Dalam kehidupannya manusia memiliki tiga fase penting yaitu:
kelahiran, perkawinan dan kematian. Masyarakat Jawa di kecamatan Mirit
memiliki tradisi khusus dalam melewati fase tersebut. Sebelum sang bayi lahir
sejak usia empat bulan diadakan acara kupat (ngupati). Ada usia kehamilan tujuh
bulan akan diselenggarakan acara kebo (ngebo).
Saat
bayi telah lahir pun banyak tradisi yang masih dipegang oleh masyarakat seperti
memberikan among-among pada hari weton (lahir) sang jabang bayi. Among-among
dilakukan pada hari lahirnya bayi menurut penanggalan Jawa, seperti Senin Pon,
Selasa Wage dst. Pada acara among-among
orang tua mengundang anak-anak kecil untuk mendoakan bersama sang bayi yang
baru lahir sekaligus mengenalkan namanya.
Acara penting setelah kelahiran
adalah pethetan. Acara ini biasanya
digelar setelah anak pupak. Pupak merupakan lepasnya plasenta dari
pusar bayi. Acara ini menghadirkan tetangga dan orang-orang penting. Acara
diisi dengan memanjatkan doa dan syukuran. Biasanya diikuti dengan pemotongan
rambut sang jabang bayi.
![]() |
| Acara Pethetan Najwa |
Pemotongan
rambut dilakukan oleh tokoh masyarakat setempat. Simbah dukun mendapatkan
kesempatan pertama dalam pemotongan rambut tersebut. Hal ini karena dukun bayi
dianggap sebagai orang yang paling berjasa dalam kelahiran bayi. Sehingga
dirinya dalam struktur sosial berada pada posisi atas dan mendapat penghormatan
menjadi orang yang pertama yang memotong rambut bayi.
Pemotongan
rambut kedua dilakukan oleh tokoh agama yang biasa disebut kyai. Dirinya
dinilai memiliki kedudukan tinggi karena berperan sebagai pengajar ilmu agama
dan sebagai panutan masyarakat dalam berperilaku sesuai norma dalam masyarakat.
Kakek
dari sang bayi mendapat giliran pada urutan berikutnya. Hal ini merupakan
penghormatan kepada orang tua sebagai pengasuh dan pembimbing anak dalam
mengaruhi hidup.
Giliran
pemotong rambut berikutnya adalah tokoh masyarakat dari jenjang tertinggi
hingga terrendah. Seperti perangkat desa
yang meliputi kepala desa, carik, bayan, ketua RW dan RT serta tokoh masyarakat
lain.
Jumlah
pemotong rambut biasanya ganjil, seperti tujuh orang, sebelas, tigabelas, dua
puluh satu dan seterusnya.
Dalam
acara pethetan tersebut ada yang
bertugas sebagai penggendong bayi. Biasanya mereka orang yang masih memiliki
hubungan kerabat dengan si bayi. Selain itu terdapat seorang yang bertugas
sebagai penyemprot minyak wangi sebagai simbol yang menyiratkan harapan orang
tua bahwa si anak kelak menjadi pengharum yang membawa nama baik keluarganya.
Seorang
bertugas menyelipkan amplop berisi uang pada setiap orang yang memotong rambut
bayi. Hal tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih dan rasa syukur atas
nikmat kelahiran seorang bayi di tengah-tengah keluarga. Acara yang biasanya
diramaikan dengan kesenian religi hadroh ini diakhiri dengan pembagian syukuran
dalam bentuk nasi berkat yang telah didoakan bersama.
Mirit, 03 September
2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar