Rabu, 24 April 2019

IPS Sejati Gapai Mimpi Raih Prestasi


Memasuki pergantian jam pelajaran menuju jam ketiga, beberapa siswa nampak bercanda di bangku depan ruang kelas. Melihat guru datang, mereka masuk kelas dengan masih bergurau dengan temannya. Saat guru masuk ke kelas dan menuju meja depan untuk meletakkan buku, sebagian siswa masih bercanda dengan suara keras. Meskipun sadar pelajaran akan segera dimulai, mereka masih terlihat asyik dengan temannya.
                Guru mengucapkan salam dan dijawab hanya oleh sebagian siswa. Siswa di bangku barisan belakang terlihat masih tertawa-tawa kurang memperhatikan ucapan salam dari gurunya.
                Setelah melakukan apresiasi, guru menanyakan tugas yang pada pertemuan sebelumnya diberikan. Satu jam pelajaran pada pertemuan sebelumnya guru mendapat tugas untuk dinas luar, sehingga siswa diberi tugas untuk dikerjakan secara mandiri. Tidak seorang pun siswa yang mengerjakan tugas. Bahkan ada yang tidak tahu sama sekali tentang tugas tersebut.
                "IPS bu, IPS bu" seru beberapa siswa laki-laki di barisan paling kiri. Seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa siswa jurusan IPS jika diberi tugas tidak dikerjakan. Seakan-akan mereka ingin menunjukkan bahwa kenakalan, kebandelan, dan anti kemapanan lainnya adalah karakter siswa IPS.
                Bukan hanya pada siswa IPS sendiri, stigma negatif tentang jurusan IPS telah ada sejak lama pada siswa, dan masyarakat(orang tua). Bahkan, di kalangan pendidik masih ada yang memiliki pandangan negatif terhadap siswa IPS.
                Seringkali siswa IPS diidentikkan dengan perilaku menyimpang di sekolah, seperti bolos sekolah, tidak disiplin berpakaian, terlambat datang, membuat gaduh di kelas, mengabaikan tugas sekolah dsb.
                Stigma negatif tersebut berdampak pada rendahnya minat orang tua dan siswa untuk masuk pada jurusan IPS. Mayoritas orang tua dan siswa memilih IPA pada pilihan pertama saat pemilihan jurusan. Jurusan IPS menjadi pilihan kedua setelah gagal masuk pada jurusan idaman, IPA.
                Stigma negatif itu pula yang menyebabkan siswa yang telah masuk pada jurusan IPS, mengidentifikasikan perilakunya sesuai dengan anggapan yang beredar dalam masyarakat. Meskipun semula tidak memiliki bakat untuk melakukan tindak menyimpang setelah masuk pada jurusan IPS mereka menyesuaikan dengan anggapan masyarakat sebagai anggota dari komunitas kelas yang menyimpang.
                Anggapan tersebut akan selalu ada dan diwariskan pada generasi IPS berikutnya jika lingkaran stigma negatif tersebut tidak diputus. Hanya siswa dan mereka yang terlibat di jurusan IPS lah yang memiliki kesempatan untuk merubah cap negatif pada jurusan IPS. Sudah saatnya siswa pada jurusan IPS membuktikan bahwa IPS bukanlah Ikatan Pelajar Stres melainkan Ikatan Pelajar Sukses. Hari-hari siswa IPS jangan lagi diisi dengan tindak penyimpangan tetapi diisi dengan prestasi-prestasi yang gemilang.
                Jika ingin menjadi IPS sejati jadilah siswa IPS yang menguasai keilmuan IPS, memiliki kemampuan analisis yang tajam, kemampuan menyampaikan gagasan di depan publik, percaya diri, pandai berorganisasi dan aktif di berbagai kompetisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...