Kami berjalan melewati perumahan penduduk sebelum sampai
pada tujuan perjalanan hari itu. Rumah dengan dinding bambu dan alas tanah liat
kami lihat di sepanjang perjalanan. "Seperti di perkampungan ya bu?"
kata anak di sebelahku. Kurang lebih lima menit perjalanan, sampailah kami di
STIKES Surya Global (Surga) Yogyakarta.
Setelah
memasuki pintu gerbang, kami melewati lorong yang cukup panjang. Di kanan kiri
terlihat kamar-kamar khas pesantren. Sesekali kami bertemu dengan santri dengan
busana putih-putih. Mereka melempar senyum pada kami.
Sampai
di depan ruang pertemuan kami disambut oleh pengasuh Pesantren Surga. Siswa
diarahkan untuk mengikuti praktik Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di aula bersama
mahasiswa STIKES Surga. Kami dipersilakan menunggu ruang pertemuan menemui pimpinan
Pesantren Surga, ustadz Sugiyono.
Ustadz
Sugiyono menceritakan awal mula berdirinya Pesantren Surga. Berbeda dengan Al
Aqobah Jombang maupun Ponpes Krapyak Yogyakarta. Berdirinya STIKES Surga pada
2003 belum merupakan lembaga pendidikan islam atau pesantren. Dengan melihat
pergaulan di kota Yogyakarta, para pendiri sepakat untuk mendirikan pesantren
untuk menjaga para mahasiswa dari pengaruh buruk pergaulan bebas.
Pada
kesempatan tersebut ustadz Sugiyono menyampaikan bahwa kompetensi STIKES Surga
fokus pada pengembangan pengobatan herbal. Dirinya melihat potensi tanaman obat
di tanah air sangat luar biasa. "Potensi tanaman obat ini perlu
dikembangkan" katanya. Obat-obatan kimia, ujar ustadz Sugiyono, memiliki
dampak yang buruk bagi tubuh jika digunakan secara terus-menerus.
Perbincangan
semakin menarik saat ustadz Sugiyono berkisah bagaimana menangani ribuan santri
yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Mahasiswa dari luar daerah,
menurutnya, banyak yang dibekali oleh orang tuanya jimat perlindungan diri.
Dengan
rutinitas santri membaca al Qur'an, shalat berjamaah, dan shalat-shalat sunah
lain banyak yang kemudian bereaksi. Kata beliau, banyak terjadi saat membaca al
Quran tiba-tiba santrinya kesurupan. Menggulung-gulung
di masjid atau berteriak-teriak. "Jangan sampai saat menolong justru
menjerumuskan dengan cara-cara yang tidak syar'i" pesannya.
Cara-cara
yang selama ini digunakan dalam menangani gangguan jin, menurutnya, hanya pada
tahap menyadarkan. Seperti: memijat dengan keras pada bagian tubuh tertentu,
membentak dengan suara keras atau membiarkan hingga sadar dengan sendirinya.
Ustadz Sugiyono
menjelaskan, cara penanganan yang tepat dapat diawali menyadarkan dengan
memijit kening antara dua bola mata, atau menepuk-nepuk pipi hingga sadar. Korban
harus diposisikan paad tempat yang cukup cahaya karena jin suka pada tempat
yang gelap. Setelah sadar, korban dilatih untuk mengucapkan istighfar. Jika
belum berhasil dapat dibacakan surat al fatihah, an nash, al falaq dan al
ikhlas. Kemudian ditiupkan ke kedua tangan untuk diusapkan pada wajah korban.
Untuk
perlindungan rumah yang terdapat gangguan jin dapat dilakukan dengan menyiapkan
sebaskom air. Bacakan surat al fatihah, an nash, al falaq dan al ikhlas dan
tiupkan pada air tersebut. Masukkan air pada wadah semprotan (semacam botol
kispray) lalu semprotkan pada ruangan yang dikehendaki. Jika kondisi gangguan
lebih berat dapat dilakukan dengan mengepel dengan air tersebut pada ruangan
yang dikehendaki. Bahkan ada yang sampai digebyur (digontor). Pesan ustadz
Sugiyono selalu ucapkan salam ketika masuk rumah. Juga selalu ucapkan basmalah
setiap kali menutup pintu maka atas izin Allah rumah akan terjaga dari gangguan
jin.
Gangguan
jin dapat terjadi pada siapa saja. Ustadz Sugiyono mencontohkan adanya pasangan
yang sulit memiliki anak dengan mengacau siklus haid. Hal tersebut merupakan
perbuatan jin. Demikian juga adanya orang yang sulit ketemu jodoh meskipun
sudah berumur merupakan indikasi adanya belenggu jin. "Disenengi jin"
kata masyarakat awam. Sehingga setiap ada yang mau melamar ada saja
hambatannya.
Perbincangan
di ruang pertemuan Pesantren Surga makin asyik. Para guru antusias menanyakan
permasalahan pribadi maupun sekolah. Tetapi adzan dzuhur sudah berkumandang.
Pengasuh yang sedari tadi mengikuti perbincangan mempersilakan kami menuju
masjid Baitus Surga untuk shalat berjamaah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar