Dini hari kami berangkat. Melawan dingin. Menembus kabut.
Jarak pandang hanya beberapa meter saja. Beruntung jalanan masih lengang. Hanya
beberapa pengendara yang terlihat melintas. Mungkin pedagang yang berangkat ke
pasar.
Shalat subuh
kami tunaikan di perjalanan. Masjid Aisyah Loano Purworejo. Sengaja kami pilih
masjid di kiri jalan tersebut untuk mempermudah parkir. Suasana sudah sepi.
Jamaah sudah pulang ke rumah masing-masing memulai aktivitas pagi. Hanya ada
satu rombongan musafir yang singgah. Sebuah mobil dengan plat B.
Perjalanan
selanjutnya sempat terhambat oleh kemacetan. Terjadi kecelakaan sebelum masuk
di kabupaten Semarang. Entah bagaimana kronologisnya kami tidak tahu. Sisa-sisa
peristiwanya pun sudah tidak nampak. Hanya beberapa orang yang terlihat
berkerumun.
Setelah
lima jam menikmati perjalanan, sampailah kami di Badan Pengembangan Sumberdaya
Manusia (BPSDM) Daerah Provinsi Jawa Tengah. Beralamat di jalan Setiabudi No
201 A Semarang. Di halaman aula nampak beberapa orang berseragam korpri
duduk-duduk sambil menikmati snack. Keluar dari tempat parkir, mereka yang tadi
nampak duduk santai sudah menghilang.
"Ayo
cepat, Pak!" seru seorang ibu yang berjaga di tempat registrasi.
Dua
rekan yang berangkat bersama dari Kebumen berlari menuju meja yang tersedia di
depan aula. Kuikuti berlari-lari kecil di belakangnya. Duh, jan, wong tuo meh
pensiun kok dikerjani..
Tergesa-gesa
kami mencari nama di daftar hadir.
"Nomer
urut berapa, Bu?" tanya pegawai BKD, seorang laki-laki yang masih muda.
"Waduh,
nda tau je" jawabku sambil masih mencermati daftar hadir.
"Atas
nama siapa?" pegawai junior itu kembali bertanya.
Dia
mencoba mencarikan nama kami bertiga.
"Yang
sudah absen silakan sekalian ambil konsumsi" seru ibu-ibu yang tadi
meneriaki kami.
Kami
lari ke arah kardus yang ditata di dekat meja. Kuangkat tali pengikat kardus.
"Kok berat ya?" pikirku. Temanku pun sama. Mengangkat tali yang ada
di kardus.
"Ambil
satu saja, Pak!" teriak bapak-bapak mengagetkan, mungkin pegawai BKD juga.
"Oooo,
iya, maaf!"
Ternyata
kami mau mengambil lima kardus yang terikat menjadi satu. Ampun, sungguh, kami
tidak bermaksud mengambil jatah lima porsi. Meskipun lapar, kami tahu diri.
Kami
langsung lari menuju aula sambil menenteng kardus snack. Di sana peserta lain
sudah berbaris rapi. Siap mengikuti upacara Pengambilan Sumpah/Janji PNS di
lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tahun 2019.
"Lho,
kok bapak-bapak semua?" batinku sambil mengamati sekeliling.
"Ibu-ibu
di sebelah sama, Bu" kata seorang bapak yang berbaris di belakang sambil
menunjuk ke arah kiri depan. Sepertinya dia tahu kebingunganku.
"Maaf,
permisi"
Aku
langsung menyusup di sela-sela barisan menuju komunitasku, sesama kaum hawa.
Upacara
dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Diikuti pengucapan sumpah dan
janji PNS yang dipimpin oleh rohaniawan.
Dalam
sambutannya, kepala BKD Provinsi Jawa Tengah berpesan kepada 380 Aparatur Sipil
Negara (ASN) agar sumpah dan janji yang baru saja dilaksanakan jangan dijadikan
sebagai beban, justru seharusnya sebagai wujud syukur kepada karunia Tuhan.
Dalam
UU No 5 tahun 2014 disebutkan bahwa calon PNS wajib diambil sumpah dan
janjinya. Wah, telat hampir sembilan tahun. Peserta yang lain malah lebih lama.
Bahkan ada yang hampir pensiun baru diambil sumpah/janji PNSnya.
"Sebenarnya
sudah pernah diambil sumpah/janji", kata seorang teman, "cuma tidak
bisa menunjukkan bukti."
Gubernur
Jawa Tengah melalui sambutan yang dibacakan kepala BKD berharap PNS dapat
sebagai abdi negara yang melayani masyarakat. Siap membela bangsa dan negara
serta melindungi UUD 1945 dan Pancasila. Ganjar ingin ASN di lingkungan
provinsi Jawa Tengah memiliki integritas, bekerja dengan penuh kesadaran dan
tanggung jawab. Disiplin dalam menjalankan setiap tugas negara yang diembannya.
Di
penghujung acara dinyanyikan lagu Bagimu Negeri. Peserta menyanyikan dengan
sepenuh jiwa. Suara hampir tak terdengar terkalahkan oleh suasana haru yang
mendalam.
Selesai
upacara dan menandatangani berita acara kami langsung 'ngacir' pulang. Sengaja kami
lewat jalan yang berbeda. Konon, melewati jalan yang berbeda dapat mengasah
kecerdasan otak.
Kami
tidak mampir ke mana-mana. Hanya ke satu tempat. Rumah Makan Condong Raos di
kecamatan Jambu Semarang. Ini tempat favorit rekan kami yang mondar-mandir ke
Semarang. Seorang bendahara sekolah. Dia orang yang selalu membuat hatiku
berdebar lebih cepat dari biasanya. Dipanggil olehnya saja sudah membuat hati
berbunga-bunga. Dia sedikit bicara. Tigabelasan, Bu! Empatbelasan, Bu! Bahkan
mungkin sebentar lagi limabelasan, Bu! Singkat, padat dan jelas.
Langsung
kusambar piring di meja prasmanan. Kuambil nasi satu centhong. Bahkan tidak
penuh. Sungguh! Kupandangi lauk dan sayur yang berjejer di panci persegi. Entah
berapa wadah. Mungkin sampai duapuluhan. Mencicipi semuanya tentu tidak
mungkin. Kuambil sayur kaprok lembayung (daun kacang panjang), lodeh jantung
(kembang gedang/bunga pisang) dan telur ceplok balado. Menu ndeso yang cocok
untuk orang kampung sepertiku.
Segera
aku bergabung dengan dua rekan yang khusyuk di pojok ruangan. Mereka sudah curi
start dengan lahapnya. Tidak mau ketinggalan, segera kukejar. Otak
memerintahkan sendok dan garpu menjalankan tugasnya. Hmmm, mancapppp di lidah!
Sejak pagi belum sarapan membuat makanan yang enak terasa semakin nikmat.
Ternyata anjuran Rasulullah untuk makan setelah lapar dan berhenti sebelum
kenyang benar adanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar