Tawangmangu. Terakhir mengunjunginya, lebih dari tiga tahun
lalu. Ketika memperingati hari ibu yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan
SMA Gondang. Dharma Wanita yang paling aktif di antara sekolah2 yang pernah kukunjungi.
Tempat
wisata di kabupaten Karanganyar ini menyajikan panorama pegunungan yang
memukau. Hawa dingin menyusup hingga ke tulang. Air di kamar mandi pun serasa
bongkahan es batu.
Keragaman
hayati nampak segar berembun. Meski tanpa siraman. Aneka warna bebungaan mekar
memikat mata yang memandang. Jeruk baby tertata rapi menggiurkan.
Naluri
ibu-ibu langsung kesengsem pada aneka tanaman hias. Memborong dan membawa
pulang ke Gondang. Berharap lingkungan rumah akan seasri Tawangmangu. Tak
ketinggalan tanaman strowbery pun diangkutnya. Meskipun masih kecil sudah
memiliki buah yang ranum.
Tapi
sayang, suhu di Gondang tidak seperti di Tawangmangu. Entah berapa derajat.
Yang jelas, tak kan bisa tidur kalau belum menyalakan kipas angin sepanjang
malam. Baru jam 8 pagi hawanya pengin neguk es teh.
Tanaman
yang dibawa dari Tawangmangu pun melemah. Beberapa hari kemudian layu dan mati.
Padahal rutin disiram setiap hari. Disayang dan ditengok setiap saat.
Tanaman
punya habitatnya sendiri. Memaksanya untuk dapat tumbuh dengan baik di
sembarang tempat adalah sebuah kemustahilan. Ia akan tumbuh subur pada tanah
dan iklim yang sesuai.
Sama
seperti sistem pendidikan. Ia hanya akan berhasil pada tempat yang sesuai.
Memindahkan sistem pendidikan dari satu negara ke negara yang lain tidak akan
menghasilkan kualitas pendidikan yang sama.
Bagi
Korea Selatan jam belajar hingga 16 jam per hari dianggap kunci kesuksesannya
di bidang pendidikan. Bahkan dengan jam belajar tersebut siswa masih wajib
mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Ditambah dengan guru yang
otoriter. Kebayang betapa stres menjadi siswa di Korea Selatan.
Lain
halnya dengan Finlandia yang sempat mengagetkan dunia karena siswanya yang
berusia 15 tahun berhasil mencetak skor tertinggi pada PISA 2001. Di sini
kualitas pembelajaran lebih diutamakan daripada panjangnya waktu belajar. Jam
belajar yang pendek dinilai sebagai salah satu rahasia kegemilangan pendidikan
di negara yang mungil ini. Jangan lupa bahagia, katanya.
Sedangkan
Jepang, mendahulukan pembentukan sikap sebelum mengajari siswa dengan
pengetahuan. Di sana les sepulang sekolah masih sangat populer.
Semua
memiliki keunikan masing-masing. Sesuai dengan karakter masyarakat dan kondisi
lingkungannya.
Lalu
apa yang bisa diadopsi oleh Indonesia? Tidak ada!
Karena
Indonesia tidak sama dengan negara-negara itu semua. Luasnya wilayah. Masyarakat
Indonesia yang multikultural. Bentuk Indonesia yang berkepulauan. Dan
lingkungan alam Indonesia yang khas.
Profesor
Erno Lehtinen, guru besar pendidikan dari Universitas Turku Finlandia saat
ditanya tentang apa yang bisa ditransfer untuk Indonesia dari sistem pendidikan
di Finlandia. Dirinya menjawab, "Tak ada yang kami bisa transfer, negara
Anda harus mentransformasi sendiri."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar