Setelah menempuh perjalanan sekitar 4,5 jam akhirnya kami
sampai di Hotel Siliwangi, Semarang, tempat diselenggarakannya OGN (Olimpiade
Guru Nasional) tahun 2019 selama dua hari (22-23/03/2019). Dari Kebumen kami
berangkat bertiga. Saya, bu Asih dari SMA Negeri 1 Kebumen dan pak Bisri dari
SMA Pejagoan. Bu Asih adalah teman MGMP
pada mapel Sosiologi. Sedangkan pak Bisri
mengampu mapel Fisika. Kami baru kenal dengan guru yang agak gendut tersebut
karena sama-sama peserta seleksi OGN tahun ini. Rekan guru di sekolah yang
memberikan kontak beliau agar dapat sama-sama berangkat ke Semarang.
Di lobi
hotel suasana masih sepi. Semula kami akan beristirahat di kursi depan sambil
menunggu peserta yang lain hadir. Tetapi, seorang karyawan hotel mempersilakan
kami untuk masuk. Kami pun menerima tawaran tersebut. Terlihat meja dan kursi
panitia masih kosong. Hanya ada tumpukan tas yang nantinya akan dibagikan untuk
peserta seleksi OGN ini.
Kami
duduk di sofa empuk yang tersedia di dekat pintu masuk. Dua orang resepsionis
yang sedari tadi berbincang menyapa kami. Mereka menjelaskan bahwa kamar hotel
dapat dihuni tiga orang. Kami diizinkan cek
in jika sudah lengkap ada tiga orang. Kami kembali menunggu sambil
istirahat setelah merasa lelah dalam perjalanan menggunakan shuttle tadi.
Setelah
beberapa saat datang seorang ibu muda cantik sambil menarik koper ukuran kecil
ke arah resepsionis. Setelah tahu dia sama-sama peserta OGN, kami tawarkan
kepadanya untuk satu kamar. Tanpa merasa keberatan, wanita tersebut menerima
tawaran kami. Resepsionis mempersilakan kami mengisi data diri berupa nama,
asal sekolah dan nomor telepon.
"Mari
saya antar" kata seorang karyawan hotel kepada kami. Kami pun mengikuti
laki-laki tersebut memasuki lift.
Setelah sampai pada kamar 316 pada lantai 3 karyawan membukakan pintu dan
mempersilakan kami masuk. Karyawan hotel menjelaskan sepintas tentang
penggunaan fasilitas kamar hotel.
Kami
mengamati kamar. Dua tempat tidur dan sebuah kasur busa bersandar ke tembok.
Meja, almari, dan kamar mandi yang tata letaknya mengingatkan saya pada hotel
Ambhara di Jakarta. "Biar saya yang tidur di bawah" kata guru cantik
yang kami belum sempat berkenalan dengannya. Dia langsung merobohkan kasur busa
ke lantai. Dengan cekatan dia membuka koper dan menata barang bawaannya.
Sambil santai
sejenak kami bincang-bincang dan saling memperkenalkan diri. Ternyata guru
cantik itu mengajar mapel Bahasa Inggris di SMK N 1 Pemalang. Namanya Nanik
Setyowati, saya baca di map yang dibawanya. Dia wanita dengan kepribadian ekstrofet, baru beberapa menit kami
kenal, dia sudah membuka diri dengan menceritakan kehidupannya.
Kami
satu kamar bertiga. Saya, bu Nanik yang baru saja kami kenal dan bu Asih teman
yang sama-sama dari Kebumen. Dengan bu Asih, selain kami sama-sama dari MGMP
Sosiologi, kami pernah bersama-sama ketika mengikuti kegiatan Pelatihan
Narasumber Nasional pada Program Guru Pembelajar di Hotel Ambhara Jakarta tahun
2016. Kami pun pernah berada pada forum yang sama saat mengikuti FGD Uji
Keterbacaan Modul di Hotel Aria Gajayana Malang pada tahun 2017. Tapi kami baru
berada satu kamar pada kegiatan OGN kali ini.
Tiba-tiba
telepon berdering. Kami kira handphone
yang berbunyi. Kami sempat mengecek handphone
masing-masing. Meskipun jelas-jelas bukan suara ringtone hp kami. Ternyata telepon kamar yang berbunyi. Saya angkat
dan terdengar suara pelan dari bagian resepsionis mempersilakan kami untuk
registrasi di lantai bawah.
Kami
segera bersiap-siap untuk turun. Tapi bu Asih masih terlihat santai.
"Nanti saja, sekalian makan siang" katanya. Kami pun sepakat.
Saat
turun untuk melakukan registrasi, terlihat lobi hotel sudah dipenuhi peserta
OGN. Kami langsung antri untuk mendapatkan formulir pendaftaran. Saya
perhatikan satu persatu wajah-wajah yang sedang sibuk mengisi data diri. Tak
satu pun yang kenal.
Setelah
mengisi daftar hadir kami mendapatkan formulir untuk diisi. Saya perhatikan
sekeliling untuk mendapatkan tempat yang strategis untuk menulis. Nah, itu dia
kursi kosong. Langsung saya menuju ke sana. Saya duduk persis di depan ibu guru
cantik yang sedang mengisi formulir. Saya perhatikan ibu guru tersebut.
"Bu Nafsul…" panggilku pada wanita itu. "Hei, bu Faidah, kita
ketemu di sini" sahutnya sambil jabat tangan dan cium kanan kiri. Bu
Nafsul Mutmainah adalah guru Sosiologi di SMA Gemolong Sragen. Kami rekan satu
MGMP ketika saya masih bertugas di SMA Gondang Sragen sekitar tiga tahun lalu.
Kami pun bincang-bincang menanyakan kabar sambil mengisi formulir
masing-masing.
Formulir
yang telah terisi kami kembalikan pada panitia. Kami pun mendapatkan
seperangkat fasilitas berupa tas, co-card,
notebook dan pulpen.
Panitia
memberi tawaran kami untuk makan siang. Peserta laki-laki dipersilakan memilih
untuk makan siang atau shalat Jumat lebih dulu. Kami bertiga bersama rekan satu
kamar sepakat untuk makan siang lebih dulu. Memang ini yang sudah
ditunggu-tunggu karena sejak pagi belum sarapan akibat berangkat terlalu pagi.
Kami pun menuju restoran Srikandi.
Selesai
menikmati makan siang perdana di hotel Siliwangi, kami kembali ke kamar untuk
menunggu waktu pembukaan yang akan dimulai pukul 13.00. Di lift kami bertemu
dengan peserta lain, pertanyaan yang selalu kami ajukan setiap kali bertemu
dengan peserta lain "dari sekolah mana, mengampu mapel apa?"
Acara
pembukaan dilaksanakan di ruang pertemuan lantai 2. Saat kami sampai di tempat pembukaan,
baru ada beberapa peserta yang sedang berbincang dan selfi di dekat banner.
"Duduk di depan aja yuk, biar bisa dengar jelas" usul bu Nanik. Kami
pun menuju kursi urutan ke tiga dari depan. Sambil menunggu kami ikut berfoto
dan berkenalan dengan guru yang ternyata dari Solo. Mereka menawari kami sosis
asli Solo.
Acara
dibuka secara resmi oleh Kabid Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi
Jawa Tengah, Eris Yunianto, S.Pd., M.Pd. Dalam kesempatan tersebut pihaknya
berpesan agar setiap kegiataan yang dilakukan oleh guru hendaknya berorientasi
pada peserta didik. Demikian pula, keikutsertaan dalam kegiatan OGN diharapkan
untuk meningkatkan pelayanan pada peserta didik. Selain itu, Eris juga
menyampaikan pentingnya revitalisasi MGMP guna membangun kemandirian MGMP. Guru
peserta OGN diharapkan dapat menjadi pioner untuk mencapai tujuan tersebut.
Selepas
acara pembukaan, peserta seleksi OGN mendapatkan materi tentang pedagogik dari dosen
UNNES. Materi kedua tentang materi profesional mapel disampaikan oleh Arif Ediyanto,
Guru Teladan dengan seabreg prestasi. Tetapi guru Matematika dari SMK Kendal
tersebut justru fokus pada pemberian motivasi untuk berprestasi dan pengenalan
soal-soal pedagogik yang HOTS.
Pada
malam harinya kami mendapat pengarahan dari Tim OGN Pusat tentang teknik
pelaksanaan ujian online. Panitia menyampaikan bahwa ujian akan dilaksanakan
dalam 2 sesi. Sesi pertama peserta dengan nomer urut 1-140. Sesi kedua peserta
dengan nomer urut 141-241. Syukurlah kami satu kamar dapat mengikuti ujian sesi
pertama. Saya nomer 135, bu Asih nomer 139 dan bu Nanik nomer 140. Tadinya kami
sempat khawatir, jangan-jangan kami mendapatkan sesi kedua.
Pagi
hari setelah sarapan pagi kami diantar menuju SMA 3 Semarang, tempat
pelaksanaan ujian online. Kami
bertiga dengan 34 peserta lain ujian di lab 4. Saat login saya sempat mengalami kesulitan. Beberapa teman membantu
tetapi belum berhasil. Biasanya saya masuk dengan menggunakan username NUPTK.
Tapi kali ini selalu gagal. Saya coba dengan email, ternyata bisa.
Sambil
menunggu waktu tepat pukul 08.00 saya berbincang dengan teman sebelah tempat
duduk. Ibu guru mapel Ekonomi tersebut bercerita tentang prestasi-prestasinya. Outdor study yang biasa dilakukan dengan
siswanya dan buku karyanya yang ditandatangani pak Anis Baswedan. Dirinya pun
mengatakan tahun lalu sudah berpengalaman mengikuti OGN. Saat ujian sudah
berlangsung, saya sempat meminta kontak handphonenya
untuk dapat berbagi dan belajar.
Soal
ujian online dapat saya selesaikan dalam waktu satu jam lebih. Meskipun
demikian ada rasa kecewa melihat soal-soal yang diujikan. Sepintas mirip dengan
soal simulasi kemarin. Bahkan kesalahan soal saat simulasi masih belum
diperbaiki dalam ujian online
tersebut. Seperti terdapat soal yang tidak memiliki stem soal (pertanyaan). Terdapat juga beberapa nomer dengan soal
yang sama. Yang lebih bikin gelo,
terdapat soal yang menanyakan nama tokoh yang mengungkapkan definisi tertentu.
Seperti "Perubahan sosial adalah bla bla bla, Definisi tersebut
dikemukakan oleh…. A. Kingsley Davis, B…., C….. dst.
Saya
keluar ruang ujian dengan masih memendam rasa. Bu Asih nampak sudah berada di
luar ruangan. Kami menunggu teman lain keluar ruangan sambil menikmati snack
yang disediakan panitia. Saya teringat kata-kata peserta ujian yang tadi
melintas. "Ikuti ujian kemudian lupakan". Meski berusaha melupakan ujian
tadi, kami justru membicarakan soal-soal tadi dengan bu Asih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar