Rabu, 31 Juli 2019

Dari TAWANGMANGU hingga FINLANDIA


Tawangmangu. Terakhir mengunjunginya, lebih dari tiga tahun lalu. Ketika memperingati hari ibu yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan SMA Gondang. Dharma Wanita yang paling aktif di antara sekolah2 yang pernah kukunjungi.
                Tempat wisata di kabupaten Karanganyar ini menyajikan panorama pegunungan yang memukau. Hawa dingin menyusup hingga ke tulang. Air di kamar mandi pun serasa bongkahan es batu.
                Keragaman hayati nampak segar berembun. Meski tanpa siraman. Aneka warna bebungaan mekar memikat mata yang memandang. Jeruk baby tertata rapi menggiurkan.
                Naluri ibu-ibu langsung kesengsem pada aneka tanaman hias. Memborong dan membawa pulang ke Gondang. Berharap lingkungan rumah akan seasri Tawangmangu. Tak ketinggalan tanaman strowbery pun diangkutnya. Meskipun masih kecil sudah memiliki buah yang ranum.
                Tapi sayang, suhu di Gondang tidak seperti di Tawangmangu. Entah berapa derajat. Yang jelas, tak kan bisa tidur kalau belum menyalakan kipas angin sepanjang malam. Baru jam 8 pagi hawanya pengin neguk es teh.
                Tanaman yang dibawa dari Tawangmangu pun melemah. Beberapa hari kemudian layu dan mati. Padahal rutin disiram setiap hari. Disayang dan ditengok setiap saat.
                Tanaman punya habitatnya sendiri. Memaksanya untuk dapat tumbuh dengan baik di sembarang tempat adalah sebuah kemustahilan. Ia akan tumbuh subur pada tanah dan iklim yang sesuai.
                Sama seperti sistem pendidikan. Ia hanya akan berhasil pada tempat yang sesuai. Memindahkan sistem pendidikan dari satu negara ke negara yang lain tidak akan menghasilkan kualitas pendidikan yang sama.
                Bagi Korea Selatan jam belajar hingga 16 jam per hari dianggap kunci kesuksesannya di bidang pendidikan. Bahkan dengan jam belajar tersebut siswa masih wajib mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Ditambah dengan guru yang otoriter. Kebayang betapa stres menjadi siswa di Korea Selatan.
                Lain halnya dengan Finlandia yang sempat mengagetkan dunia karena siswanya yang berusia 15 tahun berhasil mencetak skor tertinggi pada PISA 2001. Di sini kualitas pembelajaran lebih diutamakan daripada panjangnya waktu belajar. Jam belajar yang pendek dinilai sebagai salah satu rahasia kegemilangan pendidikan di negara yang mungil ini. Jangan lupa bahagia, katanya.
                Sedangkan Jepang, mendahulukan pembentukan sikap sebelum mengajari siswa dengan pengetahuan. Di sana les sepulang sekolah masih sangat populer.
                Semua memiliki keunikan masing-masing. Sesuai dengan karakter masyarakat dan kondisi lingkungannya.
                Lalu apa yang bisa diadopsi oleh Indonesia? Tidak ada!
                Karena Indonesia tidak sama dengan negara-negara itu semua. Luasnya wilayah. Masyarakat Indonesia yang multikultural. Bentuk Indonesia yang berkepulauan. Dan lingkungan alam Indonesia yang khas.
                Profesor Erno Lehtinen, guru besar pendidikan dari Universitas Turku Finlandia saat ditanya tentang apa yang bisa ditransfer untuk Indonesia dari sistem pendidikan di Finlandia. Dirinya menjawab, "Tak ada yang kami bisa transfer, negara Anda harus mentransformasi sendiri."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...