Banyak peserta didik yang menganggap bahwa ilmu sosial
adalah pelajaran hafalan. Termasuk dalam pelajaran Sosiologi di tingkat SMA.
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meskipun ada beberapa konsep yang
perlu dihafal untuk dapat memahami realitas sosial sebagai obyek kajiannya.
Metode
pembelajaran yang cenderung monoton juga menjadi penyebab timbulnya kejenuhan pada
peserta didik. Peserta didik yang aktif menunjukkan kebosanannya dengan
berbicara di luar topik pelajaran dengan teman sebelahnya sehingga suasana
kelas menjadi gaduh dan kurang kondusif. Sedangkan peserta didik yang pasif
atau pendiam meletakkan kepala di atas meja, mengantuk di dalam kelas bahkan
sampai tertidur dan sering ijin meninggalkan ruang kelas untuk ke 'belakang'.
Berdasarkan
permasalahan tersebut, pada materi Kelompok Sosial guru menerapkan metode
pembelajaran dalam bentuk permainan 'Who
am I' atau 'siapakah aku?'. Penerapan
metode tersebut diharapkan keaktifan peserta didik tersalurkan demi pencapaian
kompetensi pembelajaran. Bagi peserta didik yang cenderung pasif dapat untuk
meningkatkan aktivitas belajar dan pada akhirnya meningkatkan ketercapaian
kompetensi pembelajaran.
Pembelajaran
pada kelas XI semester 1 ini diawali dengan penugasan peserta didik pada
pertemuan sebelumnya untuk mempelajari materi Kelompok Sosial melalui berbagai
sumber baik buku maupun internet.
Pada
kegiatan pembelajaran berikutnya guru membagi undian yang berisi nama-nama
kelompok sosial. Setiap peserta didik mendapatkan satu undian. Setelah
mengetahui isi undian guru meminta peserta didik untuk menemukan pasangan yang
memiliki nama kelompok sosial dengan sudut pandang yang sama. Misalnya, dilihat
dari pembagian kerja maka kelompok solideritas mekanik harus menemukan pasangan
yaitu solideritas organik. Demikian juga kelompok sosial primer harus menemukan
pasangannya yaitu kelompok sekunder. Peserta didik yang lebih dulu menemukan
pasangannya diberi pujian dan tepuk tangan sehingga memotivasi peserta didik
lain untuk segera menemukan pasangannya.
Setelah
semua peserta didik menemukan pasangan kelompok sosialnya lalu guru meminta peserta
didik berdiri melingkar bersebelahan dengan pasangan masing-masing. Kegiatan
dapat dilakukan di luar ruangan jika ruang kelas kurang memungkinkan untuk
aktivitas peserta didik. Secara berurutan peserta didik memperkenalkan diri
dengan nama kelompok sosialnya.
Setelah
semua peserta didik memperkenalkan dirinya, selanjutnya peserta didik mengenal
nama kelompok sosial yang lain secara bergilir dengan memberikan setangkai
bunga (atau bisa dengan benda yang lain). Peserta didik menyebutkan nama
kelompok sosialnya, teman di sebelah kiri dan kanannya. Misalnya dengan
mengatakan "Saya adalah kelompok sosial formal, saya menerima setangkai
bunga ini dari kelompok sosial primer dan sekunder, saya akan memberikan
setangkai bunga ini pada kelompok sosial informal."
Langkah
selanjutnya, peserta didik berdiskusi bersama pasangan mempelajari kelompok
sosialnya dari aspek pengertian, contoh nyata dan dinamika kelompok sosial
dalam masyarakat. Diskusi dapat melatih peserta didik bekerja sama secara
kolaboratif. Hasil diskusi dituliskan pada buku masing-masing. Lalu hasil
diskusi dipresentasikan tanpa menggunakan teks. Peserta didik lain bersama guru
menanggapi dengan memberikan pertanyaan dan saran pada kelompok yang
presentasi. Kegiatan presentasi menumbuhkan rasa percaya diri, terbuka dan
toleransi terhadap perbedaan. Kegiatan perbelajaran yang berlangsung 2 jam
pelajaran diakhiri dengan penugasan mandiri untuk membuat ringkasan hasil
presentasi.
Pada
pertemuan selanjutnya, guru melakukan evaluasi dengan kuis tebak kata. Kegiatan
ini dilakukan secara berpasangan. Peserta didik pertama berdiri menghadap layar
dan bertugas untuk mengarahkan jawaban. Sedangkan peserta didik kedua berdiri membelakangi
layar dan bertugas menebak kata yang muncul di layar berdasarkan arahan dari peserta
didik pertama. Tiap pasangan mendapatkan waktu lima menit untuk menebak 10 kata.
Setelah waktu 2,5 menit peserta didik yang sudah mengarahkan berganti peran
untuk menebak kata yang berada di layar.
Dalam
proses penilaian, guru dapat meminta bantuan peserta didik lain untuk
mengontrol jumlah jawaban benar dan salah. Karena kuis berlangsung cepat
sehingga terkadang sulit untuk mengecek jawaban peserta didik. Pedoman
penskoran telah ditentukan yaitu tebakan benar mendapat skor 10. Peserta didik
yang menjawab tetapi salah mendapatkan skor 2. Sedangkan peserta didik yang
tidak menjawab mendapatkan skor 0. Kuis dimainkan secara bergantian hingga
semua peserta didik mendapatkan nilai.
Penggunaan
metode permainan 'Who am I' dalam
pembelajaran Sosiologi dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas peserta
didik pada kelas yang cenderung pasif. Tetapi membutuhkan persiapan yang
matang. Karena terkadang kondisi kelas menjadi sulit dikendalikan bahkan
terkesan gaduh. Meskipun 'kegaduhan' tersebut indikator dari kelas yang hidup.
Untuk
itu sebelum kegiatan pembelajaran perlu disampaikan kepada peserta didik aturan
permainan secara jelas. Jangan sampai, ketika permainan sudah dimulai tetapi
terdapat peserta didik yang kurang memahaminya. Akibatnya, kegiatan
pembelajaran menjadi terhambat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar