Minggu, 04 Agustus 2019

Hati-hati, Menulis itu Candu


Melihat sebuah buku yang ada hanyalah rasa kagum. Bagaimana bisa menulis sebanyak itu? Jangankan membuat sebuah buku. Membuat satu buah paragraf saja sulitnya luar biasa. Itu yang saya rasakan. Ada yang mengatakan bahwa menulis itu semudah berbicara. Tapi bagi saya, itu tidak terbukti.
            Hingga suatu ketika, kepala sekolah memberi tugas untuk mengisi web sekolah dengan berita sekolah. Mengetahui kemampuan menulis yang rendah dan khawatir akan mengecewakan, saya tolak.
            "Guru Bahasa Indonesia saja, Pak, yang pandai menulis" kataku waktu itu.
            "Sudah dibuat saja, nanti kalau sudah jadi tinggal konsultasi dengan guru Bahasa Indonesia" jawab kepala sekolah dengan tetap bersikukuh dengan pendapatnya.
            Berita pertama yang saya buat tentang kemenangan tim bola volly sekolah dalam turnamen di tingkat karisidenan. Kata demi kata saya ketik pada netbook kesayangan. Ketik hapus, ketik hapus. Selalu saja ada yang terasa kurang tepat pada tulisan itu. Jika menggunakan kertas, mungkin tempat sampah di samping pintu sudah penuh dengan remasan kertas. Berjam-jam di depan layar monitor tetapi berita belum juga jadi.
            Saya melangkahkan kaki keluar dari laboratorium biologi, tempat di mana saya menyepi. Berjalan di teras melihat beberapa siswa yang sedang menikmati jam istirahat. Setelah cukup segar, saya kembali masuk laboratoruim. Saya tekuni lagi tulisan yang belum jadi. "Harus bisa" batinku menyemangati diri sendiri.
            Tulisan berisi enam paragraf itu selesai. Sesuai saran kepala sekolah, langsung saya bawa pada guru senior yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah membaca sekilas, guru tersebut mengomentari tulisan yang saya buat. Pilihan kata yang tidak tepat. Struktur kalimat yang tidak lengkap. Kalimat-kalimat yang kurang tertata. Hampir setengah tulisan saya setelah dikoreksi ternyata salah.
            Dengan suara keras hingga terdengar seluruh ruangan, guru senior tersebut mengomentari tulisan saya. Seperti seorang siswa yang sedang dimarahi gurunya, saya hanya diam sambil memperhatikan coretan-coretan yang dibuat pada selembar kertas hasil tulisan saya. Sesekali saya meminta saran untuk perbaikan tulisan.
            Saya perbaiki tulisan sesuai masukan dari guru senior tersebut. Setelah selesai langsung saya posting di web sekolah. "Sulit juga menulis ya" pikirku. Apalagi jika teringat tulisan yang dibuat dengan penuh perjuangan ternyata masih salah. Rasanya hilang motivasi untuk kembali menulis.
            Kepala sekolah meminta agar berita di web harus diisi setidaknya seminggu sekali. Saya berfikir tentang apa yang bisa saya tulis untuk berita? Kegiatan sekolah hanya rutinitas kegiatan belajar mengajar. Tidak ada agenda kegiatan lain di hari efektif. Saya teringat kata seorang wartawan di suatu surat kabar, berita itu tidak harus menunggu kegiatan. Peristiwa yang sudah biasa terjadi juga dapat menjadi berita yang menarik jika kita dapat menuliskannya dari sudut pandang lain yang berbeda. Metode pembelajaran yang menarik di sekolah pun menjadi objek tulisan saya untuk mencapai target berita seminggu sekali.
            Pada tulisan berikutnya, saya mengabaikan pesan kepala sekolah untuk konsultasi dengan guru senior tentang kebenaran tulisan saya. Setiap kali selesai menulis langsung saya posting. Saya tidak peduli tulisan saya betul atau salah. Demikian seterusnya.
            Kebiasaan menulis pun akhirnya bukan hanya karena tuntutan tugas dari sekolah. Setiap kali menyaksikan peristiwa tertentu, gagasan melayang-layang ingin dituliskan. Terkadang ide datang tidak peduli waktu dan tempat. Saat memasak, saat mengasuh anak, saat merawat tanaman di kebun, saat mengajar siswa di kelas dan saat melakukan perjalanan ke tempat baru. Sebelum bisa menuliskan, ide-ide selalu mengganggu pikiran dan membuat gelisah. Padahal keadaan sedang tidak memungkinkan untuk membuka laptop. Tetapi setelah berhasil menuliskannya, ada kepuasan tersendiri.
            Semula tulisan hanya saya simpan saja pada komputer. Tapi kemudian saya coba membuat blog pribadi untuk menampung tulisan-tulisan yang bukan berita sekolah. Saya termotivasi dengan yang pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer. "Teruslah menulis meskipun tidak ada orang yang membacanya" kata Pram.
            Ternyata kemampuan menulis saat ini memang penting. Apalagi bagi seorang guru. Seleksi Olimpiade Guru Nasional (OGN) harus menuliskan artikel ilmiah, mengikuti diklat harus mengirimkan essai dan mengikuti workshop dipersyaratkan mengumpulkan tulisan. Tanpa kemampuan menulis pengembangan profesi guru akan terhambat. Jadi, mau tidak mau guru harus belajar menulis. Kemampuan menulis dapat dipertajam dengan terus belajar menulis. Selain itu juga harus diimbangi dengan budaya literasi untuk memperluas wawasan.



Tulisan ini dimuat dala buku Guru Mulia karena Karya yang diterbitkan oleh MediaGuru
Aqila bersama buku Guru Mulia Karena Karya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...