Senin, 29 April 2019

Perlindungan dari Gangguan Jin


Kami berjalan melewati perumahan penduduk sebelum sampai pada tujuan perjalanan hari itu. Rumah dengan dinding bambu dan alas tanah liat kami lihat di sepanjang perjalanan. "Seperti di perkampungan ya bu?" kata anak di sebelahku. Kurang lebih lima menit perjalanan, sampailah kami di STIKES Surya Global (Surga) Yogyakarta.
                Setelah memasuki pintu gerbang, kami melewati lorong yang cukup panjang. Di kanan kiri terlihat kamar-kamar khas pesantren. Sesekali kami bertemu dengan santri dengan busana putih-putih. Mereka melempar senyum pada kami.
                Sampai di depan ruang pertemuan kami disambut oleh pengasuh Pesantren Surga. Siswa diarahkan untuk mengikuti praktik Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di aula bersama mahasiswa STIKES Surga. Kami dipersilakan menunggu ruang pertemuan menemui pimpinan Pesantren Surga, ustadz Sugiyono.
                Ustadz Sugiyono menceritakan awal mula berdirinya Pesantren Surga. Berbeda dengan Al Aqobah Jombang maupun Ponpes Krapyak Yogyakarta. Berdirinya STIKES Surga pada 2003 belum merupakan lembaga pendidikan islam atau pesantren. Dengan melihat pergaulan di kota Yogyakarta, para pendiri sepakat untuk mendirikan pesantren untuk menjaga para mahasiswa dari pengaruh buruk pergaulan bebas.
                Pada kesempatan tersebut ustadz Sugiyono menyampaikan bahwa kompetensi STIKES Surga fokus pada pengembangan pengobatan herbal. Dirinya melihat potensi tanaman obat di tanah air sangat luar biasa. "Potensi tanaman obat ini perlu dikembangkan" katanya. Obat-obatan kimia, ujar ustadz Sugiyono, memiliki dampak yang buruk bagi tubuh jika digunakan secara terus-menerus.
                Perbincangan semakin menarik saat ustadz Sugiyono berkisah bagaimana menangani ribuan santri yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Mahasiswa dari luar daerah, menurutnya, banyak yang dibekali oleh orang tuanya jimat perlindungan diri.
                Dengan rutinitas santri membaca al Qur'an, shalat berjamaah, dan shalat-shalat sunah lain banyak yang kemudian bereaksi. Kata beliau, banyak terjadi saat membaca al Quran tiba-tiba santrinya kesurupan. Menggulung-gulung di masjid atau berteriak-teriak. "Jangan sampai saat menolong justru menjerumuskan dengan cara-cara yang tidak syar'i" pesannya.
                Cara-cara yang selama ini digunakan dalam menangani gangguan jin, menurutnya, hanya pada tahap menyadarkan. Seperti: memijat dengan keras pada bagian tubuh tertentu, membentak dengan suara keras atau membiarkan hingga sadar dengan sendirinya.
                Ustadz Sugiyono menjelaskan, cara penanganan yang tepat dapat diawali menyadarkan dengan memijit kening antara dua bola mata, atau menepuk-nepuk pipi hingga sadar. Korban harus diposisikan paad tempat yang cukup cahaya karena jin suka pada tempat yang gelap. Setelah sadar, korban dilatih untuk mengucapkan istighfar. Jika belum berhasil dapat dibacakan surat al fatihah, an nash, al falaq dan al ikhlas. Kemudian ditiupkan ke kedua tangan untuk diusapkan pada wajah korban.
                Untuk perlindungan rumah yang terdapat gangguan jin dapat dilakukan dengan menyiapkan sebaskom air. Bacakan surat al fatihah, an nash, al falaq dan al ikhlas dan tiupkan pada air tersebut. Masukkan air pada wadah semprotan (semacam botol kispray) lalu semprotkan pada ruangan yang dikehendaki. Jika kondisi gangguan lebih berat dapat dilakukan dengan mengepel dengan air tersebut pada ruangan yang dikehendaki. Bahkan ada yang sampai digebyur (digontor). Pesan ustadz Sugiyono selalu ucapkan salam ketika masuk rumah. Juga selalu ucapkan basmalah setiap kali menutup pintu maka atas izin Allah rumah akan terjaga dari gangguan jin.
                Gangguan jin dapat terjadi pada siapa saja. Ustadz Sugiyono mencontohkan adanya pasangan yang sulit memiliki anak dengan mengacau siklus haid. Hal tersebut merupakan perbuatan jin. Demikian juga adanya orang yang sulit ketemu jodoh meskipun sudah berumur merupakan indikasi adanya belenggu jin. "Disenengi jin" kata masyarakat awam. Sehingga setiap ada yang mau melamar ada saja hambatannya.
                Perbincangan di ruang pertemuan Pesantren Surga makin asyik. Para guru antusias menanyakan permasalahan pribadi maupun sekolah. Tetapi adzan dzuhur sudah berkumandang. Pengasuh yang sedari tadi mengikuti perbincangan mempersilakan kami menuju masjid Baitus Surga untuk shalat berjamaah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...