Menjadi guru itu pekerjaannya seabrek. Dari akting di depan
kelas. Bikin skenario pembelajaran. Sampai menyiapkan properti untuk mendukung
kelancaran pembelajaran. Kapan ada waktu untuk menulis?
Itu alasan
yang pernah kusampaikan pada sahabatku Desi dan Dewi ketika menawari untuk
menulis buku beberapa tahun lalu.
Alasan
semakin kuperkuat dengan hadirnya anak kedua. Dua balita dalam satu rumah.
Jangan tanya seberapa repotnya menjadi wanita karir sekaligus menjadi ibu rumah
tangga. Dua krucil yang tidak ada diamnya kecuali saat tidur. Hanya yang pernah
menjalani yang tahu rasanya.
Tapi
ternyata menulis itu seperti jantung dalam tubuh kita. Jangan tanyakan kapan
jantung harus berdetak. Karena berhentinya detak jantung berarti kematian.
Kata
seorang teman yang tidak pernah kuketahui siapa dia. Mencari-cari alasan untuk
tidak menulis karena padatnya kesibukan sama halnya dengan menganggap bahwa
menulis adalah pekerjaan para pengangguran. Teganya!
Menulis
jelas-jelas bukan pekerjaan pengangguran. Karena orang yang mengatakan sulit
menulis karena tidak ada waktu belum tentu dia mau menulis ketika memiliki
waktu senggang.
Menulis
butuh kerja keras. Di sela-sela kesibukan yang menyita waktu, dia curi waktu
untuk menulis. Di antara rasa lelah yang mendera dia berusaha berfikir jernih.
Karena tulisan tidak lahir dari keramaian.
Tulisan
hanya dapat keluar dari pikiran yang jernih. Hati yang tenang. Di saat dunia
terlelap saat itulah ide-ide bermunculan. Di saat orang-orang tertidur, di saat
itulah jemari menari di atas keyboard.
Menulis
memang mengurangi jam istirahat. Pasti. Tapi akan ada rasa puas setelah
berhasil menulis. Akan melayang-layang di kepala saat ide belum dituliskan. Apa
pun wujudnya, menulislah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar