Senin, 29 April 2019

Perlindungan dari Gangguan Jin


Kami berjalan melewati perumahan penduduk sebelum sampai pada tujuan perjalanan hari itu. Rumah dengan dinding bambu dan alas tanah liat kami lihat di sepanjang perjalanan. "Seperti di perkampungan ya bu?" kata anak di sebelahku. Kurang lebih lima menit perjalanan, sampailah kami di STIKES Surya Global (Surga) Yogyakarta.
                Setelah memasuki pintu gerbang, kami melewati lorong yang cukup panjang. Di kanan kiri terlihat kamar-kamar khas pesantren. Sesekali kami bertemu dengan santri dengan busana putih-putih. Mereka melempar senyum pada kami.
                Sampai di depan ruang pertemuan kami disambut oleh pengasuh Pesantren Surga. Siswa diarahkan untuk mengikuti praktik Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di aula bersama mahasiswa STIKES Surga. Kami dipersilakan menunggu ruang pertemuan menemui pimpinan Pesantren Surga, ustadz Sugiyono.
                Ustadz Sugiyono menceritakan awal mula berdirinya Pesantren Surga. Berbeda dengan Al Aqobah Jombang maupun Ponpes Krapyak Yogyakarta. Berdirinya STIKES Surga pada 2003 belum merupakan lembaga pendidikan islam atau pesantren. Dengan melihat pergaulan di kota Yogyakarta, para pendiri sepakat untuk mendirikan pesantren untuk menjaga para mahasiswa dari pengaruh buruk pergaulan bebas.
                Pada kesempatan tersebut ustadz Sugiyono menyampaikan bahwa kompetensi STIKES Surga fokus pada pengembangan pengobatan herbal. Dirinya melihat potensi tanaman obat di tanah air sangat luar biasa. "Potensi tanaman obat ini perlu dikembangkan" katanya. Obat-obatan kimia, ujar ustadz Sugiyono, memiliki dampak yang buruk bagi tubuh jika digunakan secara terus-menerus.
                Perbincangan semakin menarik saat ustadz Sugiyono berkisah bagaimana menangani ribuan santri yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Mahasiswa dari luar daerah, menurutnya, banyak yang dibekali oleh orang tuanya jimat perlindungan diri.
                Dengan rutinitas santri membaca al Qur'an, shalat berjamaah, dan shalat-shalat sunah lain banyak yang kemudian bereaksi. Kata beliau, banyak terjadi saat membaca al Quran tiba-tiba santrinya kesurupan. Menggulung-gulung di masjid atau berteriak-teriak. "Jangan sampai saat menolong justru menjerumuskan dengan cara-cara yang tidak syar'i" pesannya.
                Cara-cara yang selama ini digunakan dalam menangani gangguan jin, menurutnya, hanya pada tahap menyadarkan. Seperti: memijat dengan keras pada bagian tubuh tertentu, membentak dengan suara keras atau membiarkan hingga sadar dengan sendirinya.
                Ustadz Sugiyono menjelaskan, cara penanganan yang tepat dapat diawali menyadarkan dengan memijit kening antara dua bola mata, atau menepuk-nepuk pipi hingga sadar. Korban harus diposisikan paad tempat yang cukup cahaya karena jin suka pada tempat yang gelap. Setelah sadar, korban dilatih untuk mengucapkan istighfar. Jika belum berhasil dapat dibacakan surat al fatihah, an nash, al falaq dan al ikhlas. Kemudian ditiupkan ke kedua tangan untuk diusapkan pada wajah korban.
                Untuk perlindungan rumah yang terdapat gangguan jin dapat dilakukan dengan menyiapkan sebaskom air. Bacakan surat al fatihah, an nash, al falaq dan al ikhlas dan tiupkan pada air tersebut. Masukkan air pada wadah semprotan (semacam botol kispray) lalu semprotkan pada ruangan yang dikehendaki. Jika kondisi gangguan lebih berat dapat dilakukan dengan mengepel dengan air tersebut pada ruangan yang dikehendaki. Bahkan ada yang sampai digebyur (digontor). Pesan ustadz Sugiyono selalu ucapkan salam ketika masuk rumah. Juga selalu ucapkan basmalah setiap kali menutup pintu maka atas izin Allah rumah akan terjaga dari gangguan jin.
                Gangguan jin dapat terjadi pada siapa saja. Ustadz Sugiyono mencontohkan adanya pasangan yang sulit memiliki anak dengan mengacau siklus haid. Hal tersebut merupakan perbuatan jin. Demikian juga adanya orang yang sulit ketemu jodoh meskipun sudah berumur merupakan indikasi adanya belenggu jin. "Disenengi jin" kata masyarakat awam. Sehingga setiap ada yang mau melamar ada saja hambatannya.
                Perbincangan di ruang pertemuan Pesantren Surga makin asyik. Para guru antusias menanyakan permasalahan pribadi maupun sekolah. Tetapi adzan dzuhur sudah berkumandang. Pengasuh yang sedari tadi mengikuti perbincangan mempersilakan kami menuju masjid Baitus Surga untuk shalat berjamaah.

Rabu, 24 April 2019

IPS Sejati Gapai Mimpi Raih Prestasi


Memasuki pergantian jam pelajaran menuju jam ketiga, beberapa siswa nampak bercanda di bangku depan ruang kelas. Melihat guru datang, mereka masuk kelas dengan masih bergurau dengan temannya. Saat guru masuk ke kelas dan menuju meja depan untuk meletakkan buku, sebagian siswa masih bercanda dengan suara keras. Meskipun sadar pelajaran akan segera dimulai, mereka masih terlihat asyik dengan temannya.
                Guru mengucapkan salam dan dijawab hanya oleh sebagian siswa. Siswa di bangku barisan belakang terlihat masih tertawa-tawa kurang memperhatikan ucapan salam dari gurunya.
                Setelah melakukan apresiasi, guru menanyakan tugas yang pada pertemuan sebelumnya diberikan. Satu jam pelajaran pada pertemuan sebelumnya guru mendapat tugas untuk dinas luar, sehingga siswa diberi tugas untuk dikerjakan secara mandiri. Tidak seorang pun siswa yang mengerjakan tugas. Bahkan ada yang tidak tahu sama sekali tentang tugas tersebut.
                "IPS bu, IPS bu" seru beberapa siswa laki-laki di barisan paling kiri. Seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa siswa jurusan IPS jika diberi tugas tidak dikerjakan. Seakan-akan mereka ingin menunjukkan bahwa kenakalan, kebandelan, dan anti kemapanan lainnya adalah karakter siswa IPS.
                Bukan hanya pada siswa IPS sendiri, stigma negatif tentang jurusan IPS telah ada sejak lama pada siswa, dan masyarakat(orang tua). Bahkan, di kalangan pendidik masih ada yang memiliki pandangan negatif terhadap siswa IPS.
                Seringkali siswa IPS diidentikkan dengan perilaku menyimpang di sekolah, seperti bolos sekolah, tidak disiplin berpakaian, terlambat datang, membuat gaduh di kelas, mengabaikan tugas sekolah dsb.
                Stigma negatif tersebut berdampak pada rendahnya minat orang tua dan siswa untuk masuk pada jurusan IPS. Mayoritas orang tua dan siswa memilih IPA pada pilihan pertama saat pemilihan jurusan. Jurusan IPS menjadi pilihan kedua setelah gagal masuk pada jurusan idaman, IPA.
                Stigma negatif itu pula yang menyebabkan siswa yang telah masuk pada jurusan IPS, mengidentifikasikan perilakunya sesuai dengan anggapan yang beredar dalam masyarakat. Meskipun semula tidak memiliki bakat untuk melakukan tindak menyimpang setelah masuk pada jurusan IPS mereka menyesuaikan dengan anggapan masyarakat sebagai anggota dari komunitas kelas yang menyimpang.
                Anggapan tersebut akan selalu ada dan diwariskan pada generasi IPS berikutnya jika lingkaran stigma negatif tersebut tidak diputus. Hanya siswa dan mereka yang terlibat di jurusan IPS lah yang memiliki kesempatan untuk merubah cap negatif pada jurusan IPS. Sudah saatnya siswa pada jurusan IPS membuktikan bahwa IPS bukanlah Ikatan Pelajar Stres melainkan Ikatan Pelajar Sukses. Hari-hari siswa IPS jangan lagi diisi dengan tindak penyimpangan tetapi diisi dengan prestasi-prestasi yang gemilang.
                Jika ingin menjadi IPS sejati jadilah siswa IPS yang menguasai keilmuan IPS, memiliki kemampuan analisis yang tajam, kemampuan menyampaikan gagasan di depan publik, percaya diri, pandai berorganisasi dan aktif di berbagai kompetisi.

Selasa, 23 April 2019

MEREDAKAN KONFLIK SOSIAL DENGAN 'RANDOM LETTER'



Pelajaran Sosiologi sering kali dianggap sebagian siswa  sebagai pelajaran yang membosankan. Hal tersebut karena banyak konsep-konsep yang harus dihafal. Padahal sesungguhnya ilmu yang mengkaji realitas sosial tersebut sangat menarik karena hampir setiap hari siswa bersinggungan dengan realitas sosial yang dikaji dalam Sosiologi.
            Salah satu materi yang dipelajari di kelas XI adalah Konflik Sosial. Pada submateri upaya meredakan konflik dapat dilakukan dengan metode 'random letter'. Selain menarik metode ini juga dapat meningkatkan aktivitas siswa. Kegiatan dimulai dengan guru membagi siswa dalam kelompok beranggotakan 2 orang (teman satu bangku). Kemudian, tiap kelompok mendapatkan kartu huruf untuk diurutkan menjadi sebuah kata yang berkaitan dengan upaya meredakan konflik sosial.
            Kelompok yang telah berhasil menemukan kata yang dimaksud segera menuliskannya di papan tulis untuk menumbuhkan jiwa kompetisi. Disusul kelompok berikutnya sampai semua kelompok telah berhasil menemukan kata yang dimaksud.
            Tiap kelompok mempelajari pengertian dan contoh tentang upaya meredakan konflik sosial yang telah ditemukan untuk menumbuhkan kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dalam merumuskan gagasan. Hasil diskusi dipresentasikan di depan kelas secara bergantian untuk menumbuhkan kemampuan komunikasi dan rasa percaya diri siswa. Guru menyampaikan tanggapan dan masukkan atas presentasi tiap kelompok.
            Kegiatan diakhiri dengan postest secara tertulis untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Sebagai nilai tugas siswa membuat ringkasan hasil presentasi.

Jumat, 05 April 2019

Khusyu' Menikmati Rasa Bosan


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya sampai juga di SMA Buluspesantren. Tempat melaksanakan tugas sebagai pengawas UNBK tahun 2019. Seorang satpam yang berbadan ceking menyambut di halaman sekolah. "Parkir di dalam ya!" seru pak satpam mengira aku peserta ujian di sekolahnya. Setelah menyadari, dia berkata "Monggo bu, parkir di sini saja"sambil menunjuk tempat parkir di sebelah masjid.
                Di tempat parkir aku bertemu dengan guru yang mengajar di SMA Buluspesantren. Kami bertegur sapa. Kami sudah saling kenal meskipun lupa dengan nama. Guru tersebut yang kemarin mengawas USBN di sekolahku selama 8 hari. "Ruang pengawas, di sebelah sana" katanya sambil menunjuk ke arah ruangan ketiga dari arah utara.
                Sekelompok peserta ujian nampak bergerombol di depan labkom mendiskusikan sesuatu, mungkin soal-soal ujian. Beberapa di antaranya melempar senyum saat melihatku melintas di depannya. Sebagian yang lain sibuk menekuni buku yang ada di tangannya.
                Di ruang pengawas baru ada dua orang pengawas dan seorang panitia yang tidak mengenakan jilbab. Setelah bertegur sapa, panitia mempersilakan kami untuk minum dan menikmati sarapan. Nampak makanan dengan warna merah dibungkus mika bening. Di sebelahnya terdapat dua jumbo, yang ditempel tulisan di luarnya. Teh dan kopi.
                Beberapa menit kemudian pak Budi, rekan yang sama-sama dari satu sekolah datang. Jalannya agak terseok, katanya jempol kakinya terkena standar motor. Setelah menyapa pengawas dari sekolah lain, Pak Budi menghampiriku " Ndi surat tugase?'' tanyanya sambil membuka amplop yang terletak di atas meja. "Sampun tak aturke panitia, pak.." jawabku sambil menyeruput teh manis hangat.
Sesi 1
                Setelah berbincang sejenak kami beranjak menuju lab komputer, tempat dilaksanakannya UNBK. Tidak terdengar bel tanda masuk, tapi waktu sudah menunjukkan pukul 07.20.
                Bersama pak Fajar dari SMA Klirong kami menuju Labkom 1. Aku tahu namanya di daftar hadir pengawas ketika tadi tanda tangan. Di ruangan sudah ada 2 orang, mungkin proktor dan teknisi. Kami duduk di kursi yang sudah tertata rapi depan whiteboard. Di meja sudah tersedia daftar hadir peserta ujian, kartu ujian dan kertas buram.
                Di belakang kami peserta ujian antri masuk ke ruangan. "Sekalian absen nda bu?" tanya peserta ujian yang masuk paling depan. "Ya, boleh." jawabku singkat. Setelah absen rangkap 3 peserta ujian mengambil kertas buram yang berada tepat di depanku.
                Semua peserta ujian masuk dengan tertib seperti sudah dikondisikan sebelumnya. Secara berurutan mereka masuk, tanda tangan absen, mengambil kertas buram kemudian menuju komputer masing-masing.
                Aku memberi isyarat pada pak Fajar untuk memulai kegiatan sesi 1 di pagi itu. "Silakan salah satu memimpin doa" perintah pak Fajar. Seorang peserta ujian, mungkin ketua kelas mengikuti perintah pak Fajar. Selesai berdoa seorang peserta ujian berseru " Kartu ujian belum pak!" sambil menoleh ke arah dua orang yang duduk di dekat pintu masuk. "Ini ambil dan bagikan!" kata bapak muda tapi rambutnya nampak sudah memutih.
                Sesaat suasana hening. Seorang peserta ujian mengintip kami dari balik komputernya. Mengetahui kami tidak menyampaikan apa pun, laki-laki yang kukira proktor berdiri keluar dari tempat duduknya yang agak terjepit di antara meja komputer.
                "Hari ini materi ujian bahasa Inggris. Pada sesi listening akan ada suara. Kalian tidak perlu panik. Jika ada masalah cukup acungkan jari, nanti saya datang" jelasnya. "Ya, pak" jawab peserta ujian sambil memasang headset di telinga masing-masing.
                Proktor melangkah ke arah komputer yang berada di dekat pintu masuk. Sejenak dia memperhatikan layar komputer. Kemudian menuliskan token di whiteboard di belakang kami. "XVBXYQ" ucapnya. Beberapa peserta ujian menengok ke arah tulisan. "Apa pak?"seru peserta ujian laki-laki yang duduk di pojok ruangan. Laki-laki yang kemudian kuketahui adalah proktor membaca ulang token pada sesi tersebut.
                Selama ujian berlangsung peserta ujian fokus pada layar komputer di depannya. Sebagian peserta ujian melepas headset setelah ujian berlangsung 20 menitan. Beberapa peserta ujian terlihat masih mengalungkannya di leher.
                Kulirik sedikit pengawas di sampingku. Pak Fajar terlihat sedang mengantuk. Sesekali dia terbatuk. Kami tidak bercakap sedikit pun di ruang ujian.Hanya ketika masuk tadi sempat kutanyakan tempatnya bertugas. "SMA Klirong" jawabnya singkat.
                Di dekat pintu masuk proktor dan teknisi terdengar memperbincangkan sesuatu. Ketika kulirik, laki-laki berbaju coklat yang kuduga teknisi melotot. Tapi karena memang bentuk matanya yang lebar dan agak menonjol keluar.
                Menunggu tanpa melakukan sesuatu memang terasa membosankan. Dilarang berbicara, tidak diperkenankan membawa alat komunikasi maupun membawa buku bacaan. Beberapa kali aku menguap. Benar-benar mulai jenuh. Iseng kuhitung jumlah peserta ujian. Ada 22 orang, tujuh laki-laki dan sisanya perempuan. Ada dua komputer yang tidak terpakai, mungkin untuk cadangan. Kutengok jam yang ada di atasku, ah masih 8.30.
                Proktor dan teknisi yang sedari tadi ngobrol keluar ruangan. Kulirik pengawas di sebelahku masih juga mengantuk. Hanya sudah ganti pose. Semula menunduk, sekarang tangan menyanggah dagu. Melihatnya sebenarnya ingin tertawa tapi kutahan. Eh, ganti pose lagi. Sekarang tangan menyilang di dada dan kepala mendongak ke belakang bersandar pada whiteboard.
                Untuk menghalau rasa bosan, aku bangun dari tempat duduk. Melangkah ke arah pintu. Membaca-baca tempelan kertas di dinding. Mengamati dari dekat layar komputer yang menayangkan soal-soal. Di sana tertera sisa waktu 01.00. Huh… aku menghela nafas panjang.
Aku kembali duduk di kursi kayu yang sejak pagi kududuki. Hawa hangat di kursi sudah hilang setelah kutinggal sebentar. Tengok kana tengok kiri, hening. Hanya suara keyboard komputer yang sesekali terdengar.
                Pak Fajar menyodorkan selembar kertas sambil mengatakan sesuatu yang tidak begitu jelas kudengar. Daftar hadir peserta ujian yang harus kutandatangani. Kutuliskan nama, NIP dan kububuhkan tanda tangan rangkap 3. Hanya ada dua kolom untuk tanda tangan. Satu untuk proktor dan satu untuk pengawas. Biar sesi 1 aku yang tanda tangan, nanti sesi 2 gantian pak Fajar, pikirku. "Krucuk-krucuk…." terdengan tanda alam dari perutku. Semoga tidak terdengar oleh orang lain, harapku.
                Kembali kulangkahkan kaki ke arah pintu. Duduk di kursi kayu berbentuk lingkaran seperti yang biasa ada di warung bakso. Beberapa peserta ujian melirikku tanpa ekspresi. Pak Fajar yang sedari tadi ngantuk atau bahkan mungkin tidur terbangun saat mendengar langkah sepatuku. Basa-basi aku bertanya dengan suara pelan agar tidak mengganggu konsentrasi peserta ujian. Tentang mapel yang diajarkan, almamater dan berapa lama sudah menjadi guru. "Sejak 2009" katanya. Sebentar berbincang, guru Olahraga tersebut kembali memejamkan mata.
                Terdengar pintu dibuka dari arah luar. Proktor kembali masuk ruangan. Berjalan mendekati meja pangawas dan menanyakan daftar hadir. Kertas yang sudah kutandatangani kusodorkan padanya. Setelah daftar hadir di tangannya, dia menuju komputer di dekat pintu masuk. Terdengar suara ketikan keyboard diikuti suara gaduh printer. "Leres nggih?" tanya pak Proktor sambil menunjuk nama yang tercetak pada berita acara. Kucermati data yang ditunjukkan. "Nggih.." jawabku setelah yakin data yang tercetak benar.
                Aku kembali berdiri dan mendongakkan muka ke dekat layar komputer peserta ujian. Terlihat sisa waktu: 0014. "Mohon perhatian sebentar" kataku memecah keheningan. Peserta ujian mengalihkan pandangan dari layar komputer ke arahku. "Sisa waktu kurang lebih seperempat jam. Silakan untuk soal yang belum dijawab untuk diselesaikan. Jawaban yang masih ragu-ragu untuk diyakinkan. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya ya!" jelasku. "Ya, bu" jawab peserta ujian kembali menekuni soal di layar komputernya.
                Seperempat jam kemudian dari layar komputer nampak peserta ujian sudah melakukan logout. Beberapa peserta ujian terlihat berbincang dengan teman sebelahnya. Mungkin mendiskusikan soal yang baru saja mereka kerjakan. Suasana sedikit gaduh. "Kartu ujian dikumpulkan lagi" kata proktor yang kutahu namanya Achmad Nurcholis dari berita acara yang baru saja kutandatangani. Seorang peserta ujian yang wajahnya mirip Adi Pratama tetanggaku berkeliling mengumpulkan kartu ujian dan memberikan pada pengawas.
                "Gimana pak, peserta ujian sudah bisa keluar?" tanyaku pada pak Achmad. "Ya silakan" jawabnya. Aku mempersilakan peserta ujian untuk keluar ruangan. Mereka antri menjabat tangan pengawas dan meninggalkan ruang ujian. Dapat satu sesi, batinku.
Sesi 2
                Masih bersama pak Fajar kami menuju labkom 1. Saat masuk ruangan ujian masih kosong. Beberapa saat kemudian peserta ujian masuk. Berbeda dengan sesi satu, kali ini di meja belum tersedia daftar hadir. Beberapa peserta ujian berjabat tangan dengan pengawas dan mengambil kertas buram. Sebagian yang lain langsung menuju tempat duduk sesuai nomor ujian. Tanpa dikomando, seorang peserta ujian memimpin doa dan menyampaikan salam.
                Dua kursi nampak masih kosong. "Mungkin masih di belakang bu" kata peserta ujian berkacamata yang duduk di samping kursi pengawas. Seorang guru dari balik pintu menengok ke dalam ruang ujian dan menanyakan keberadaan peserta ujian yang belum hadir. "Siapa yang punya nomer hape Imron?'' tanya proktor pada peserta ujian. Peserta ujian hanya saling tunjuk.
                Sekitar lima menit kemudian, masuk dua peserta ujian laki-laki. "Huuuuh…" sorak peserta ujian yang sedari tadi sedikit gaduh. Setelah menjabat tangan pengawas kedua peserta ujian yang agak terlambat menuju tempat duduknya. Peserta ujian nampak sudah siap memulai ujian. Bahkan terkesan sudah tidak sabar untuk melakukan login.
                Proktor berdiri di dekat komputer cadangan. "Untuk listening, cermati tombol volume. Kalau ada masalah silakan tunjuk jari, saya akan datang" katanya memberi arahan.
                Setelah mencermati layar komputer di dekat pintu, proktor menuliskan token di whiteboard. "PSHKGC" ucapnya sambil menulis. Seorang peserta ujian menirukan sambil diplesetkan "PSK…." Beberapa teman menertawakannya.
                Peserta ujian nampak sudah fokus dengan komputer masing-masing. Headset sudah terpasang sejak memulai login. Mereka terlihat asyik memperhatikan gambar-gambar pada sesi listening. Terlihat gambar orang, gambar hewan, bangunan dan kelompok orang.
                Proktor menyodorkan berita acara, laporan sekolah dan daftar hadir peserta ujian. Semua ragkap tiga. Aku agak terkejut ketika namaku yang kembali tertera di sana. Kukira untuk sesi 2 gantian pak Fajar, ternyata tidak. "Ini nanti setelah listening selesai" kata proktor sambil menunjuk daftar hadir peserta ujian. Aku mengangguk tanda mengerti.
                Layar komputer di depan peserta ujian tampak tulisan-tulisan dengan paragraf yang panjang. Tidak terlihat lagi gambar-gambar. Beberapa peserta ujian melepas headset dan menggantungkannya di atas samping layar komputer. Sebagian masih mengenakannya. " Maaf, apa ada yang masih menyelesaikan sesi listening?" tanyaku. "Ada" jawab peserta ujian yang berada di pojok ruangan sambil mengacungkan tangan. "Oke, silakan diselesaikan dulu" kataku mengurungkan niat untuk mengedarkan daftar hadir.
                Ketika semua peserta ujian sudah melepas headsetnya, kuambil daftar hadir dan kuedarkan satu per satu. Sampai pada peserta nomer 8 yang duduk di pojok sebelah kanan ruangan. "AC dimatikan pa bu, panas" katanya sambil mengibas-ibaskan tangan ke arah muka. "Ya, nanti dibesarkan AC-nya" jawabku. "Yang bikin panas AC-nya apa soalnya?" tanyaku sambil menggeser daftar hadir ke arahnya. Peserta ujian yang celananya berlobang di bagian lutut itu hanya tertawa.
                Daftar hadir kuedarkan sampai pada peserta dengan nomer komputer 22. Peserta terakhir ini mirip Taufiq, teman waktu SMP dulu. Laki-laki dengan kulit putih seperti Cina dan berambut pirang.
                Aku memencet tanda plus(+) pada remote AC, tapi tidak berpengaruh. "Error kayaknya" kata pak Fajar sambil bangkit dari tempat duduknya. Ini pertama kali kulihat pak Fajar lepas dari kursinya selama mengawas di ruang ujian. Dia pun mencoba memencet tombol untuk mendinginkan suhu ruangan. Tapi kelihatannya tidak berhasil.
                Aku berjalan mendekati peserta ujian yang sedari tadi mengeluh kepanasan. Kusarankan untuk menyalakan kipas angin yang ada di sebelahnya. Dia pun menggeser kipas angin mendekati colokan listrik. Beberapa temannya memperhatikan sambil tersenyum.
                Di layar komputer peserta ujian  yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat dudukku terlihat sisa waktu: 00.30.  Sebagian besar peserta ujian masih menekuni soalnya. Dua peserta ujian di antara mereka terlihat mengantuk sampai tertidur. Hingga akhirnya terbangun dengan sendirinya.
                "Shalat riyen, Bu!" kata pak Fajar sambil beranjak dari tempat duduknya. "Nggih, monggoh" jawabku mempersilakan. Badannya yang tambun dengan batik Kebumen warna biru meninggalkan ruang ujian. Dari jendela nampak dia berjalan ke arah masjid di sebelah tempat parkir.
                Seperempat jam kemudian pak Fajar kembali. "Gentosan nggih pak" kataku beranjak menuju pintu keluar. Aku meminta ijin pada proktor yang sedang menekuni komputernya untuk ke masjid sebentar. Proktor mengangguk.
                Sekembali dari masjid, peserta ujian nampak sudah melakukan logout. Suasana gaduh. Beberapa peserta ujian sudah berdiri hendak keluar ruangan. "Berdoa dulu yuk" seru seorang peserta ujian. Selesai berdoa mereka aku persilakan meninggalkan ruang ujian. Antri mereka berjabat tangan dengan pengawas dan proktor. Sebelum keluar ruangan proktor memintaku untuk menunggu tanda tangan laporan sekolah. Aku meminta untuk membawanya ke ruang pengawas. Proktor menyetujuinya. Diikuti pak Fajar di belakang kami keluar dari ruang ujian. Hah, lega!

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...