Memasuki pergantian jam pelajaran menuju jam ketiga,
beberapa siswa nampak bercanda di bangku depan ruang kelas. Melihat guru
datang, mereka masuk kelas dengan masih bergurau dengan temannya. Saat guru
masuk ke kelas dan menuju meja depan untuk meletakkan buku, sebagian siswa
masih bercanda dengan suara keras. Meskipun sadar pelajaran akan segera
dimulai, mereka masih terlihat asyik dengan temannya.
Guru
mengucapkan salam dan dijawab hanya oleh sebagian siswa. Siswa di bangku barisan
belakang terlihat masih tertawa-tawa kurang memperhatikan ucapan salam dari
gurunya.
Setelah
melakukan apresiasi, guru menanyakan tugas yang pada pertemuan sebelumnya diberikan.
Satu jam pelajaran pada pertemuan sebelumnya guru mendapat tugas untuk dinas
luar, sehingga siswa diberi tugas untuk dikerjakan secara mandiri. Tidak
seorang pun siswa yang mengerjakan tugas. Bahkan ada yang tidak tahu sama
sekali tentang tugas tersebut.
"IPS
bu, IPS bu" seru beberapa siswa laki-laki di barisan paling kiri. Seolah-olah
mereka ingin mengatakan bahwa siswa jurusan IPS jika diberi tugas tidak
dikerjakan. Seakan-akan mereka ingin menunjukkan bahwa kenakalan, kebandelan,
dan anti kemapanan lainnya adalah karakter siswa IPS.
Bukan hanya
pada siswa IPS sendiri, stigma negatif tentang jurusan IPS telah ada sejak lama
pada siswa, dan masyarakat(orang tua). Bahkan, di kalangan pendidik masih ada
yang memiliki pandangan negatif terhadap siswa IPS.
Seringkali
siswa IPS diidentikkan dengan perilaku menyimpang di sekolah, seperti bolos
sekolah, tidak disiplin berpakaian, terlambat datang, membuat gaduh di kelas, mengabaikan
tugas sekolah dsb.
Stigma
negatif tersebut berdampak pada rendahnya minat orang tua dan siswa untuk masuk
pada jurusan IPS. Mayoritas orang tua dan siswa memilih IPA pada pilihan
pertama saat pemilihan jurusan. Jurusan IPS menjadi pilihan kedua setelah gagal
masuk pada jurusan idaman, IPA.
Stigma
negatif itu pula yang menyebabkan siswa yang telah masuk pada jurusan IPS,
mengidentifikasikan perilakunya sesuai dengan anggapan yang beredar dalam
masyarakat. Meskipun semula tidak memiliki bakat untuk melakukan tindak
menyimpang setelah masuk pada jurusan IPS mereka menyesuaikan dengan anggapan
masyarakat sebagai anggota dari komunitas kelas yang menyimpang.
Anggapan
tersebut akan selalu ada dan diwariskan pada generasi IPS berikutnya jika
lingkaran stigma negatif tersebut tidak diputus. Hanya siswa dan mereka yang
terlibat di jurusan IPS lah yang memiliki kesempatan untuk merubah cap negatif
pada jurusan IPS. Sudah saatnya siswa pada jurusan IPS membuktikan bahwa IPS
bukanlah Ikatan Pelajar Stres melainkan Ikatan Pelajar Sukses. Hari-hari siswa
IPS jangan lagi diisi dengan tindak penyimpangan tetapi diisi dengan
prestasi-prestasi yang gemilang.
Jika
ingin menjadi IPS sejati jadilah siswa IPS yang menguasai keilmuan IPS,
memiliki kemampuan analisis yang tajam, kemampuan menyampaikan gagasan di depan
publik, percaya diri, pandai berorganisasi dan aktif di berbagai kompetisi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar