Sosiologi merupakan mata pelajaran wajib pada jurusan IPS.
Seperti halnya mata pelajaran pada jurusan IPS yang lain yaitu sejarah, ekonomi
dan geografi, peserta didik sering menganggap pelajaran yang mengkaji tentang
gejala sosial tersebut sebagai pelajaran yang penuh dengan hafalan. Meskipun
sebenarnya ada beberapa konsep yang memang harus dihafal untuk lebih memahami
realitas sosial. Tetapi, hafalan tersebut bukan hanya berlaku untuk ilmu
sosial, melainkan untuk semua ilmu.
Anggapan
peserta didik tersebut menyebabkan rendahnya minat mereka terhadap mata
pelajaran Sosiologi. Apalagi dengan model pembelajaran yang monoton dan kurang
menarik, Sosiologi yang sebenarnya merupakan mata pelajaran yang asyik karena
mengkaji sesuatu yang sangat dekat dengan peserta didik menjadi hal yang kurang
diminati.
Menemukan
solusi atas permasalahan tersebut wajib hukumnya. Mengembalikan semangat
peserta didik yang hilang harus segera dilakukan. Mengubah metode pembelajaran
adalah sebuah langkah yang ditempuh oleh guru. Dengan niat tulus untuk
menghidupkan kembali kelas Sosiologi yang serasa mati.
![]() |
| Puzzle Tokoh Sosiologi Dunia |
Pada
pembelajaran kelas X semester 1 dalam materi Perkembangan Sosiologi di Dunia,
guru menggunakan model kooperatif
dengan media pembelajaran puzzle
untuk meningkatkan aktivitas peserta didik. Guru membuat sendiri media
pembelajaran tersebut dengan memanfaatkan kertas bufalo dari bekas cover yang
sudah tidak terpakai. Mencoba menerapkan prinsip recycle dalam konsep sekolah adiwiyata.
Pembuatan
media ini dimulai dengan mencetak foto atau gambar tokoh Sosiologi yang
berperan dalam perkembangan Sosiologi di dunia. Ada sekitar sepuluh tokoh
penting yang memberikan sumbangan pemikiran dalam masa awal lahirnya Sosiologi.
Foto-foto tersebut kemudian digunting menjadi dua belas bagian dengan bentuk yang
bervariasi sehingga membentuk puzzle. Semakin
banyak potongan maka puzzle semakin
rumit dan membutuhkan waktu lama dalam penyelesaiannya.
Dalam
kegiatan pembelajaran, peserta didik dibagi ke dalam kelompok yang anggotanya
terdiri atas 3 sampai 4 orang, menyesuaikan jumlah peserta didik di kelas.
Kelompok dibuat heterogen dari aspek jenis kelamin dan kemampuan peserta didik.
Dengan demikian akan terjadi kerjasama antar peserta didik dari berbagai latar
belakang. Keragaman pada anggota kelompok tersebut juga sebagai upaya
menumbuhkan toleransi terhadap perbedaan.
Setiap
kelompok mendelegasikan dua anggota kelompoknya untuk menyelesaikan puzzle yang telah disediakan oleh guru
di depan kelas. Guru memberi batasan waktu penyelesaian tugas tersebut untuk
menumbuhkan kompetisi yang sehat antar kelompok. Tim yang dikirim bekerja sama
menyusun puzzle membentuk wajah tokoh
Sosiologi dengan cepat dan tepat. Tim yang sudah menyelesaikan tugasnya
diperkenankan kembali ke tempat duduk dengan membawa hasil pekerjaannya. Guru
memberi apresiasi kelompok yang dapat menyelesaikan dengan baik tugas untuk
memotivasi sekaligus menyemangati tim yang lain untuk segera menyelesaikan
pekerjaannya.
Setelah
puzzle membentuk wajah tokoh
Sosiologi, setiap kelompok bekerjasama untuk menemukan tokoh yang nampak pada gambar.
Nama tokoh-tokoh tersebut dituliskan pada papan tulis sehingga mendorong
peserta didik untuk segera menemukan nama tokoh dengan mencari pada buku atau
internet.
Langkah
berikutnya, setiap kelompok melalui kegiatan diskusi bertugas untuk mempelajari
biografi beserta sumbangan tokoh Sosiologi yang telah ditemukannya. Sumber
belajar dapat diperoleh dari buku maupun internet. Guru melakukan bimbingan pada
setiap kelompok agar hasil diskusi fokus pada pencapaian kompetensi. Guru juga
melakukan penilaian otentik dalam kegiatan diskusi tersebut. Hasil diskusi dituliskan pada buku.
Selanjutnya dipresentasikan di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dari peserta
didik lain. Presentasi tidak diperkenankan membawa teks untuk melatih kemampuan
berkomunikasi.
Di
akhir pembelajaran, hasil presentasi dibuat ringkasan hasil presentasi sehingga
semua peserta didik memiliki hasil dari diskusi kelompok yang lain.
Pembelajaran ini terbukti dapat meningkatkan aktivitas belajar Sosiologi pada
kelas X. Sebagian besar peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran puzzle ini dapat diterapkan bukan
hanya pada mata pelajaran Sosiologi melainkan dapat diaplikasikan pada mata
pelajaran yang lain sesuai dengan topiknya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar