Jumat, 16 Agustus 2019

PENULIS ADALAH SALES BAGI BUKUNYA


"Ini buku njenengan ya, Bu?" tanya seorang guru baru yang meja kerjanya ada di sampingku sambil memegang buku dengan cover merah. Cetar. Indonesia Is We.
                "Iya, silakan jika berminat." jawabku singkat
                "Nanti ikut baca aja deh." katanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
                "Boleh." kataku.
                "Dari dulu aku nda suka baca." komentar guru lain yang sejak tadi menyimak perbincangan kami. Guru baru juga. Para senior menyebutnya guru zaman now. Guru milenial.
                "Sama, aku juga nda suka baca." jawabku.
                Dia nampak kaget dengan jawabanku. Dia mengira setiap hari aku membaca buku karena aku menyukainya. Sama sekali tidak. Ini hanya proses pemaksaan diri. Memaksa agar mau membaca. Kan aneh, seorang guru yang seringkali menuntut siswanya untuk rajin membaca, tekun berlatih kok dirinya sendiri malah tidak pernah membaca.
***
               
"Silakan, Pak dipirsani barangkali berminat." kataku hati-hati sambil menyodorkan buku Indonesia Is We pada Bapak Kepala Sekolah yang kebetulan sedang berada di ruang guru.
                "Apa ini?" tanyanya agak kaget.
                "Buku antologi yang kedua." jawabku.
                "Saya ikut nulis di situ Pak," kata guru perempuan berjilbab merah jambu yang berdiri di dekat kipas angin, "Hihihi, promosi." lanjutnya sambil terkekeh.
                "Oh, ya, saya pasti beli." kata Pak Kepala sambil berdiri mengambil dompet di saku celananya. Uang seratusan ribu disodorkannya padaku. Segera kuambil uang kembalian.
                "Terima kasih atas apresiasinya, Pak! Semoga menjadi motivasi untuk terus belajar nulis." kataku masih berdiri di sampingnya.
                "Waka-waka ditodong aja suruh beli semua, Mba." katanya sambil tertawa. (Waka: wakil kepala sekolah).
                Aku hanya tersenyum kembali ke tempat duduk dua deret di belakangnya.
***
                "Ini buku barunya ya, Bu?" tanya seorang guru laki-laki sambil mengambil buku yang tergeletak di mejaku. Dia waka kurikulum di sekolahku. Dia juga sudah membeli dan membaca buku antologi pertama, Guru Mulia Karena Karya. Bahkan untuk antologi di bulan Agustus bertema Indonesiaku dia sudah siapkan naskah tulisan untuk dikirim.
                "Iya, Pak. Monggo dipirsani barangkali berminat." jawabku menawarkan.
                Dia membolak-balik buku yang sampul plastiknya masih tersegel rapi. Dia cermati tulisan pada cover belakang buku. Dibaca. Dibalik lagi.
                "Lihat-lihat dulu ya, Bu!"
                "Iya, Pak, nda papa."
                Dia taruh kembali buku itu di mejaku. Melanjutkan langkahnya menuju masjid sekolah untuk shalat Dzuhur berjamaah.
***
                "Mana, Bu, katanya bukunya sudah jadi. Coba lihat." kata guru agama di sekolahku. Tempat duduknya ada pada deret ke dua di depanku. Setiap kali mau masuk kelas atau ke luar dari ruang guru untuk keperluan apa pun selalu melewati meja kerjaku.
                "Silakan, Pak. Barangkali berminat." kataku menyodorkan buku bersampul merah.
                Sekilas dia perhatikan sampul yang masih bersegel. Dibolak-balik.
                "Nanti, ya, Bu!" katanya menaruh buku di mejaku. Agak tergesa dia keluar dari ruangan. Mungkin menuju masjid atau kelas.
                Sepeninggalannya, buku kutaruh di meja kerjanya. Di samping tumpukan buku tugas siswa.
                "Aku masih utang, ya!" katanya ketika berpapasan mau pulang setelah finger print.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...