkembangan Sosiologi di Dunia, guru menggunakan model kooperatif dengan media pembelajaran puzzle untuk meningkatkan aktivitas peserta didik. Guru membuat sendiri media pembelajaran tersebut dengan memanfaatkan kertas bufalo dari bekas cover yang sudah tidak terpakai. Mencoba menerapkan prinsip recycle dalam konsep sekolah adiwiyata.
                Pembuatan media ini dimulai dengan mencetak foto atau gambar tokoh Sosiologi yang berperan dalam perkembangan Sosiologi di dunia. Ada sekitar sepuluh tokoh penting yang memberikan sumbangan pemikiran dalam masa awal lahirnya Sosiologi. Foto-foto tersebut kemudian digunting menjadi dua belas bagian dengan bentuk yang bervariasi sehingga membentuk puzzle. Semakin banyak potongan maka puzzle semakin rumit dan membutuhkan waktu lama dalam penyelesaiannya.
               
                Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik dibagi ke dalam kelompok yang anggotanya terdiri atas 3 sampai 4 orang, menyesuaikan jumlah peserta didik di kelas. Kelompok dibuat heterogen dari aspek jenis kelamin dan kemampuan peserta didik. Dengan demikian akan terjadi kerjasama antar peserta didik dari berbagai latar belakang. Keragaman pada anggota kelompok tersebut juga sebagai upaya menumbuhkan toleransi terhadap perbedaan.
                Setiap kelompok mendelegasikan dua anggota kelompoknya untuk menyelesaikan puzzle yang telah disediakan oleh guru di depan kelas. Guru memberi batasan waktu penyelesaian tugas tersebut untuk menumbuhkan kompetisi yang sehat antar kelompok. Tim yang dikirim bekerja sama menyusun puzzle membentuk wajah tokoh Sosiologi dengan cepat dan tepat. Tim yang sudah menyelesaikan tugasnya diperkenankan kembali ke tempat duduk dengan membawa hasil pekerjaannya. Guru memberi apresiasi kelompok yang dapat menyelesaikan dengan baik tugas untuk memotivasi sekaligus menyemangati tim yang lain untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
               
Proses Penyusunan Puzzle
                Setelah puzzle membentuk wajah tokoh Sosiologi, setiap kelompok bekerjasama untuk menemukan tokoh yang nampak pada gambar. Nama tokoh-tokoh tersebut dituliskan pada papan tulis sehingga mendorong peserta didik untuk segera menemukan nama tokoh dengan mencari pada buku atau internet.
                Langkah berikutnya, setiap kelompok melalui kegiatan diskusi bertugas untuk mempelajari biografi beserta sumbangan tokoh Sosiologi yang telah ditemukannya. Sumber belajar dapat diperoleh dari buku maupun internet. Guru melakukan bimbingan pada setiap kelompok agar hasil diskusi fokus pada pencapaian kompetensi. Guru juga melakukan penilaian otentik dalam kegiatan diskusi tersebut.    Hasil diskusi dituliskan pada buku. Selanjutnya dipresentasikan di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dari peserta didik lain. Presentasi tidak diperkenankan membawa teks untuk melatih kemampuan berkomunikasi.
 
Diskusi Kelompok membahas Sumbangan Tokoh Sosiologi dalam Perkembangan Sosiologi
                Di akhir pembelajaran, hasil presentasi dibuat ringkasan hasil presentasi sehingga semua peserta didik memiliki hasil dari diskusi kelompok yang lain. Pembelajaran ini terbukti dapat meningkatkan aktivitas belajar Sosiologi pada kelas X. Sebagian besar peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran puzzle ini dapat diterapkan bukan hanya pada mata pelajaran Sosiologi melainkan dapat diaplikasikan pada mata pelajaran yang lain sesuai dengan topiknya.

Jumat, 16 Agustus 2019

PENULIS ADALAH SALES BAGI BUKUNYA


"Ini buku njenengan ya, Bu?" tanya seorang guru baru yang meja kerjanya ada di sampingku sambil memegang buku dengan cover merah. Cetar. Indonesia Is We.
                "Iya, silakan jika berminat." jawabku singkat
                "Nanti ikut baca aja deh." katanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
                "Boleh." kataku.
                "Dari dulu aku nda suka baca." komentar guru lain yang sejak tadi menyimak perbincangan kami. Guru baru juga. Para senior menyebutnya guru zaman now. Guru milenial.
                "Sama, aku juga nda suka baca." jawabku.
                Dia nampak kaget dengan jawabanku. Dia mengira setiap hari aku membaca buku karena aku menyukainya. Sama sekali tidak. Ini hanya proses pemaksaan diri. Memaksa agar mau membaca. Kan aneh, seorang guru yang seringkali menuntut siswanya untuk rajin membaca, tekun berlatih kok dirinya sendiri malah tidak pernah membaca.
***
               
"Silakan, Pak dipirsani barangkali berminat." kataku hati-hati sambil menyodorkan buku Indonesia Is We pada Bapak Kepala Sekolah yang kebetulan sedang berada di ruang guru.
                "Apa ini?" tanyanya agak kaget.
                "Buku antologi yang kedua." jawabku.
                "Saya ikut nulis di situ Pak," kata guru perempuan berjilbab merah jambu yang berdiri di dekat kipas angin, "Hihihi, promosi." lanjutnya sambil terkekeh.
                "Oh, ya, saya pasti beli." kata Pak Kepala sambil berdiri mengambil dompet di saku celananya. Uang seratusan ribu disodorkannya padaku. Segera kuambil uang kembalian.
                "Terima kasih atas apresiasinya, Pak! Semoga menjadi motivasi untuk terus belajar nulis." kataku masih berdiri di sampingnya.
                "Waka-waka ditodong aja suruh beli semua, Mba." katanya sambil tertawa. (Waka: wakil kepala sekolah).
                Aku hanya tersenyum kembali ke tempat duduk dua deret di belakangnya.
***
                "Ini buku barunya ya, Bu?" tanya seorang guru laki-laki sambil mengambil buku yang tergeletak di mejaku. Dia waka kurikulum di sekolahku. Dia juga sudah membeli dan membaca buku antologi pertama, Guru Mulia Karena Karya. Bahkan untuk antologi di bulan Agustus bertema Indonesiaku dia sudah siapkan naskah tulisan untuk dikirim.
                "Iya, Pak. Monggo dipirsani barangkali berminat." jawabku menawarkan.
                Dia membolak-balik buku yang sampul plastiknya masih tersegel rapi. Dia cermati tulisan pada cover belakang buku. Dibaca. Dibalik lagi.
                "Lihat-lihat dulu ya, Bu!"
                "Iya, Pak, nda papa."
                Dia taruh kembali buku itu di mejaku. Melanjutkan langkahnya menuju masjid sekolah untuk shalat Dzuhur berjamaah.
***
                "Mana, Bu, katanya bukunya sudah jadi. Coba lihat." kata guru agama di sekolahku. Tempat duduknya ada pada deret ke dua di depanku. Setiap kali mau masuk kelas atau ke luar dari ruang guru untuk keperluan apa pun selalu melewati meja kerjaku.
                "Silakan, Pak. Barangkali berminat." kataku menyodorkan buku bersampul merah.
                Sekilas dia perhatikan sampul yang masih bersegel. Dibolak-balik.
                "Nanti, ya, Bu!" katanya menaruh buku di mejaku. Agak tergesa dia keluar dari ruangan. Mungkin menuju masjid atau kelas.
                Sepeninggalannya, buku kutaruh di meja kerjanya. Di samping tumpukan buku tugas siswa.
                "Aku masih utang, ya!" katanya ketika berpapasan mau pulang setelah finger print.

Minggu, 04 Agustus 2019

Hati-hati, Menulis itu Candu


Melihat sebuah buku yang ada hanyalah rasa kagum. Bagaimana bisa menulis sebanyak itu? Jangankan membuat sebuah buku. Membuat satu buah paragraf saja sulitnya luar biasa. Itu yang saya rasakan. Ada yang mengatakan bahwa menulis itu semudah berbicara. Tapi bagi saya, itu tidak terbukti.
            Hingga suatu ketika, kepala sekolah memberi tugas untuk mengisi web sekolah dengan berita sekolah. Mengetahui kemampuan menulis yang rendah dan khawatir akan mengecewakan, saya tolak.
            "Guru Bahasa Indonesia saja, Pak, yang pandai menulis" kataku waktu itu.
            "Sudah dibuat saja, nanti kalau sudah jadi tinggal konsultasi dengan guru Bahasa Indonesia" jawab kepala sekolah dengan tetap bersikukuh dengan pendapatnya.
            Berita pertama yang saya buat tentang kemenangan tim bola volly sekolah dalam turnamen di tingkat karisidenan. Kata demi kata saya ketik pada netbook kesayangan. Ketik hapus, ketik hapus. Selalu saja ada yang terasa kurang tepat pada tulisan itu. Jika menggunakan kertas, mungkin tempat sampah di samping pintu sudah penuh dengan remasan kertas. Berjam-jam di depan layar monitor tetapi berita belum juga jadi.
            Saya melangkahkan kaki keluar dari laboratorium biologi, tempat di mana saya menyepi. Berjalan di teras melihat beberapa siswa yang sedang menikmati jam istirahat. Setelah cukup segar, saya kembali masuk laboratoruim. Saya tekuni lagi tulisan yang belum jadi. "Harus bisa" batinku menyemangati diri sendiri.
            Tulisan berisi enam paragraf itu selesai. Sesuai saran kepala sekolah, langsung saya bawa pada guru senior yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah membaca sekilas, guru tersebut mengomentari tulisan yang saya buat. Pilihan kata yang tidak tepat. Struktur kalimat yang tidak lengkap. Kalimat-kalimat yang kurang tertata. Hampir setengah tulisan saya setelah dikoreksi ternyata salah.
            Dengan suara keras hingga terdengar seluruh ruangan, guru senior tersebut mengomentari tulisan saya. Seperti seorang siswa yang sedang dimarahi gurunya, saya hanya diam sambil memperhatikan coretan-coretan yang dibuat pada selembar kertas hasil tulisan saya. Sesekali saya meminta saran untuk perbaikan tulisan.
            Saya perbaiki tulisan sesuai masukan dari guru senior tersebut. Setelah selesai langsung saya posting di web sekolah. "Sulit juga menulis ya" pikirku. Apalagi jika teringat tulisan yang dibuat dengan penuh perjuangan ternyata masih salah. Rasanya hilang motivasi untuk kembali menulis.
            Kepala sekolah meminta agar berita di web harus diisi setidaknya seminggu sekali. Saya berfikir tentang apa yang bisa saya tulis untuk berita? Kegiatan sekolah hanya rutinitas kegiatan belajar mengajar. Tidak ada agenda kegiatan lain di hari efektif. Saya teringat kata seorang wartawan di suatu surat kabar, berita itu tidak harus menunggu kegiatan. Peristiwa yang sudah biasa terjadi juga dapat menjadi berita yang menarik jika kita dapat menuliskannya dari sudut pandang lain yang berbeda. Metode pembelajaran yang menarik di sekolah pun menjadi objek tulisan saya untuk mencapai target berita seminggu sekali.
            Pada tulisan berikutnya, saya mengabaikan pesan kepala sekolah untuk konsultasi dengan guru senior tentang kebenaran tulisan saya. Setiap kali selesai menulis langsung saya posting. Saya tidak peduli tulisan saya betul atau salah. Demikian seterusnya.
            Kebiasaan menulis pun akhirnya bukan hanya karena tuntutan tugas dari sekolah. Setiap kali menyaksikan peristiwa tertentu, gagasan melayang-layang ingin dituliskan. Terkadang ide datang tidak peduli waktu dan tempat. Saat memasak, saat mengasuh anak, saat merawat tanaman di kebun, saat mengajar siswa di kelas dan saat melakukan perjalanan ke tempat baru. Sebelum bisa menuliskan, ide-ide selalu mengganggu pikiran dan membuat gelisah. Padahal keadaan sedang tidak memungkinkan untuk membuka laptop. Tetapi setelah berhasil menuliskannya, ada kepuasan tersendiri.
            Semula tulisan hanya saya simpan saja pada komputer. Tapi kemudian saya coba membuat blog pribadi untuk menampung tulisan-tulisan yang bukan berita sekolah. Saya termotivasi dengan yang pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer. "Teruslah menulis meskipun tidak ada orang yang membacanya" kata Pram.
            Ternyata kemampuan menulis saat ini memang penting. Apalagi bagi seorang guru. Seleksi Olimpiade Guru Nasional (OGN) harus menuliskan artikel ilmiah, mengikuti diklat harus mengirimkan essai dan mengikuti workshop dipersyaratkan mengumpulkan tulisan. Tanpa kemampuan menulis pengembangan profesi guru akan terhambat. Jadi, mau tidak mau guru harus belajar menulis. Kemampuan menulis dapat dipertajam dengan terus belajar menulis. Selain itu juga harus diimbangi dengan budaya literasi untuk memperluas wawasan.



Tulisan ini dimuat dala buku Guru Mulia karena Karya yang diterbitkan oleh MediaGuru
Aqila bersama buku Guru Mulia Karena Karya

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...