Senin, 22 Juli 2019

Who am I, Bikin Sosiologi Makin Seru


Banyak peserta didik yang menganggap bahwa ilmu sosial adalah pelajaran hafalan. Termasuk dalam pelajaran Sosiologi di tingkat SMA. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meskipun ada beberapa konsep yang perlu dihafal untuk dapat memahami realitas sosial sebagai obyek kajiannya.
                Metode pembelajaran yang cenderung monoton juga menjadi penyebab timbulnya kejenuhan pada peserta didik. Peserta didik yang aktif menunjukkan kebosanannya dengan berbicara di luar topik pelajaran dengan teman sebelahnya sehingga suasana kelas menjadi gaduh dan kurang kondusif. Sedangkan peserta didik yang pasif atau pendiam meletakkan kepala di atas meja, mengantuk di dalam kelas bahkan sampai tertidur dan sering ijin meninggalkan ruang kelas untuk ke 'belakang'.
                Berdasarkan permasalahan tersebut, pada materi Kelompok Sosial guru menerapkan metode pembelajaran dalam bentuk permainan 'Who am I' atau 'siapakah aku?'.  Penerapan metode tersebut diharapkan keaktifan peserta didik tersalurkan demi pencapaian kompetensi pembelajaran. Bagi peserta didik yang cenderung pasif dapat untuk meningkatkan aktivitas belajar dan pada akhirnya meningkatkan ketercapaian kompetensi pembelajaran.
                Pembelajaran pada kelas XI semester 1 ini diawali dengan penugasan peserta didik pada pertemuan sebelumnya untuk mempelajari materi Kelompok Sosial melalui berbagai sumber baik buku maupun internet.
                Pada kegiatan pembelajaran berikutnya guru membagi undian yang berisi nama-nama kelompok sosial. Setiap peserta didik mendapatkan satu undian. Setelah mengetahui isi undian guru meminta peserta didik untuk menemukan pasangan yang memiliki nama kelompok sosial dengan sudut pandang yang sama. Misalnya, dilihat dari pembagian kerja maka kelompok solideritas mekanik harus menemukan pasangan yaitu solideritas organik. Demikian juga kelompok sosial primer harus menemukan pasangannya yaitu kelompok sekunder. Peserta didik yang lebih dulu menemukan pasangannya diberi pujian dan tepuk tangan sehingga memotivasi peserta didik lain untuk segera menemukan pasangannya.
                Setelah semua peserta didik menemukan pasangan kelompok sosialnya lalu guru meminta peserta didik berdiri melingkar bersebelahan dengan pasangan masing-masing. Kegiatan dapat dilakukan di luar ruangan jika ruang kelas kurang memungkinkan untuk aktivitas peserta didik. Secara berurutan peserta didik memperkenalkan diri dengan nama kelompok sosialnya.
                Setelah semua peserta didik memperkenalkan dirinya, selanjutnya peserta didik mengenal nama kelompok sosial yang lain secara bergilir dengan memberikan setangkai bunga (atau bisa dengan benda yang lain). Peserta didik menyebutkan nama kelompok sosialnya, teman di sebelah kiri dan kanannya. Misalnya dengan mengatakan "Saya adalah kelompok sosial formal, saya menerima setangkai bunga ini dari kelompok sosial primer dan sekunder, saya akan memberikan setangkai bunga ini pada kelompok sosial informal."
                Langkah selanjutnya, peserta didik berdiskusi bersama pasangan mempelajari kelompok sosialnya dari aspek pengertian, contoh nyata dan dinamika kelompok sosial dalam masyarakat. Diskusi dapat melatih peserta didik bekerja sama secara kolaboratif. Hasil diskusi dituliskan pada buku masing-masing. Lalu hasil diskusi dipresentasikan tanpa menggunakan teks. Peserta didik lain bersama guru menanggapi dengan memberikan pertanyaan dan saran pada kelompok yang presentasi. Kegiatan presentasi menumbuhkan rasa percaya diri, terbuka dan toleransi terhadap perbedaan. Kegiatan perbelajaran yang berlangsung 2 jam pelajaran diakhiri dengan penugasan mandiri untuk membuat ringkasan hasil presentasi.
                Pada pertemuan selanjutnya, guru melakukan evaluasi dengan kuis tebak kata. Kegiatan ini dilakukan secara berpasangan. Peserta didik pertama berdiri menghadap layar dan bertugas untuk mengarahkan jawaban. Sedangkan peserta didik kedua berdiri membelakangi layar dan bertugas menebak kata yang muncul di layar berdasarkan arahan dari peserta didik pertama. Tiap pasangan mendapatkan waktu lima menit untuk menebak 10 kata. Setelah waktu 2,5 menit peserta didik yang sudah mengarahkan berganti peran untuk menebak kata yang berada di layar.
                Dalam proses penilaian, guru dapat meminta bantuan peserta didik lain untuk mengontrol jumlah jawaban benar dan salah. Karena kuis berlangsung cepat sehingga terkadang sulit untuk mengecek jawaban peserta didik. Pedoman penskoran telah ditentukan yaitu tebakan benar mendapat skor 10. Peserta didik yang menjawab tetapi salah mendapatkan skor 2. Sedangkan peserta didik yang tidak menjawab mendapatkan skor 0. Kuis dimainkan secara bergantian hingga semua peserta didik mendapatkan nilai.
                Penggunaan metode permainan 'Who am I' dalam pembelajaran Sosiologi dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas peserta didik pada kelas yang cenderung pasif. Tetapi membutuhkan persiapan yang matang. Karena terkadang kondisi kelas menjadi sulit dikendalikan bahkan terkesan gaduh. Meskipun 'kegaduhan' tersebut indikator dari kelas yang hidup.
                Untuk itu sebelum kegiatan pembelajaran perlu disampaikan kepada peserta didik aturan permainan secara jelas. Jangan sampai, ketika permainan sudah dimulai tetapi terdapat peserta didik yang kurang memahaminya. Akibatnya, kegiatan pembelajaran menjadi terhambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...