Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya
sampai juga di SMA Buluspesantren. Tempat melaksanakan tugas sebagai pengawas
UNBK tahun 2019. Seorang satpam yang berbadan ceking menyambut di halaman
sekolah. "Parkir di dalam ya!" seru pak satpam mengira aku peserta
ujian di sekolahnya. Setelah menyadari, dia berkata "Monggo bu, parkir di sini saja"sambil menunjuk tempat parkir
di sebelah masjid.
Di
tempat parkir aku bertemu dengan guru yang mengajar di SMA Buluspesantren. Kami
bertegur sapa. Kami sudah saling kenal meskipun lupa dengan nama. Guru tersebut
yang kemarin mengawas USBN di sekolahku selama 8 hari. "Ruang pengawas, di
sebelah sana" katanya sambil menunjuk ke arah ruangan ketiga dari arah
utara.
Sekelompok
peserta ujian nampak bergerombol di depan labkom mendiskusikan sesuatu, mungkin
soal-soal ujian. Beberapa di antaranya melempar senyum saat melihatku melintas
di depannya. Sebagian yang lain sibuk menekuni buku yang ada di tangannya.
Di
ruang pengawas baru ada dua orang pengawas dan seorang panitia yang tidak
mengenakan jilbab. Setelah bertegur sapa, panitia mempersilakan kami untuk
minum dan menikmati sarapan. Nampak makanan dengan warna merah dibungkus mika
bening. Di sebelahnya terdapat dua jumbo, yang ditempel tulisan di luarnya. Teh
dan kopi.
Beberapa
menit kemudian pak Budi, rekan yang sama-sama dari satu sekolah datang.
Jalannya agak terseok, katanya jempol kakinya terkena standar motor. Setelah
menyapa pengawas dari sekolah lain, Pak Budi menghampiriku " Ndi surat tugase?'' tanyanya sambil membuka
amplop yang terletak di atas meja. "Sampun
tak aturke panitia, pak.." jawabku sambil menyeruput teh manis hangat.
Sesi 1
Setelah
berbincang sejenak kami beranjak menuju lab komputer, tempat dilaksanakannya
UNBK. Tidak terdengar bel tanda masuk, tapi waktu sudah menunjukkan pukul
07.20.
Bersama
pak Fajar dari SMA Klirong kami menuju Labkom 1. Aku tahu namanya di daftar
hadir pengawas ketika tadi tanda tangan. Di ruangan sudah ada 2 orang, mungkin
proktor dan teknisi. Kami duduk di kursi yang sudah tertata rapi depan whiteboard. Di meja sudah tersedia
daftar hadir peserta ujian, kartu ujian dan kertas buram.
Di
belakang kami peserta ujian antri masuk ke ruangan. "Sekalian absen nda
bu?" tanya peserta ujian yang masuk paling depan. "Ya, boleh."
jawabku singkat. Setelah absen rangkap 3 peserta ujian mengambil kertas buram
yang berada tepat di depanku.
Semua peserta
ujian masuk dengan tertib seperti sudah dikondisikan sebelumnya. Secara
berurutan mereka masuk, tanda tangan absen, mengambil kertas buram kemudian
menuju komputer masing-masing.
Aku
memberi isyarat pada pak Fajar untuk memulai kegiatan sesi 1 di pagi itu.
"Silakan salah satu memimpin doa" perintah pak Fajar. Seorang peserta
ujian, mungkin ketua kelas mengikuti perintah pak Fajar. Selesai berdoa seorang
peserta ujian berseru " Kartu ujian belum pak!" sambil menoleh ke
arah dua orang yang duduk di dekat pintu masuk. "Ini ambil dan
bagikan!" kata bapak muda tapi rambutnya nampak sudah memutih.
Sesaat
suasana hening. Seorang peserta ujian mengintip kami dari balik komputernya.
Mengetahui kami tidak menyampaikan apa pun, laki-laki yang kukira proktor
berdiri keluar dari tempat duduknya yang agak terjepit di antara meja komputer.
"Hari
ini materi ujian bahasa Inggris. Pada sesi listening
akan ada suara. Kalian tidak perlu panik. Jika ada masalah cukup acungkan jari,
nanti saya datang" jelasnya. "Ya, pak" jawab peserta ujian
sambil memasang headset di telinga
masing-masing.
Proktor
melangkah ke arah komputer yang berada di dekat pintu masuk. Sejenak dia
memperhatikan layar komputer. Kemudian menuliskan token di whiteboard di
belakang kami. "XVBXYQ" ucapnya. Beberapa peserta ujian menengok ke
arah tulisan. "Apa pak?"seru peserta ujian laki-laki yang duduk di
pojok ruangan. Laki-laki yang kemudian kuketahui adalah proktor membaca ulang token pada sesi tersebut.
Selama
ujian berlangsung peserta ujian fokus pada layar komputer di depannya. Sebagian
peserta ujian melepas headset setelah
ujian berlangsung 20 menitan. Beberapa peserta ujian terlihat masih mengalungkannya
di leher.
Kulirik
sedikit pengawas di sampingku. Pak Fajar terlihat sedang mengantuk. Sesekali
dia terbatuk. Kami tidak bercakap sedikit pun di ruang ujian.Hanya ketika masuk
tadi sempat kutanyakan tempatnya bertugas. "SMA Klirong" jawabnya
singkat.
Di
dekat pintu masuk proktor dan teknisi terdengar memperbincangkan sesuatu.
Ketika kulirik, laki-laki berbaju coklat yang kuduga teknisi melotot. Tapi
karena memang bentuk matanya yang lebar dan agak menonjol keluar.
Menunggu
tanpa melakukan sesuatu memang terasa membosankan. Dilarang berbicara, tidak
diperkenankan membawa alat komunikasi maupun membawa buku bacaan. Beberapa kali
aku menguap. Benar-benar mulai jenuh. Iseng kuhitung jumlah peserta ujian. Ada
22 orang, tujuh laki-laki dan sisanya perempuan. Ada dua komputer yang tidak
terpakai, mungkin untuk cadangan. Kutengok jam yang ada di atasku, ah masih
8.30.
Proktor
dan teknisi yang sedari tadi ngobrol keluar ruangan. Kulirik pengawas di
sebelahku masih juga mengantuk. Hanya sudah ganti pose. Semula menunduk,
sekarang tangan menyanggah dagu. Melihatnya sebenarnya ingin tertawa tapi
kutahan. Eh, ganti pose lagi. Sekarang tangan menyilang di dada dan kepala
mendongak ke belakang bersandar pada whiteboard.
Untuk
menghalau rasa bosan, aku bangun dari tempat duduk. Melangkah ke arah pintu.
Membaca-baca tempelan kertas di dinding. Mengamati dari dekat layar komputer
yang menayangkan soal-soal. Di sana tertera sisa waktu 01.00. Huh… aku menghela
nafas panjang.
Aku kembali duduk di kursi kayu yang sejak pagi kududuki.
Hawa hangat di kursi sudah hilang setelah kutinggal sebentar. Tengok kana
tengok kiri, hening. Hanya suara keyboard
komputer yang sesekali terdengar.
Pak
Fajar menyodorkan selembar kertas sambil mengatakan sesuatu yang tidak begitu
jelas kudengar. Daftar hadir peserta ujian yang harus kutandatangani.
Kutuliskan nama, NIP dan kububuhkan tanda tangan rangkap 3. Hanya ada dua kolom
untuk tanda tangan. Satu untuk proktor dan satu untuk pengawas. Biar sesi 1 aku
yang tanda tangan, nanti sesi 2 gantian pak Fajar, pikirku. "Krucuk-krucuk…." terdengan tanda
alam dari perutku. Semoga tidak terdengar oleh orang lain, harapku.
Kembali
kulangkahkan kaki ke arah pintu. Duduk di kursi kayu berbentuk lingkaran
seperti yang biasa ada di warung bakso. Beberapa peserta ujian melirikku tanpa
ekspresi. Pak Fajar yang sedari tadi ngantuk atau bahkan mungkin tidur
terbangun saat mendengar langkah sepatuku. Basa-basi aku bertanya dengan suara
pelan agar tidak mengganggu konsentrasi peserta ujian. Tentang mapel yang
diajarkan, almamater dan berapa lama sudah menjadi guru. "Sejak 2009"
katanya. Sebentar berbincang, guru Olahraga tersebut kembali memejamkan mata.
Terdengar
pintu dibuka dari arah luar. Proktor kembali masuk ruangan. Berjalan mendekati
meja pangawas dan menanyakan daftar hadir. Kertas yang sudah kutandatangani
kusodorkan padanya. Setelah daftar hadir di tangannya, dia menuju komputer di
dekat pintu masuk. Terdengar suara ketikan keyboard
diikuti suara gaduh printer. "Leres nggih?" tanya pak Proktor
sambil menunjuk nama yang tercetak pada berita acara. Kucermati data yang
ditunjukkan. "Nggih.."
jawabku setelah yakin data yang tercetak benar.
Aku
kembali berdiri dan mendongakkan muka ke dekat layar komputer peserta ujian.
Terlihat sisa waktu: 0014. "Mohon perhatian sebentar" kataku memecah
keheningan. Peserta ujian mengalihkan pandangan dari layar komputer ke arahku.
"Sisa waktu kurang lebih seperempat jam. Silakan untuk soal yang belum
dijawab untuk diselesaikan. Jawaban yang masih ragu-ragu untuk diyakinkan.
Manfaatkan waktu sebaik-baiknya ya!" jelasku. "Ya, bu" jawab
peserta ujian kembali menekuni soal di layar komputernya.
Seperempat
jam kemudian dari layar komputer nampak peserta ujian sudah melakukan logout. Beberapa peserta ujian terlihat
berbincang dengan teman sebelahnya. Mungkin mendiskusikan soal yang baru saja
mereka kerjakan. Suasana sedikit gaduh. "Kartu ujian dikumpulkan
lagi" kata proktor yang kutahu namanya Achmad Nurcholis dari berita acara
yang baru saja kutandatangani. Seorang peserta ujian yang wajahnya mirip Adi
Pratama tetanggaku berkeliling mengumpulkan kartu ujian dan memberikan pada
pengawas.
"Gimana
pak, peserta ujian sudah bisa keluar?" tanyaku pada pak Achmad. "Ya
silakan" jawabnya. Aku mempersilakan peserta ujian untuk keluar ruangan. Mereka
antri menjabat tangan pengawas dan meninggalkan ruang ujian. Dapat satu sesi,
batinku.
Sesi 2
Masih
bersama pak Fajar kami menuju labkom 1. Saat masuk ruangan ujian masih kosong.
Beberapa saat kemudian peserta ujian masuk. Berbeda dengan sesi satu, kali ini
di meja belum tersedia daftar hadir. Beberapa peserta ujian berjabat tangan
dengan pengawas dan mengambil kertas buram. Sebagian yang lain langsung menuju
tempat duduk sesuai nomor ujian. Tanpa dikomando, seorang peserta ujian
memimpin doa dan menyampaikan salam.
Dua
kursi nampak masih kosong. "Mungkin masih di belakang bu" kata peserta
ujian berkacamata yang duduk di samping kursi pengawas. Seorang guru dari balik
pintu menengok ke dalam ruang ujian dan menanyakan keberadaan peserta ujian
yang belum hadir. "Siapa yang punya nomer hape Imron?'' tanya proktor pada
peserta ujian. Peserta ujian hanya saling tunjuk.
Sekitar
lima menit kemudian, masuk dua peserta ujian laki-laki. "Huuuuh…"
sorak peserta ujian yang sedari tadi sedikit gaduh. Setelah menjabat tangan
pengawas kedua peserta ujian yang agak terlambat menuju tempat duduknya. Peserta
ujian nampak sudah siap memulai ujian. Bahkan terkesan sudah tidak sabar untuk
melakukan login.
Proktor
berdiri di dekat komputer cadangan. "Untuk listening, cermati tombol volume. Kalau ada masalah silakan tunjuk
jari, saya akan datang" katanya memberi arahan.
Setelah
mencermati layar komputer di dekat pintu, proktor menuliskan token di whiteboard. "PSHKGC" ucapnya sambil menulis. Seorang
peserta ujian menirukan sambil diplesetkan "PSK…." Beberapa teman
menertawakannya.
Peserta
ujian nampak sudah fokus dengan komputer masing-masing. Headset sudah terpasang sejak memulai login. Mereka terlihat asyik memperhatikan gambar-gambar pada sesi listening. Terlihat gambar orang, gambar
hewan, bangunan dan kelompok orang.
Proktor
menyodorkan berita acara, laporan sekolah dan daftar hadir peserta ujian. Semua
ragkap tiga. Aku agak terkejut ketika namaku yang kembali tertera di sana.
Kukira untuk sesi 2 gantian pak Fajar, ternyata tidak. "Ini nanti setelah listening selesai" kata proktor
sambil menunjuk daftar hadir peserta ujian. Aku mengangguk tanda mengerti.
Layar
komputer di depan peserta ujian tampak tulisan-tulisan dengan paragraf yang
panjang. Tidak terlihat lagi gambar-gambar. Beberapa peserta ujian melepas headset dan menggantungkannya di atas
samping layar komputer. Sebagian masih mengenakannya. " Maaf, apa ada yang
masih menyelesaikan sesi listening?"
tanyaku. "Ada" jawab peserta ujian yang berada di pojok ruangan
sambil mengacungkan tangan. "Oke, silakan diselesaikan dulu" kataku
mengurungkan niat untuk mengedarkan daftar hadir.
Ketika
semua peserta ujian sudah melepas headsetnya,
kuambil daftar hadir dan kuedarkan satu per satu. Sampai pada peserta nomer 8
yang duduk di pojok sebelah kanan ruangan. "AC dimatikan pa bu,
panas" katanya sambil mengibas-ibaskan tangan ke arah muka. "Ya,
nanti dibesarkan AC-nya" jawabku. "Yang bikin panas AC-nya apa
soalnya?" tanyaku sambil menggeser daftar hadir ke arahnya. Peserta ujian
yang celananya berlobang di bagian lutut itu hanya tertawa.
Daftar
hadir kuedarkan sampai pada peserta dengan nomer komputer 22. Peserta terakhir
ini mirip Taufiq, teman waktu SMP dulu. Laki-laki dengan kulit putih seperti
Cina dan berambut pirang.
Aku
memencet tanda plus(+) pada remote AC, tapi tidak berpengaruh. "Error kayaknya" kata pak Fajar
sambil bangkit dari tempat duduknya. Ini pertama kali kulihat pak Fajar lepas
dari kursinya selama mengawas di ruang ujian. Dia pun mencoba memencet tombol
untuk mendinginkan suhu ruangan. Tapi kelihatannya tidak berhasil.
Aku
berjalan mendekati peserta ujian yang sedari tadi mengeluh kepanasan.
Kusarankan untuk menyalakan kipas angin yang ada di sebelahnya. Dia pun
menggeser kipas angin mendekati colokan listrik. Beberapa temannya
memperhatikan sambil tersenyum.
Di
layar komputer peserta ujian yang
berjarak sekitar 2 meter dari tempat dudukku terlihat sisa waktu: 00.30. Sebagian besar peserta ujian masih menekuni
soalnya. Dua peserta ujian di antara mereka terlihat mengantuk sampai tertidur.
Hingga akhirnya terbangun dengan sendirinya.
"Shalat riyen, Bu!" kata pak Fajar
sambil beranjak dari tempat duduknya. "Nggih,
monggoh" jawabku mempersilakan. Badannya yang tambun dengan batik
Kebumen warna biru meninggalkan ruang ujian. Dari jendela nampak dia berjalan
ke arah masjid di sebelah tempat parkir.
Seperempat
jam kemudian pak Fajar kembali. "Gentosan
nggih pak" kataku beranjak menuju pintu keluar. Aku meminta ijin pada
proktor yang sedang menekuni komputernya untuk ke masjid sebentar. Proktor
mengangguk.
Sekembali
dari masjid, peserta ujian nampak sudah melakukan logout. Suasana gaduh. Beberapa peserta ujian sudah berdiri hendak
keluar ruangan. "Berdoa dulu yuk" seru seorang peserta ujian. Selesai
berdoa mereka aku persilakan meninggalkan ruang ujian. Antri mereka berjabat
tangan dengan pengawas dan proktor. Sebelum keluar ruangan proktor memintaku
untuk menunggu tanda tangan laporan sekolah. Aku meminta untuk membawanya ke
ruang pengawas. Proktor menyetujuinya. Diikuti pak Fajar di belakang kami
keluar dari ruang ujian. Hah, lega!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar