Rabu, 13 Oktober 2021

Yu Marsiem*

 

Selasa pagi di sebuah sekolah. Matahari mulai meninggi saat apel dimulai. Hanya diikuti beberapa orang. Bahkan akhir-akhir ini pesertanya semakin berkurang.

            Dari teras sepasang mata mengawasi aktivitas pagi itu. Sesekali kepalanya menunduk. Tangannya mengayunkan sapu. Membersihkan lantai yang tidak kotor. Pakaiannya nampak lusuh.Sehelai selendang membalut kepalanya. Ujung rambutnya menjuntai keluar menutup sebagian wajahnya. Sepasang sandal jepit beda warna dengan ikatan tali rafia melindungi kedua kakinya.



            "Lama nda kelihatan, Yu Marsiem." sapa seorang guru bertubuh atletis mengenakan peluit di lehernya.

            Perempuan yang dipanggil Yu Marsiem hanya melempar senyum. Merapatkan tubuhnya ke tembok. Memberi jalan pada pria yang nampak terburu-buru menuju lapangan basket. Segera bergabung dengan mereka yang sudah berbaris rapi dengan jarak yang renggang. Tidak ada lima belas menit mendengarkan pengarahan segera barisan dibubarkan. Sebagian bergegas kembali ke ruang guru. Mulai menyapa murid di dunia maya. Sebagian yang lain masih tinggal di lapangan basket. Berswafoto sambil menikmati hangatnya sang surya.

            Yu Marsiem masih tekun menyapu lantai. Dari teras guru berpindah ke lobi menuju teras ruang TU. Kemudian tanpa rasa sungkan masuk ke ruang guru. Membersihkan debu di sela-sela meja. Beberapa orang guru terlihat tidak peduli. Pembelajaran online membuat matanya fokus pada layar laptop di depannya. Sebagian guru yang lain nampak tersenyum melihat polah Yu Marsiem.

            "Harusnya Yu Marsiem dapat SK tuh." seloroh guru muda yang duduk di deretan belakang. "Kinerjanya sangat bagus." lanjutnya sambil jari jempolnya masih menari-nari di atas layar android. Candanya disambut gelak tawa temannya.

            Mendengar namanya disebut Yu Marsiem hanya tersenyum. Sapunya merogoh kolong meja. Mengambil bekas tisu yang jatuh di sela-selanya.

            Yu Marsiem memang selalu rajin menyapu sekolah. Entah sejak kapan. Mungkin sejak sekolah itu berdiri. Puluhan tahun lalu. Kadang tiba-tiba muncul. Kadang menghilang.

            Bahkan di saat seperti ini. Ketika tidak sembarang orang bisa masuk ke lingkungan sekolah. Perempuan itu dengan mudah menyelinap. Jika gerbang depan dijaga satpam. Pintu belakang dekat lapangan jadi jalannya.

            Yu Marsiem pun sangat santun. Setiap disodori makanan dia selalu menolak dengan senyum khasnya. "Mboten." katanya singkat. Tapi, saat diberi uang dia akan menerima. Yu Marsiem akan menganggapnya sebagai hutang. Berapa pun itu. Sepuluh ribu. Atau dua puluh ribu. Esoknya dia akan datang lagi untuk membayar hutang. Perlu sedikit paksaan halus agar Yu Marsiem mau menerima uang itu sebagai pemberian.

            Lebih dari setengah tahun Yu Marsiem tidak muncul. Tidak ada yang tahu mengapa perempuan tukang sapu itu tidak menampakkan batang hidungnya.

            "WFH kali." ujar guru yang dikenal suka humor. Bahkan kadang candanya kelewat batas. Meski begitu temannya tidak ada yang sakti hati dengan guyonannya.

            Yu Marsiem benar-benar tidak muncul. Kesibukan guru-guru di akhir semester membuat mereka tidak lagi mengingat perempuan sebatang kara itu. Hingga suatu sore sebuah pesan di grup WhatsApp mengagetkan anggota grup.

            "Innalilahi wa innailaihi rojiun. Telah meninggal dunia Ibu Marsiem. Sesuai anjuran pemerintah dimakamkan secara prokes."

            Dalam hitungan detik postingan itu menuai komentar. Ungkapan belasungkawa mengalir entah ditujukan pada siapa. Berita meninggalnya Yu Marsiem seolah ikut meramaikan berita duka yang akhir-akhir ini bertaburan di media sosial.


Profil Penulis


Faidah Setyaningsih  mengajar Sosiologi di SMA Negeri 1 Mirit, Kebumen, Jawa Tengah.

Beberapa artikelnya dimuat di surat kabar Jateng Pos dan majalah Derap Guru PGRI Jateng. Buku antologi yang memuat tulisannya di antaranya: Guru Mulia Karena Karya, Indonesia Is We, Filosofi Akar: Menggali 1001 Tradisi Lebaran di Nusantara, Dari Film Pendek Hingga Pandai Sikek, PPDB Zonasi: Dilema Pendidikan Indonesia, dan Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

Buku kumpulan cerpen yang baru saja terbit berjudul Mengejar Mimpi di Bumi Sukowati.


*Cerpen ini dimuat di Majalah Derap Guru Jateng Edisi 261 Th. XXI I Oktober 2021




Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...