Cangkir hanya mengeluarkan apa yang menjadi isinya. Jika ia
berisi madu maka madu yang akan keluar dari dalamnya. Demikian juga jika berisi
racun maka racun pula yang akan ditumpahkan. Begitu perumpamaan seseorang
dengan hatinya.
Hari
itu aku mengawasi ujian dengan pak guru agama di sekolah tempat bertugas.
Beliau orang yang tegas sekaligus lembut. Meskipun terkesan banyak diam tetapi
ketika berbicara, hanya kata-kata yang penuh makna yang keluar dari bibirnya.
Hampir
dua jam di ruang 5 kami banyak berbincang tentang pendidikan karakter.
Menurutnya, saat ini pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk membentuk
generasi yang siap menghadapi era industri 4.0. Prestasi akademik yang selama
ini banyak ďikejar oleh sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan ternyata
akan sulit terwujud jika karakter peserta didik belum terbentuk. Sebaliknya
karakter yang telah terbentuk dengan baik akan sangat mudah untuk diarahkan
pada prestasi-prestasi yang lain. Beruntung sekolah yang telah memiliki input
peserta didik yang berkarakter. Tetapi untuk sekolah pinggiran kebanyakan karakter
peserta didik masih membutuhkan perhatian yang serius.
Tetapi,
membentuk karakter peserta didik bukanlah perkara yang mudah. Meskipun pendidikan
karakter (pendikar) merupakan program pemerintah yang terintegrasi dalam
kurtilas, dalam implementasinya masih jauh api dr panggang. Apalagi pada
sekolah negeri seringkali masih melaksanakan sesuai tuntutan standar minimal dari
pusat.
"Pimpinan
punya peran penting dalam membentuk karakter sebuah lembaga pendidikan"
kata guru yang berperawakan langsing tersebut. Pimpinan punya kewenangan untuk
mengajak bahkan memaksa agar tindakan sesuai dengan aturan. Pimpinan harus
fokus pada satu program dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh. "Stop berwacana,
saatnya bekerja tuntas."
Dalam perbincangan
tersebut, pak guru agama juga menyampaikan rasa salut pada STIKES Surya Global
yang beberapa waktu lalu dikunjunginya. Menurutnya lembaga pendidikn yang berada
di Yogyakarta tersebut layak dijadikan rujukan dalam pembentukan karakter.
STIKES Surga berangkat dari sekolah umum yang dipimpin oleh seseorang yg memiliki
pemahaman agama yang baik. Hingga akhirnya dapat terbentuk pesantren. Dengan
slogan "profesiku adalah jalan dakwahku" STIKES Surga mampu membentuk
karakter mahasiswa lebih islami.
Di
akhir obrolan, pak guru agama berpendapat bahwa pembentukan karakter membutuhkan
pembiasaan. Untuk ukuran peserta didik apabila kebiasaan baik belum terbentuk maka
proses pemaksaan dapat ditempuh. "Kebaikan kadang memang perlu
dipaksakan" katanya. Selain itu, butuh komitmen kuat dari smua elemen di sekolah
untuk menjadi teladan yang baik. "Ingat, tujuan memberi teladan jangan sampai
berubah menjadi rasa ingin diakui oleh orang lain atau pamer" pungkasnya.
