Melihat sebuah buku yang ada hanyalah rasa kagum.
Bagaimana bisa menulis sebanyak itu? Jangankan membuat sebuah buku. Membuat
satu buah paragraf saja sulitnya luar biasa. Itu yang saya rasakan. Ada yang
mengatakan bahwa menulis itu semudah berbicara. Tapi bagi saya, itu tidak
terbukti.
Hingga
suatu ketika, kepala sekolah memberi tugas untuk mengisi web sekolah dengan berita sekolah. Mengetahui kemampuan menulis
yang rendah dan khawatir akan mengecewakan, saya tolak.
"Guru
Bahasa Indonesia saja, Pak, yang pandai menulis" kataku waktu itu.
"Sudah
dibuat saja, nanti kalau sudah jadi tinggal konsultasi dengan guru Bahasa Indonesia"
jawab kepala sekolah dengan tetap bersikukuh dengan pendapatnya.
Berita
pertama yang saya buat tentang kemenangan tim bola volly sekolah dalam turnamen
di tingkat karisidenan. Kata demi kata saya ketik pada netbook kesayangan. Ketik hapus, ketik hapus. Selalu saja ada yang
terasa kurang tepat pada tulisan itu. Jika menggunakan kertas, mungkin tempat
sampah di samping pintu sudah penuh dengan remasan kertas. Berjam-jam di depan
layar monitor tetapi berita belum juga jadi.
Saya
melangkahkan kaki keluar dari laboratorium biologi, tempat di mana saya
menyepi. Berjalan di teras melihat beberapa siswa yang sedang menikmati jam
istirahat. Setelah cukup segar, saya kembali masuk laboratoruim. Saya tekuni
lagi tulisan yang belum jadi. "Harus bisa" batinku menyemangati diri
sendiri.
Tulisan
berisi enam paragraf itu selesai. Sesuai saran kepala sekolah, langsung saya
bawa pada guru senior yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah
membaca sekilas, guru tersebut mengomentari tulisan yang saya buat. Pilihan
kata yang tidak tepat. Struktur kalimat yang tidak lengkap. Kalimat-kalimat
yang kurang tertata. Hampir setengah tulisan saya setelah dikoreksi ternyata
salah.
Dengan
suara keras hingga terdengar seluruh ruangan, guru senior tersebut mengomentari
tulisan saya. Seperti seorang siswa yang sedang dimarahi gurunya, saya hanya
diam sambil memperhatikan coretan-coretan yang dibuat pada selembar kertas
hasil tulisan saya. Sesekali saya meminta saran untuk perbaikan tulisan.
Saya
perbaiki tulisan sesuai masukan dari guru senior tersebut. Setelah selesai
langsung saya posting di web sekolah.
"Sulit juga menulis ya" pikirku. Apalagi jika teringat tulisan yang
dibuat dengan penuh perjuangan ternyata masih salah. Rasanya hilang motivasi
untuk kembali menulis.
Kepala
sekolah meminta agar berita di web
harus diisi setidaknya seminggu sekali. Saya berfikir tentang apa yang bisa
saya tulis untuk berita? Kegiatan sekolah hanya rutinitas kegiatan belajar
mengajar. Tidak ada agenda kegiatan lain di hari efektif. Saya teringat kata
seorang wartawan di suatu surat kabar, berita itu tidak harus menunggu
kegiatan. Peristiwa yang sudah biasa terjadi juga dapat menjadi berita yang
menarik jika kita dapat menuliskannya dari sudut pandang lain yang berbeda.
Metode pembelajaran yang menarik di sekolah pun menjadi objek tulisan saya
untuk mencapai target berita seminggu sekali.
Pada
tulisan berikutnya, saya mengabaikan pesan kepala sekolah untuk konsultasi
dengan guru senior tentang kebenaran tulisan saya. Setiap kali selesai menulis
langsung saya posting. Saya tidak
peduli tulisan saya betul atau salah. Demikian seterusnya.
Kebiasaan
menulis pun akhirnya bukan hanya karena tuntutan tugas dari sekolah. Setiap
kali menyaksikan peristiwa tertentu, gagasan melayang-layang ingin dituliskan.
Terkadang ide datang tidak peduli waktu dan tempat. Saat memasak, saat mengasuh
anak, saat merawat tanaman di kebun, saat mengajar siswa di kelas dan saat
melakukan perjalanan ke tempat baru. Sebelum bisa menuliskan, ide-ide selalu
mengganggu pikiran dan membuat gelisah. Padahal keadaan sedang tidak
memungkinkan untuk membuka laptop. Tetapi setelah berhasil menuliskannya, ada
kepuasan tersendiri.
Semula
tulisan hanya saya simpan saja pada komputer. Tapi kemudian saya coba membuat blog pribadi untuk menampung
tulisan-tulisan yang bukan berita sekolah. Saya termotivasi dengan yang pernah
dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer. "Teruslah menulis meskipun tidak ada
orang yang membacanya" kata Pram.
Ternyata
kemampuan menulis saat ini memang penting. Apalagi bagi seorang guru. Seleksi
Olimpiade Guru Nasional (OGN) harus menuliskan artikel ilmiah, mengikuti diklat
harus mengirimkan essai dan mengikuti workshop dipersyaratkan mengumpulkan
tulisan. Tanpa kemampuan menulis pengembangan profesi guru akan terhambat.
Jadi, mau tidak mau guru harus belajar menulis. Kemampuan menulis dapat
dipertajam dengan terus belajar menulis. Selain itu juga harus diimbangi dengan
budaya literasi untuk memperluas wawasan.
Tulisan ini dimuat dala buku Guru Mulia karena Karya yang diterbitkan oleh MediaGuru
![]() |
| Aqila bersama buku Guru Mulia Karena Karya |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar