Kamis, 22 Agustus 2019

TIPS MENULIS


Yang mau membaca, siap-siaplah kecewa.
               
"Isi paketnya apa, Mba?" tanya pak Pos sambil tangannya meloncat-loncat di atas keyboard komputernya. Matanya serius memperhatikan layar komputer di depannya.
                "Buku, Pak." jawabku singkat.
                "Mba, penulis ya?" tanyanya lagi. Mungkin Pak Pos masih ingat kemarin kukirim paket berisi buku untuk sahabat lama di Grobogan.
                "Iya, masih belajar." kataku.
                "Penulis itu biasanya kreatif. Punya banyak ide yang cemerlang." kata Pak Pos yang mengenakan batik kemerahan itu melanjutkan. Masih dengan mengetikkan sesuatu. Mungkin alamat tujuan paketku hari itu. Empat buku siap meluncur ke kota kenangan, Sragentina. Nama gaul dari kota Sukowati, Sragen.
                Kata-kata Pak Pos masih menggangguku. Ide memang sangat diperlukan dalam menulis. Terlebih ide yang cemerlang. Tapi, sering kali ide cemerlang saja tidak cukup. Butuh keberanian untuk memulai menulis. Keberanian lahir karena kemauan yang kuat. Ide yang cemerlang saja tanpa kemauan untuk menulis takkan jadi sebuah tulisan. Menguap seperti air yang dididihkan hingga 100 derajat. Eh, berapa derajat ya. Lupa dengan pelajaran Fisika di SMP dulu.
                Ada yang mengatakan menulis itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki bakat menulis. Tanpa itu, mau menulis seperti apa pun akan sulit. Setidaknya tulisan akan menjadi kering tanpa bakat dari penulisnya.
                Apa benar ya? Aku sendiri tidak memiliki ide cemerlang dalam menulis. Ideku biasa-biasa saja. Tapi, tetap saja kutulis. Bahkan ketika aku tahu tidak akan ada orang yang akan membaca tulisanku. Biarlah, kubaca sendiri nanti.
                Apalagi kalau berbicara tentang bakat. Aku tidak tahu, apakah bakat menulis aku miliki. Bahkan aku baru belajar menulis beberapa bulan lalu. Lho, bukannya sejak SD sudah diajari menulis? Iya, maksudku menulis naskah untuk dipublikasikan. Seperti buku, essay, penelitian atau apa lah.
                Lalu apa yang kupunya sebagai modal penulis. Hah, penulis? Sepertinya gelar itu belum pantas kusandang. Mengingat minimnya naskah tulisan yang kuhasilkan. Untuk menulis aku hanya punya kerjakeras. Berfikir ketika orang lain bersantai. Terjaga di saat orang lain tertidur. Karena bagiku menulis bukan pekerjaan ringan. Butuh kejernihan berfikir. Konsentrasi tingkat tinggi. Bahkan, perasaan (mood. Selebihnya? Ya, nulis saja. Apa yang ada di kepala tuangkan. Sudah. Apa pun hasilnya.

Ruang Kelas XII IS, Jumat, 23 Agustus 2019, sambil mengawasi Penilaian Harian 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...