"Ini buku njenengan ya, Bu?" tanya seorang guru
baru yang meja kerjanya ada di sampingku sambil memegang buku dengan cover
merah. Cetar. Indonesia Is We.
"Iya,
silakan jika berminat." jawabku singkat
"Nanti
ikut baca aja deh." katanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
"Boleh."
kataku.
"Dari
dulu aku nda suka baca." komentar guru lain yang sejak tadi menyimak
perbincangan kami. Guru baru juga. Para senior menyebutnya guru zaman now. Guru
milenial.
"Sama,
aku juga nda suka baca." jawabku.
Dia
nampak kaget dengan jawabanku. Dia mengira setiap hari aku membaca buku karena
aku menyukainya. Sama sekali tidak. Ini hanya proses pemaksaan diri. Memaksa
agar mau membaca. Kan aneh, seorang guru yang seringkali menuntut siswanya
untuk rajin membaca, tekun berlatih kok dirinya sendiri malah tidak pernah
membaca.
***
"Silakan, Pak dipirsani barangkali berminat." kataku hati-hati sambil menyodorkan buku Indonesia Is We pada Bapak Kepala Sekolah yang kebetulan sedang berada di ruang guru.
"Apa
ini?" tanyanya agak kaget.
"Buku
antologi yang kedua." jawabku.
"Saya
ikut nulis di situ Pak," kata guru perempuan berjilbab merah jambu yang
berdiri di dekat kipas angin, "Hihihi, promosi." lanjutnya sambil
terkekeh.
"Oh,
ya, saya pasti beli." kata Pak Kepala sambil berdiri mengambil dompet di
saku celananya. Uang seratusan ribu disodorkannya padaku. Segera kuambil uang
kembalian.
"Terima
kasih atas apresiasinya, Pak! Semoga menjadi motivasi untuk terus belajar
nulis." kataku masih berdiri di sampingnya.
"Waka-waka
ditodong aja suruh beli semua, Mba." katanya sambil tertawa. (Waka: wakil
kepala sekolah).
Aku
hanya tersenyum kembali ke tempat duduk dua deret di belakangnya.
***
"Ini
buku barunya ya, Bu?" tanya seorang guru laki-laki sambil mengambil buku
yang tergeletak di mejaku. Dia waka kurikulum di sekolahku. Dia juga sudah
membeli dan membaca buku antologi pertama, Guru Mulia Karena Karya. Bahkan
untuk antologi di bulan Agustus bertema Indonesiaku dia sudah siapkan naskah
tulisan untuk dikirim.
"Iya,
Pak. Monggo dipirsani barangkali
berminat." jawabku menawarkan.
Dia
membolak-balik buku yang sampul plastiknya masih tersegel rapi. Dia cermati
tulisan pada cover belakang buku. Dibaca. Dibalik lagi.
"Lihat-lihat
dulu ya, Bu!"
"Iya,
Pak, nda papa."
Dia
taruh kembali buku itu di mejaku. Melanjutkan langkahnya menuju masjid sekolah
untuk shalat Dzuhur berjamaah.
***
"Mana,
Bu, katanya bukunya sudah jadi. Coba lihat." kata guru agama di sekolahku.
Tempat duduknya ada pada deret ke dua di depanku. Setiap kali mau masuk kelas
atau ke luar dari ruang guru untuk keperluan apa pun selalu melewati meja kerjaku.
"Silakan,
Pak. Barangkali berminat." kataku menyodorkan buku bersampul merah.
Sekilas
dia perhatikan sampul yang masih bersegel. Dibolak-balik.
"Nanti,
ya, Bu!" katanya menaruh buku di mejaku. Agak tergesa dia keluar dari
ruangan. Mungkin menuju masjid atau kelas.
Sepeninggalannya,
buku kutaruh di meja kerjanya. Di samping tumpukan buku tugas siswa.
"Aku
masih utang, ya!" katanya ketika berpapasan mau pulang setelah finger
print.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar