Senin, 02 September 2019

Pethetan Sang Jabang Bayi


Dalam kehidupannya manusia memiliki tiga fase penting yaitu: kelahiran, perkawinan dan kematian. Masyarakat Jawa di kecamatan Mirit memiliki tradisi khusus dalam melewati fase tersebut. Sebelum sang bayi lahir sejak usia empat bulan diadakan acara kupat (ngupati). Ada usia kehamilan tujuh bulan akan diselenggarakan acara kebo (ngebo).
                Saat bayi telah lahir pun banyak tradisi yang masih dipegang oleh masyarakat seperti memberikan among-among pada hari weton (lahir) sang jabang bayi.  Among-among dilakukan pada hari lahirnya bayi menurut penanggalan Jawa, seperti Senin Pon, Selasa Wage dst. Pada acara among-among orang tua mengundang anak-anak kecil untuk mendoakan bersama sang bayi yang baru lahir sekaligus mengenalkan namanya.
                Acara penting setelah kelahiran adalah pethetan. Acara ini biasanya digelar setelah anak pupak. Pupak merupakan lepasnya plasenta dari pusar bayi. Acara ini menghadirkan tetangga dan orang-orang penting. Acara diisi dengan memanjatkan doa dan syukuran. Biasanya diikuti dengan pemotongan rambut sang jabang bayi.
Acara Pethetan Najwa

                Pemotongan rambut dilakukan oleh tokoh masyarakat setempat. Simbah dukun mendapatkan kesempatan pertama dalam pemotongan rambut tersebut. Hal ini karena dukun bayi dianggap sebagai orang yang paling berjasa dalam kelahiran bayi. Sehingga dirinya dalam struktur sosial berada pada posisi atas dan mendapat penghormatan menjadi orang yang pertama yang memotong rambut bayi.
                Pemotongan rambut kedua dilakukan oleh tokoh agama yang biasa disebut kyai. Dirinya dinilai memiliki kedudukan tinggi karena berperan sebagai pengajar ilmu agama dan sebagai panutan masyarakat dalam berperilaku sesuai norma dalam masyarakat.
                Kakek dari sang bayi mendapat giliran pada urutan berikutnya. Hal ini merupakan penghormatan kepada orang tua sebagai pengasuh dan pembimbing anak dalam mengaruhi hidup.
                Giliran pemotong rambut berikutnya adalah tokoh masyarakat dari jenjang tertinggi hingga terrendah.  Seperti perangkat desa yang meliputi kepala desa, carik, bayan, ketua RW dan RT serta tokoh masyarakat lain.
                Jumlah pemotong rambut biasanya ganjil, seperti tujuh orang, sebelas, tigabelas, dua puluh satu dan seterusnya.
                Dalam acara pethetan tersebut ada yang bertugas sebagai penggendong bayi. Biasanya mereka orang yang masih memiliki hubungan kerabat dengan si bayi. Selain itu terdapat seorang yang bertugas sebagai penyemprot minyak wangi sebagai simbol yang menyiratkan harapan orang tua bahwa si anak kelak menjadi pengharum yang membawa nama baik keluarganya.
                Seorang bertugas menyelipkan amplop berisi uang pada setiap orang yang memotong rambut bayi. Hal tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih dan rasa syukur atas nikmat kelahiran seorang bayi di tengah-tengah keluarga. Acara yang biasanya diramaikan dengan kesenian religi hadroh ini diakhiri dengan pembagian syukuran dalam bentuk nasi berkat yang telah didoakan bersama.

Mirit, 03 September 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...