Rabu, 31 Juli 2019

CIE CIE.. CURHAT YA…



Menjadi guru itu pekerjaannya seabrek. Dari akting di depan kelas. Bikin skenario pembelajaran. Sampai menyiapkan properti untuk mendukung kelancaran pembelajaran. Kapan ada waktu untuk menulis?
                Itu alasan yang pernah kusampaikan pada sahabatku Desi dan Dewi ketika menawari untuk menulis buku beberapa tahun lalu.
                Alasan semakin kuperkuat dengan hadirnya anak kedua. Dua balita dalam satu rumah. Jangan tanya seberapa repotnya menjadi wanita karir sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Dua krucil yang tidak ada diamnya kecuali saat tidur. Hanya yang pernah menjalani yang tahu rasanya.
                Tapi ternyata menulis itu seperti jantung dalam tubuh kita. Jangan tanyakan kapan jantung harus berdetak. Karena berhentinya detak jantung berarti kematian.
                Kata seorang teman yang tidak pernah kuketahui siapa dia. Mencari-cari alasan untuk tidak menulis karena padatnya kesibukan sama halnya dengan menganggap bahwa menulis adalah pekerjaan para pengangguran. Teganya!
                Menulis jelas-jelas bukan pekerjaan pengangguran. Karena orang yang mengatakan sulit menulis karena tidak ada waktu belum tentu dia mau menulis ketika memiliki waktu senggang.
                Menulis butuh kerja keras. Di sela-sela kesibukan yang menyita waktu, dia curi waktu untuk menulis. Di antara rasa lelah yang mendera dia berusaha berfikir jernih. Karena tulisan tidak lahir dari keramaian.
                Tulisan hanya dapat keluar dari pikiran yang jernih. Hati yang tenang. Di saat dunia terlelap saat itulah ide-ide bermunculan. Di saat orang-orang tertidur, di saat itulah jemari menari di atas keyboard.
                Menulis memang mengurangi jam istirahat. Pasti. Tapi akan ada rasa puas setelah berhasil menulis. Akan melayang-layang di kepala saat ide belum dituliskan. Apa pun wujudnya, menulislah..  

Dari TAWANGMANGU hingga FINLANDIA


Tawangmangu. Terakhir mengunjunginya, lebih dari tiga tahun lalu. Ketika memperingati hari ibu yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan SMA Gondang. Dharma Wanita yang paling aktif di antara sekolah2 yang pernah kukunjungi.
                Tempat wisata di kabupaten Karanganyar ini menyajikan panorama pegunungan yang memukau. Hawa dingin menyusup hingga ke tulang. Air di kamar mandi pun serasa bongkahan es batu.
                Keragaman hayati nampak segar berembun. Meski tanpa siraman. Aneka warna bebungaan mekar memikat mata yang memandang. Jeruk baby tertata rapi menggiurkan.
                Naluri ibu-ibu langsung kesengsem pada aneka tanaman hias. Memborong dan membawa pulang ke Gondang. Berharap lingkungan rumah akan seasri Tawangmangu. Tak ketinggalan tanaman strowbery pun diangkutnya. Meskipun masih kecil sudah memiliki buah yang ranum.
                Tapi sayang, suhu di Gondang tidak seperti di Tawangmangu. Entah berapa derajat. Yang jelas, tak kan bisa tidur kalau belum menyalakan kipas angin sepanjang malam. Baru jam 8 pagi hawanya pengin neguk es teh.
                Tanaman yang dibawa dari Tawangmangu pun melemah. Beberapa hari kemudian layu dan mati. Padahal rutin disiram setiap hari. Disayang dan ditengok setiap saat.
                Tanaman punya habitatnya sendiri. Memaksanya untuk dapat tumbuh dengan baik di sembarang tempat adalah sebuah kemustahilan. Ia akan tumbuh subur pada tanah dan iklim yang sesuai.
                Sama seperti sistem pendidikan. Ia hanya akan berhasil pada tempat yang sesuai. Memindahkan sistem pendidikan dari satu negara ke negara yang lain tidak akan menghasilkan kualitas pendidikan yang sama.
                Bagi Korea Selatan jam belajar hingga 16 jam per hari dianggap kunci kesuksesannya di bidang pendidikan. Bahkan dengan jam belajar tersebut siswa masih wajib mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Ditambah dengan guru yang otoriter. Kebayang betapa stres menjadi siswa di Korea Selatan.
                Lain halnya dengan Finlandia yang sempat mengagetkan dunia karena siswanya yang berusia 15 tahun berhasil mencetak skor tertinggi pada PISA 2001. Di sini kualitas pembelajaran lebih diutamakan daripada panjangnya waktu belajar. Jam belajar yang pendek dinilai sebagai salah satu rahasia kegemilangan pendidikan di negara yang mungil ini. Jangan lupa bahagia, katanya.
                Sedangkan Jepang, mendahulukan pembentukan sikap sebelum mengajari siswa dengan pengetahuan. Di sana les sepulang sekolah masih sangat populer.
                Semua memiliki keunikan masing-masing. Sesuai dengan karakter masyarakat dan kondisi lingkungannya.
                Lalu apa yang bisa diadopsi oleh Indonesia? Tidak ada!
                Karena Indonesia tidak sama dengan negara-negara itu semua. Luasnya wilayah. Masyarakat Indonesia yang multikultural. Bentuk Indonesia yang berkepulauan. Dan lingkungan alam Indonesia yang khas.
                Profesor Erno Lehtinen, guru besar pendidikan dari Universitas Turku Finlandia saat ditanya tentang apa yang bisa ditransfer untuk Indonesia dari sistem pendidikan di Finlandia. Dirinya menjawab, "Tak ada yang kami bisa transfer, negara Anda harus mentransformasi sendiri."

Senin, 22 Juli 2019

Who am I, Bikin Sosiologi Makin Seru


Banyak peserta didik yang menganggap bahwa ilmu sosial adalah pelajaran hafalan. Termasuk dalam pelajaran Sosiologi di tingkat SMA. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meskipun ada beberapa konsep yang perlu dihafal untuk dapat memahami realitas sosial sebagai obyek kajiannya.
                Metode pembelajaran yang cenderung monoton juga menjadi penyebab timbulnya kejenuhan pada peserta didik. Peserta didik yang aktif menunjukkan kebosanannya dengan berbicara di luar topik pelajaran dengan teman sebelahnya sehingga suasana kelas menjadi gaduh dan kurang kondusif. Sedangkan peserta didik yang pasif atau pendiam meletakkan kepala di atas meja, mengantuk di dalam kelas bahkan sampai tertidur dan sering ijin meninggalkan ruang kelas untuk ke 'belakang'.
                Berdasarkan permasalahan tersebut, pada materi Kelompok Sosial guru menerapkan metode pembelajaran dalam bentuk permainan 'Who am I' atau 'siapakah aku?'.  Penerapan metode tersebut diharapkan keaktifan peserta didik tersalurkan demi pencapaian kompetensi pembelajaran. Bagi peserta didik yang cenderung pasif dapat untuk meningkatkan aktivitas belajar dan pada akhirnya meningkatkan ketercapaian kompetensi pembelajaran.
                Pembelajaran pada kelas XI semester 1 ini diawali dengan penugasan peserta didik pada pertemuan sebelumnya untuk mempelajari materi Kelompok Sosial melalui berbagai sumber baik buku maupun internet.
                Pada kegiatan pembelajaran berikutnya guru membagi undian yang berisi nama-nama kelompok sosial. Setiap peserta didik mendapatkan satu undian. Setelah mengetahui isi undian guru meminta peserta didik untuk menemukan pasangan yang memiliki nama kelompok sosial dengan sudut pandang yang sama. Misalnya, dilihat dari pembagian kerja maka kelompok solideritas mekanik harus menemukan pasangan yaitu solideritas organik. Demikian juga kelompok sosial primer harus menemukan pasangannya yaitu kelompok sekunder. Peserta didik yang lebih dulu menemukan pasangannya diberi pujian dan tepuk tangan sehingga memotivasi peserta didik lain untuk segera menemukan pasangannya.
                Setelah semua peserta didik menemukan pasangan kelompok sosialnya lalu guru meminta peserta didik berdiri melingkar bersebelahan dengan pasangan masing-masing. Kegiatan dapat dilakukan di luar ruangan jika ruang kelas kurang memungkinkan untuk aktivitas peserta didik. Secara berurutan peserta didik memperkenalkan diri dengan nama kelompok sosialnya.
                Setelah semua peserta didik memperkenalkan dirinya, selanjutnya peserta didik mengenal nama kelompok sosial yang lain secara bergilir dengan memberikan setangkai bunga (atau bisa dengan benda yang lain). Peserta didik menyebutkan nama kelompok sosialnya, teman di sebelah kiri dan kanannya. Misalnya dengan mengatakan "Saya adalah kelompok sosial formal, saya menerima setangkai bunga ini dari kelompok sosial primer dan sekunder, saya akan memberikan setangkai bunga ini pada kelompok sosial informal."
                Langkah selanjutnya, peserta didik berdiskusi bersama pasangan mempelajari kelompok sosialnya dari aspek pengertian, contoh nyata dan dinamika kelompok sosial dalam masyarakat. Diskusi dapat melatih peserta didik bekerja sama secara kolaboratif. Hasil diskusi dituliskan pada buku masing-masing. Lalu hasil diskusi dipresentasikan tanpa menggunakan teks. Peserta didik lain bersama guru menanggapi dengan memberikan pertanyaan dan saran pada kelompok yang presentasi. Kegiatan presentasi menumbuhkan rasa percaya diri, terbuka dan toleransi terhadap perbedaan. Kegiatan perbelajaran yang berlangsung 2 jam pelajaran diakhiri dengan penugasan mandiri untuk membuat ringkasan hasil presentasi.
                Pada pertemuan selanjutnya, guru melakukan evaluasi dengan kuis tebak kata. Kegiatan ini dilakukan secara berpasangan. Peserta didik pertama berdiri menghadap layar dan bertugas untuk mengarahkan jawaban. Sedangkan peserta didik kedua berdiri membelakangi layar dan bertugas menebak kata yang muncul di layar berdasarkan arahan dari peserta didik pertama. Tiap pasangan mendapatkan waktu lima menit untuk menebak 10 kata. Setelah waktu 2,5 menit peserta didik yang sudah mengarahkan berganti peran untuk menebak kata yang berada di layar.
                Dalam proses penilaian, guru dapat meminta bantuan peserta didik lain untuk mengontrol jumlah jawaban benar dan salah. Karena kuis berlangsung cepat sehingga terkadang sulit untuk mengecek jawaban peserta didik. Pedoman penskoran telah ditentukan yaitu tebakan benar mendapat skor 10. Peserta didik yang menjawab tetapi salah mendapatkan skor 2. Sedangkan peserta didik yang tidak menjawab mendapatkan skor 0. Kuis dimainkan secara bergantian hingga semua peserta didik mendapatkan nilai.
                Penggunaan metode permainan 'Who am I' dalam pembelajaran Sosiologi dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas peserta didik pada kelas yang cenderung pasif. Tetapi membutuhkan persiapan yang matang. Karena terkadang kondisi kelas menjadi sulit dikendalikan bahkan terkesan gaduh. Meskipun 'kegaduhan' tersebut indikator dari kelas yang hidup.
                Untuk itu sebelum kegiatan pembelajaran perlu disampaikan kepada peserta didik aturan permainan secara jelas. Jangan sampai, ketika permainan sudah dimulai tetapi terdapat peserta didik yang kurang memahaminya. Akibatnya, kegiatan pembelajaran menjadi terhambat.

Rabu, 03 Juli 2019

JANJI YANG TERTUNDA

Dini hari kami berangkat. Melawan dingin. Menembus kabut. Jarak pandang hanya beberapa meter saja. Beruntung jalanan masih lengang. Hanya beberapa pengendara yang terlihat melintas. Mungkin pedagang yang berangkat ke pasar.
                Shalat subuh kami tunaikan di perjalanan. Masjid Aisyah Loano Purworejo. Sengaja kami pilih masjid di kiri jalan tersebut untuk mempermudah parkir. Suasana sudah sepi. Jamaah sudah pulang ke rumah masing-masing memulai aktivitas pagi. Hanya ada satu rombongan musafir yang singgah. Sebuah mobil dengan plat B.
                Perjalanan selanjutnya sempat terhambat oleh kemacetan. Terjadi kecelakaan sebelum masuk di kabupaten Semarang. Entah bagaimana kronologisnya kami tidak tahu. Sisa-sisa peristiwanya pun sudah tidak nampak. Hanya beberapa orang yang terlihat berkerumun.
                Setelah lima jam menikmati perjalanan, sampailah kami di Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia (BPSDM) Daerah Provinsi Jawa Tengah. Beralamat di jalan Setiabudi No 201 A Semarang. Di halaman aula nampak beberapa orang berseragam korpri duduk-duduk sambil menikmati snack. Keluar dari tempat parkir, mereka yang tadi nampak duduk santai sudah menghilang.
                "Ayo cepat, Pak!" seru seorang ibu yang berjaga di tempat registrasi.
                Dua rekan yang berangkat bersama dari Kebumen berlari menuju meja yang tersedia di depan aula. Kuikuti berlari-lari kecil di belakangnya. Duh, jan, wong tuo meh pensiun kok dikerjani..
                Tergesa-gesa kami mencari nama di daftar hadir.
                "Nomer urut berapa, Bu?" tanya pegawai BKD, seorang laki-laki yang masih muda.
                "Waduh, nda tau je" jawabku sambil masih mencermati daftar hadir.
                "Atas nama siapa?" pegawai junior itu kembali bertanya.
                Dia mencoba mencarikan nama kami bertiga.
                "Yang sudah absen silakan sekalian ambil konsumsi" seru ibu-ibu yang tadi meneriaki kami.
                Kami lari ke arah kardus yang ditata di dekat meja. Kuangkat tali pengikat kardus. "Kok berat ya?" pikirku. Temanku pun sama. Mengangkat tali yang ada di kardus.
                "Ambil satu saja, Pak!" teriak bapak-bapak mengagetkan, mungkin pegawai BKD juga.
                "Oooo, iya, maaf!"
                Ternyata kami mau mengambil lima kardus yang terikat menjadi satu. Ampun, sungguh, kami tidak bermaksud mengambil jatah lima porsi. Meskipun lapar, kami tahu diri.
                Kami langsung lari menuju aula sambil menenteng kardus snack. Di sana peserta lain sudah berbaris rapi. Siap mengikuti upacara Pengambilan Sumpah/Janji PNS di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tahun 2019.
                "Lho, kok bapak-bapak semua?" batinku sambil mengamati sekeliling.
                "Ibu-ibu di sebelah sama, Bu" kata seorang bapak yang berbaris di belakang sambil menunjuk ke arah kiri depan. Sepertinya dia tahu kebingunganku.
                "Maaf, permisi"
                Aku langsung menyusup di sela-sela barisan menuju komunitasku, sesama kaum hawa.
                Upacara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Diikuti pengucapan sumpah dan janji PNS yang dipimpin oleh rohaniawan.
                Dalam sambutannya, kepala BKD Provinsi Jawa Tengah berpesan kepada 380 Aparatur Sipil Negara (ASN) agar sumpah dan janji yang baru saja dilaksanakan jangan dijadikan sebagai beban, justru seharusnya sebagai wujud syukur kepada karunia Tuhan.
                Dalam UU No 5 tahun 2014 disebutkan bahwa calon PNS wajib diambil sumpah dan janjinya. Wah, telat hampir sembilan tahun. Peserta yang lain malah lebih lama. Bahkan ada yang hampir pensiun baru diambil sumpah/janji PNSnya.
                "Sebenarnya sudah pernah diambil sumpah/janji", kata seorang teman, "cuma tidak bisa menunjukkan bukti."
                Gubernur Jawa Tengah melalui sambutan yang dibacakan kepala BKD berharap PNS dapat sebagai abdi negara yang melayani masyarakat. Siap membela bangsa dan negara serta melindungi UUD 1945 dan Pancasila. Ganjar ingin ASN di lingkungan provinsi Jawa Tengah memiliki integritas, bekerja dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Disiplin dalam menjalankan setiap tugas negara yang diembannya.
                Di penghujung acara dinyanyikan lagu Bagimu Negeri. Peserta menyanyikan dengan sepenuh jiwa. Suara hampir tak terdengar terkalahkan oleh suasana haru yang mendalam.
                Selesai upacara dan menandatangani berita acara kami langsung 'ngacir' pulang. Sengaja kami lewat jalan yang berbeda. Konon, melewati jalan yang berbeda dapat mengasah kecerdasan otak.
                Kami tidak mampir ke mana-mana. Hanya ke satu tempat. Rumah Makan Condong Raos di kecamatan Jambu Semarang. Ini tempat favorit rekan kami yang mondar-mandir ke Semarang. Seorang bendahara sekolah. Dia orang yang selalu membuat hatiku berdebar lebih cepat dari biasanya. Dipanggil olehnya saja sudah membuat hati berbunga-bunga. Dia sedikit bicara. Tigabelasan, Bu! Empatbelasan, Bu! Bahkan mungkin sebentar lagi limabelasan, Bu! Singkat, padat dan jelas.
                Langsung kusambar piring di meja prasmanan. Kuambil nasi satu centhong. Bahkan tidak penuh. Sungguh! Kupandangi lauk dan sayur yang berjejer di panci persegi. Entah berapa wadah. Mungkin sampai duapuluhan. Mencicipi semuanya tentu tidak mungkin. Kuambil sayur kaprok lembayung (daun kacang panjang), lodeh jantung (kembang gedang/bunga pisang) dan telur ceplok balado. Menu ndeso yang cocok untuk orang kampung sepertiku.
                Segera aku bergabung dengan dua rekan yang khusyuk di pojok ruangan. Mereka sudah curi start dengan lahapnya. Tidak mau ketinggalan, segera kukejar. Otak memerintahkan sendok dan garpu menjalankan tugasnya. Hmmm, mancapppp di lidah! Sejak pagi belum sarapan membuat makanan yang enak terasa semakin nikmat. Ternyata anjuran Rasulullah untuk makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang benar adanya.

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...