Sabtu, 30 Maret 2019

DUA HARI MENCARI PENGALAMAN


Setelah menempuh perjalanan sekitar 4,5 jam akhirnya kami sampai di Hotel Siliwangi, Semarang, tempat diselenggarakannya OGN (Olimpiade Guru Nasional) tahun 2019 selama dua hari (22-23/03/2019). Dari Kebumen kami berangkat bertiga. Saya, bu Asih dari SMA Negeri 1 Kebumen dan pak Bisri dari SMA Pejagoan. Bu Asih adalah  teman MGMP pada mapel Sosiologi.  Sedangkan pak Bisri mengampu mapel Fisika. Kami baru kenal dengan guru yang agak gendut tersebut karena sama-sama peserta seleksi OGN tahun ini. Rekan guru di sekolah yang memberikan kontak beliau agar dapat sama-sama berangkat ke Semarang.
                Di lobi hotel suasana masih sepi. Semula kami akan beristirahat di kursi depan sambil menunggu peserta yang lain hadir. Tetapi, seorang karyawan hotel mempersilakan kami untuk masuk. Kami pun menerima tawaran tersebut. Terlihat meja dan kursi panitia masih kosong. Hanya ada tumpukan tas yang nantinya akan dibagikan untuk peserta seleksi OGN ini.
                Kami duduk di sofa empuk yang tersedia di dekat pintu masuk. Dua orang resepsionis yang sedari tadi berbincang menyapa kami. Mereka menjelaskan bahwa kamar hotel dapat dihuni tiga orang. Kami diizinkan cek in jika sudah lengkap ada tiga orang. Kami kembali menunggu sambil istirahat setelah merasa lelah dalam perjalanan menggunakan shuttle tadi.
                Setelah beberapa saat datang seorang ibu muda cantik sambil menarik koper ukuran kecil ke arah resepsionis. Setelah tahu dia sama-sama peserta OGN, kami tawarkan kepadanya untuk satu kamar. Tanpa merasa keberatan, wanita tersebut menerima tawaran kami. Resepsionis mempersilakan kami mengisi data diri berupa nama, asal sekolah dan nomor telepon.
                "Mari saya antar" kata seorang karyawan hotel kepada kami. Kami pun mengikuti laki-laki tersebut memasuki lift. Setelah sampai pada kamar 316 pada lantai 3 karyawan membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk. Karyawan hotel menjelaskan sepintas tentang penggunaan fasilitas kamar hotel.
                Kami mengamati kamar. Dua tempat tidur dan sebuah kasur busa bersandar ke tembok. Meja, almari, dan kamar mandi yang tata letaknya mengingatkan saya pada hotel Ambhara di Jakarta. "Biar saya yang tidur di bawah" kata guru cantik yang kami belum sempat berkenalan dengannya. Dia langsung merobohkan kasur busa ke lantai. Dengan cekatan dia membuka koper dan menata barang bawaannya.
                Sambil santai sejenak kami bincang-bincang dan saling memperkenalkan diri. Ternyata guru cantik itu mengajar mapel Bahasa Inggris di SMK N 1 Pemalang. Namanya Nanik Setyowati, saya baca di map yang dibawanya. Dia wanita dengan kepribadian ekstrofet, baru beberapa menit kami kenal, dia sudah membuka diri dengan menceritakan kehidupannya.
                Kami satu kamar bertiga. Saya, bu Nanik yang baru saja kami kenal dan bu Asih teman yang sama-sama dari Kebumen. Dengan bu Asih, selain kami sama-sama dari MGMP Sosiologi, kami pernah bersama-sama ketika mengikuti kegiatan Pelatihan Narasumber Nasional pada Program Guru Pembelajar di Hotel Ambhara Jakarta tahun 2016. Kami pun pernah berada pada forum yang sama saat mengikuti FGD Uji Keterbacaan Modul di Hotel Aria Gajayana Malang pada tahun 2017. Tapi kami baru berada satu kamar pada kegiatan OGN kali ini.
                Tiba-tiba telepon berdering. Kami kira handphone yang berbunyi. Kami sempat mengecek handphone masing-masing. Meskipun jelas-jelas bukan suara ringtone hp kami. Ternyata telepon kamar yang berbunyi. Saya angkat dan terdengar suara pelan dari bagian resepsionis mempersilakan kami untuk registrasi di lantai bawah.
                Kami segera bersiap-siap untuk turun. Tapi bu Asih masih terlihat santai. "Nanti saja, sekalian makan siang" katanya. Kami pun sepakat.
                Saat turun untuk melakukan registrasi, terlihat lobi hotel sudah dipenuhi peserta OGN. Kami langsung antri untuk mendapatkan formulir pendaftaran. Saya perhatikan satu persatu wajah-wajah yang sedang sibuk mengisi data diri. Tak satu pun yang kenal.
                Setelah mengisi daftar hadir kami mendapatkan formulir untuk diisi. Saya perhatikan sekeliling untuk mendapatkan tempat yang strategis untuk menulis. Nah, itu dia kursi kosong. Langsung saya menuju ke sana. Saya duduk persis di depan ibu guru cantik yang sedang mengisi formulir. Saya perhatikan ibu guru tersebut. "Bu Nafsul…" panggilku pada wanita itu. "Hei, bu Faidah, kita ketemu di sini" sahutnya sambil jabat tangan dan cium kanan kiri. Bu Nafsul Mutmainah adalah guru Sosiologi di SMA Gemolong Sragen. Kami rekan satu MGMP ketika saya masih bertugas di SMA Gondang Sragen sekitar tiga tahun lalu. Kami pun bincang-bincang menanyakan kabar sambil mengisi formulir masing-masing.
                Formulir yang telah terisi kami kembalikan pada panitia. Kami pun mendapatkan seperangkat fasilitas berupa tas, co-card, notebook dan pulpen.
                Panitia memberi tawaran kami untuk makan siang. Peserta laki-laki dipersilakan memilih untuk makan siang atau shalat Jumat lebih dulu. Kami bertiga bersama rekan satu kamar sepakat untuk makan siang lebih dulu. Memang ini yang sudah ditunggu-tunggu karena sejak pagi belum sarapan akibat berangkat terlalu pagi. Kami pun menuju restoran Srikandi.
                Selesai menikmati makan siang perdana di hotel Siliwangi, kami kembali ke kamar untuk menunggu waktu pembukaan yang akan dimulai pukul 13.00. Di lift kami bertemu dengan peserta lain, pertanyaan yang selalu kami ajukan setiap kali bertemu dengan peserta lain "dari sekolah mana, mengampu mapel apa?"
                Acara pembukaan dilaksanakan di ruang pertemuan lantai 2. Saat kami sampai di tempat pembukaan, baru ada beberapa peserta yang sedang berbincang dan selfi di dekat banner. "Duduk di depan aja yuk, biar bisa dengar jelas" usul bu Nanik. Kami pun menuju kursi urutan ke tiga dari depan. Sambil menunggu kami ikut berfoto dan berkenalan dengan guru yang ternyata dari Solo. Mereka menawari kami sosis asli Solo.
                Acara dibuka secara resmi oleh Kabid Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Eris Yunianto, S.Pd., M.Pd. Dalam kesempatan tersebut pihaknya berpesan agar setiap kegiataan yang dilakukan oleh guru hendaknya berorientasi pada peserta didik. Demikian pula, keikutsertaan dalam kegiatan OGN diharapkan untuk meningkatkan pelayanan pada peserta didik. Selain itu, Eris juga menyampaikan pentingnya revitalisasi MGMP guna membangun kemandirian MGMP. Guru peserta OGN diharapkan dapat menjadi pioner untuk mencapai tujuan tersebut.
                Selepas acara pembukaan, peserta seleksi OGN mendapatkan materi tentang pedagogik dari dosen UNNES. Materi kedua tentang materi profesional mapel disampaikan oleh Arif Ediyanto, Guru Teladan dengan seabreg prestasi. Tetapi guru Matematika dari SMK Kendal tersebut justru fokus pada pemberian motivasi untuk berprestasi dan pengenalan soal-soal pedagogik yang HOTS.
                Pada malam harinya kami mendapat pengarahan dari Tim OGN Pusat tentang teknik pelaksanaan ujian online. Panitia menyampaikan bahwa ujian akan dilaksanakan dalam 2 sesi. Sesi pertama peserta dengan nomer urut 1-140. Sesi kedua peserta dengan nomer urut 141-241. Syukurlah kami satu kamar dapat mengikuti ujian sesi pertama. Saya nomer 135, bu Asih nomer 139 dan bu Nanik nomer 140. Tadinya kami sempat khawatir, jangan-jangan kami mendapatkan sesi kedua.
                Pagi hari setelah sarapan pagi kami diantar menuju SMA 3 Semarang, tempat pelaksanaan ujian online. Kami bertiga dengan 34 peserta lain ujian di lab 4. Saat login saya sempat mengalami kesulitan. Beberapa teman membantu tetapi belum berhasil. Biasanya saya masuk dengan menggunakan username NUPTK. Tapi kali ini selalu gagal. Saya coba dengan email, ternyata bisa.
                Sambil menunggu waktu tepat pukul 08.00 saya berbincang dengan teman sebelah tempat duduk. Ibu guru mapel Ekonomi tersebut bercerita tentang prestasi-prestasinya. Outdor study yang biasa dilakukan dengan siswanya dan buku karyanya yang ditandatangani pak Anis Baswedan. Dirinya pun mengatakan tahun lalu sudah berpengalaman mengikuti OGN. Saat ujian sudah berlangsung, saya sempat meminta kontak handphonenya untuk dapat berbagi dan belajar.
                Soal ujian online dapat saya selesaikan dalam waktu satu jam lebih. Meskipun demikian ada rasa kecewa melihat soal-soal yang diujikan. Sepintas mirip dengan soal simulasi kemarin. Bahkan kesalahan soal saat simulasi masih belum diperbaiki dalam ujian online tersebut. Seperti terdapat soal yang tidak memiliki stem soal (pertanyaan). Terdapat juga beberapa nomer dengan soal yang sama. Yang lebih bikin gelo, terdapat soal yang menanyakan nama tokoh yang mengungkapkan definisi tertentu. Seperti "Perubahan sosial adalah bla bla bla, Definisi tersebut dikemukakan oleh…. A. Kingsley Davis, B…., C….. dst.
                Saya keluar ruang ujian dengan masih memendam rasa. Bu Asih nampak sudah berada di luar ruangan. Kami menunggu teman lain keluar ruangan sambil menikmati snack yang disediakan panitia. Saya teringat kata-kata peserta ujian yang tadi melintas. "Ikuti ujian kemudian lupakan". Meski berusaha melupakan ujian tadi, kami justru membicarakan soal-soal tadi dengan bu Asih.

Minggu, 17 Maret 2019

Sederhananya Kebaikan


Hari itu ada tugas untuk mengikuti kegiatan di sekolah lain yang berjarak sekitar 23 km dari tempat kerja. Mengingat pertemuan sebelumnya sudah terlambat karena beberapa alasan teknis. "Hari ini harus ontime" pikirku.
                Setelah singgah di rumah untuk mengkondisikan anak-anak, langsung berangkat. Ban motor yang aku naiki terasa seperti kempes. Dan ternyata setelah dicek memang kempes. Sepanjang jalan mata ini fokus mencari bengkel yang biasanya menyediakan pompa. Sudah beberapa desa terlewati tapi belum menemukan bengkel yang dicari.
                Tibalah di sebuah bengkel tradisional milik seorang bapak tua (mungkin umur 60 tahun lebih). Di bengkel ini juga, pekan yang lalu ketika berangkat pada acara yang sama yaitu MGMP, ban sepeda motorku kempes bahkan sampai tidak ada angin sedikit pun. Yang membuat bersyukur adalah kejadian tersebut tepat di depan bengkel. Sehingga tidak perlu repot-repot nuntun motor dengan jarak yang jauh. Langsung saja saya ganti ban di sana.
                Aku berhenti tepat di depan bengkel. "Nyuwun tambah angin" kataku. Tanpa menjawab bapak pemilik bengkel yang saat itu terlihat sedang membetulkan sepeda beranjak mengambil pompa genjot untuk memompa ban motorku. Bengkel itu memang masih menggunakan pompa genjot. Tidak seperti bengkel-bengkel lain yang sering ku kunjungi yang menggunakan pompa dinamo.
"Awan temen?" tanya bapak pemilik bengkel sambil menggenjot pompa. Saat itu hampir pukul 10.
"Enggih niki" jawabku sambil membuka dompet untuk mengambil uang.
"Ojo mbayar" kata bapak pemilik bengkel ketika melihatku mengambil uang.
"Ukur pertolongan" tambahnya.
"Ooh, enggih?" tanyaku.
                Seseorang yang sedang duduk di dekat sepeda yang tadi sedang dibetulkan bapak pemilik bengkel mengatakan sesuatu. Tetapi tidak begitu jelas apa yang dikatakan. Mungkin mengomentari ucapan bapak pemilik bengkel. Atau mungkin menjawab pertanyaanku.
"Nggih sampun, matur nuwun" kataku ketika bapak pemilik bengkel selesai memompa ban. "Mugi-mugi bapak rejekine lancar nggih" tambahku sambil menghidupkan motor.
                Kulanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan masih teringat kebaikan bapak pemilik bengkel. Kebaikan yang sederhana, sesederhana bengkelnya. Tapi kebaikan seperti ini yang saat ini jarang ditemui. Betapa selama ini apapun dinilai dengan materi. Bahkan ngencengkan sekrup pun bayar. Apalagi pompa untuk tambah angin. Tapi bapak pemilik bengkel menggunakan sarana yang dimilikinya untuk menebar kebaikan. Meskipun dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Pelajaran Seorang Murid kepada Gurunya



                Sore itu, seorang wanita paruh baya menikmati waktu menjelang maghrib di teras rumah. Ia bercanda dengan kedua putrinya yang masih berusia kurang dari 6 tahun. Sesekali menyapa tetangga yang pulang dari sawah. Ada yang sambil memikul rumput untuk pakan ternak mereka. Ada yang hanya membawa peralatan cangkul di pundaknya.
                Seorang pengendara motor lewat dengan membawa keranjang di kanan kirinya. Dari kejauhan nampak dia menganggukkan kepala menyapa wanita tersebut. "Nggih, monggo!" sahut wanita yang sedari tadi duduk di kursi sambil mengawasi anaknya yang berlarian memainkan dolanan polisi-maling. "Ling ling ling sapa sing dadi maling, si si si sapa sing dadi pulisi" seru anak-anak sambil mengacung-acungkan jari saling tunjuk.
                Kembali sebuah sepeda motor melintas. Seorang lelaki dengan keranjang di kanan-kiri seperti penjual degan. Dari jauh dia menoleh ke arah rumah tempat wanita itu bercengkerama bersama kerabatnya. Melihat gelagat pengendara motor, wanita tersebut menduga pengendara motor adalah orang yang biasa membeli buah nangka atau sukun yang tumbuh di halamannya.
                Setelah melewati rumah sekitar seratus meter, pengendara motor tersebut berbalik arah. Dia mengarahkan motornya menuju tempat wanita itu bersantai. Nampak dia tersenyum. Setelah dekat, dia matikan mesin motor dan melepas helmnya. "Pangling mboten, Bu Ning?" katanya sambil berjalan menuju tempat duduk di teras rumah.
                "Sinten nggih?" sahut wanita yang dipanggil bu Ning balik bertanya. Dia merasa pernah melihat lelaki itu. Tapi kapan dan di mana, masih sulit untuk diingat.
                "Bambi Bu…" kata lelaki itu sambil mengajak berjabat tangan. "Ooooo, ya Allah, pangling" balas bu Ning sambil memperhatikan laki-laki yang ternyata dikenalnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
                Masih sambil mengamati lelaki di depannya, ingatan bu Ning kembali pada masa sekitar sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu Bambi masih kelas II SMP. Dia sering terlambat tiba di sekolah. Dengan sepeda jengkinya dia datang dengan tergopoh-gopoh. Keringat membasahi kening dan punggungnya. Tas hitam terselip di pinggang seperti punya tukang kredit.
                "Assalamualaikum, pak" sapa Bambi sambil mencium tangan seorang guru yang berdiri di dekat parkir sepeda. "Waalaikum salam, telat lagi ya?" kata guru yang mengenakan kaos olahraga itu. "Iya, pak, maaf…" jawab Bambi sambil buru-buru berlari menuju kelas.
                Jarak rumah Bambi paling jauh di antara teman sekolahnya. Jarak yang umumnya ditempuh dengan naik angkot, harus dia tempuh dengan mengayuh sepeda jengkinya. Sepeda yang sudah dilepas boncengan dan remnya.
                Di ruang guru Bambi pun tidak jarang jadi perbincangan para guru. Meskipun usianya lebih tua dibanding teman-teman satu kelasnya, kemampuannya relatif rendah di bawah rata-rata. Dia sudah berhenti sekolah dua tahun, dan mendaftar kembali di kelas I SMP.
                "Soal 10 Bambi kur bener 2" kata seorang guru yang berbadan relatif subur. "Ra popo Bu, sing penting akhlake apik" sahut guru yang duduk di belakangnya membela Bambi. Bambi bukan hanya memiliki perilaku yang baik, dia pun sering kali dimintai bantuan bapak ibu gurunya mengerjakan berbagai pekerjaan, seperti membawakan minuman, membeli makanan di kantin, bahkan kadang diminta memijit punggung guru laki-laki di sekolahnya.
                "Bu Ning sehat?" tanya Bambi membuyarkan lamunan bu Ning. "Ya, alhamdulillah sehat…" jawab bu Ning agak kaget.
                Setelah mempersilakan Bambi duduk dan menanyakan kabarnya, bu Ning masuk ke rumah. Beberapa saat kemudian wanita itu keluar dengan membawa segelas teh hangat, sepiring buah pisang dan setoples kue kering. "Ayo Bam diminum…" kata bu Ning mempersilakan mantan muridnya menikmati sajian yang dibawanya. "Nggih Bu, maturnuwun" jawabnya sambil mengangguk sopan.
                Keduanya bercerita tentang kehidupan masing-masing. Bu Ning sejak Bambi kelas II SMP mendapatkan tugas mengajar di daerah lain. Hingga akhirnya dapat kembali ke daerahnya setelah mengajukan mutasi. Saat ini telah memiliki dua orang anak, yang berusia lima setengah tahun dan dua setengah tahun. Semuanya perempuan.
                Bambi yang dulu agak gemuk, sekarang makin langsing. Tapi hitamnya masih belum berubah. Dia sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Sehari-hari dia bekerja sebagai penjual pisang. Dia beli pisang dari para petani, kemudian dijual pada juragannya.
                "Anakku yo mesti njaluk jajan" katanya menceritakan anaknya. "Nek ora nggobali jajan yo muter-muter ning kranjang nggolet gedang sing mateng. Terus diputhel" ceritanya antusias. Dia pun tanpa malu-malu menceritakan tentang suka duka menjadi penjual pisang. Terkadang harus tombok membeli pisang yang sudah matang untuk jajan anaknya.
                Bambi berdiri dari kursinya dan meminum segelas teh di depannya sekaligus. Makanan yang dihidangkan tidak ada satu pun yang dicicipinya. "Sampun sonten, tak pamit lah Bu" kata Bambi sambil merogoh sakunya. Dia mengeluarkan uang yang dilipat rapi. Nampak pada lipatan paling luar uang 2000an. Dia ambil pada lipatan yang di dalam, 5000an dua lembar.
                "Nyah, nggo tumbas jajan" katanya sambil membungkuk menyodorkan uang pada anak kecil di depannya. "Eeeee, ojo repot-repot Bam! kata bu Ning mencegah. Tapi uang itu sudah diterima oleh anaknya. "Ayo bilang apa?" kata bu Ning mengajari anaknya berterima kasih.
                Bambi bergegas menuju motornya. Beberapa kali dia menggenjot pedal untuk menyalakan mesin. "Riyen nggih Bu…" seru Bambi setelah motornya bunyi. "Nggih monggoh-monggoh" jawab bu Ning sambil melambaikan tangan.
                Sepeninggal Bambi, bu Ning kembali merenung, betapa murid yang dulu sering menjadi bahan perbincangan kini sudah menjadi dewasa. Bahkan bu Ning merasa pemikiran Bambi lebih dewasa daripada dirinya. Pengalaman hidup Bambi lebih banyak daripada dirinya. Bukan hanya itu, kalau saja Bambi tidak menyebut namanya, bu Ning menduga usia Bambi di atas usia dirinya.
                Bu Ning jadi ingat sebuah nasehat kepada guru, yang entah siapa yang mengatakan atau menuliskannya. "Apabila dirimu mendapati muridmu berperilaku buruk janganlah engkau berkeluh kesah. Teruslah didik dia dengan penuh kesabaran. Karena bisa jadi tangan merekalah yang kelak akan menarikmu menuju surga".

Kamis, 14 Maret 2019

Menjadi Petani itu Keren



Pertanian adalah bidang yang sangat krusial bagi keberlangsungan masyarakat. Hasil pertanian yang selama ini menopang kebutuhan masyarakat akan pangan. Akan tetapi minat generasi muda terhadap usaha di bidang agraris tersebut masih sangat rendah. Generasi muda menganggap bahwa menjadi petani adalah profesi yang tidak prospektif dan kurang bergengsi.
            Rendahnya minat pada dunia pertanian terjadi pula di SMA Negeri 1 Mirit. "Males jadi petani, panas dan rekoso" kata Agung Firman dari kelas XII IPS 1. Menurut Dinda dari kelas XII IPS 2 dunia pertanian sulit diprediksi hasilnya karena sangat tergantung pada musim. Sedangkan Devina dari kelas XII IPS 2 kurang tertarik dengan pertanian karena penghasilan petani sedikit. "Pekerjaan petani penuh lumpur dan kotor" imbuh Devina.
            SMA Mirit sebagai sekolah yang berkomitmen menyiapkan peserta didiknya untuk melanjutkan kuliah maupun terjun langsung ke dunia kerja berupaya untuk memperkenalkan pertanian modern. Sekolah tersebut bekerja sama dengan Dinas Pertanian kecamatan Mirit. Beberapa kali, siswa diajak terjun langsung mengoperasikan alat pertanian canggih.
            Baru-baru ini siswa dilatih untuk membuat bedengan dengan menggunakan mesin traktor canggih. Pada kesempatan tersebut, Ketua Kelompok Tani Karang Rejo desa Mirit Petikusan, Aris Akhwandi melatih siswa cara mengaduk tanah, pupuk kandang dan pupuk npk-kcl. Dengan antusias siswa mengikutinya.
            Ke depan pertanian modern bukan hanya penggunaan teknologi canggih dalam pengolahan lahan. Saat ini sudah ada beberapa negara yang memanfaatkan teknologi untuk membuat indoor farm. Pertanian dapat dilakukan pada gedung-gedung tinggi dengan sentuhan teknologi yang serba canggih.
Model pertanian ini tidak lagi bergantung pada alam karena teknologi dapat mengatasi hambatan cuaca (climate change). Hasil indoor farming pun tidak kalah hebat dengan pertanian konvensional. Indoor farming menghapus stigma petani yang harus bekerja berpanas-panasan di bawah terik matahari dengan dipenuhi lumpur yang kotor. Menjadi seorang petani dengan penampilan yang keren dengan hasil yang menjanjikan.

HIDUPKAN KELAS SOSIOLOGI DENGAN TSTS




Banyak siswa yang menganggap ilmu sosial adalah pelajaran hafalan. Termasuk di dalamnya pelajaran Sosiologi. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meskipun ada beberapa konsep yang perlu dihafal untuk dapat memahami realitas sosial sebagai obyek kajiannya.
          Ditambah lagi metode pembelajaran yang monoton menyebabkan timbul kejenuhan pada siswa. Banyak siswa menunjukkan kebosanannya dengan berbicara di luar topik pelajaran dengan teman sebelah, meletakkan kepala di atas meja, mengantuk di dalam kelas dan sering ijin meninggalkan ruang kelas untuk ke kamar kecil, koperasi atau kantin.
          Mengatasi hat tersebut, model pembelajaran TSTS (Two Stay Two Stray) dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Keaktifan dalam pembelajaran bukan hanya dapat mengusir kebosanan siswa melainkan karena terlibat aktif dalam pembelajaran maka prestasi siswa pun akan meningkat.
          Model TSTS ini merupakan pengembangan dari  tipe jigsaw (tim ahli). Kegiatan dimulai dengan pembentukan kelompok yang masing-masing terdiri antara 4 hingga 5 siswa secara heterogen. Masing-masing kelompok mendapatkan tugas untuk mengkaji pokok bahasan tertentu. Hasil diskusi kelompok disampaikan pada kelompok lain dengan cara kunjungan rumah. Dua anggota kelompok berperan sebagai tamu dan dua atau tiga anggota yang lain berperan sebagai tuan rumah. Tamu bertugas untuk mengunjungi rumah-rumah kelompok lain untuk mendapatkan informasi hasil diskusi dari kelompok lain. Sedangkan anggota kelompok yang berperan sebagai tuan rumah bertugas mempresentasikan hasil diskusi kepada tamu-tamu yang datang. Apabila seluruh rumah telah dikunjungi maka siswa yang berperan sebagai tamu akan menyampaikan hasil kunjungannya kepada anggota kelompoknya yang menjadi tuan rumah. Sehingga seluruh siswa dalam satu kelas mendapatkan hasil diskusi dari semua kelompok di kelas.
          Meskipun TSTS dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran tetapi membutuhkan persiapan yang matang. Karena terkadang kondisi kelas menjadi sulit dikendalikan bahkan terkesan gaduh. Meskipun kegaduhan tersebut indikator dari kelas yang hidup.

          Model TSTS pun dapat dikombinasikan dengan produk karya siswa. Seperti dalam pembahasan keragaman masyarakat Indonesia, model TSTS dapat dilakukan dengan memberikan proyek membuat miniatur suku bangsa. Presentasi tiap kelompok menjadi lebih menarik. Melalui miniatur siswa mendapatkan gambaran nyata tentang realitas adanya keragaman dalam masyarakat sehingga diharapkan muncul toleransi terhadap perbedaan dalam masyarakat multikultural.

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...