Minggu, 17 Maret 2019

Pelajaran Seorang Murid kepada Gurunya



                Sore itu, seorang wanita paruh baya menikmati waktu menjelang maghrib di teras rumah. Ia bercanda dengan kedua putrinya yang masih berusia kurang dari 6 tahun. Sesekali menyapa tetangga yang pulang dari sawah. Ada yang sambil memikul rumput untuk pakan ternak mereka. Ada yang hanya membawa peralatan cangkul di pundaknya.
                Seorang pengendara motor lewat dengan membawa keranjang di kanan kirinya. Dari kejauhan nampak dia menganggukkan kepala menyapa wanita tersebut. "Nggih, monggo!" sahut wanita yang sedari tadi duduk di kursi sambil mengawasi anaknya yang berlarian memainkan dolanan polisi-maling. "Ling ling ling sapa sing dadi maling, si si si sapa sing dadi pulisi" seru anak-anak sambil mengacung-acungkan jari saling tunjuk.
                Kembali sebuah sepeda motor melintas. Seorang lelaki dengan keranjang di kanan-kiri seperti penjual degan. Dari jauh dia menoleh ke arah rumah tempat wanita itu bercengkerama bersama kerabatnya. Melihat gelagat pengendara motor, wanita tersebut menduga pengendara motor adalah orang yang biasa membeli buah nangka atau sukun yang tumbuh di halamannya.
                Setelah melewati rumah sekitar seratus meter, pengendara motor tersebut berbalik arah. Dia mengarahkan motornya menuju tempat wanita itu bersantai. Nampak dia tersenyum. Setelah dekat, dia matikan mesin motor dan melepas helmnya. "Pangling mboten, Bu Ning?" katanya sambil berjalan menuju tempat duduk di teras rumah.
                "Sinten nggih?" sahut wanita yang dipanggil bu Ning balik bertanya. Dia merasa pernah melihat lelaki itu. Tapi kapan dan di mana, masih sulit untuk diingat.
                "Bambi Bu…" kata lelaki itu sambil mengajak berjabat tangan. "Ooooo, ya Allah, pangling" balas bu Ning sambil memperhatikan laki-laki yang ternyata dikenalnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
                Masih sambil mengamati lelaki di depannya, ingatan bu Ning kembali pada masa sekitar sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu Bambi masih kelas II SMP. Dia sering terlambat tiba di sekolah. Dengan sepeda jengkinya dia datang dengan tergopoh-gopoh. Keringat membasahi kening dan punggungnya. Tas hitam terselip di pinggang seperti punya tukang kredit.
                "Assalamualaikum, pak" sapa Bambi sambil mencium tangan seorang guru yang berdiri di dekat parkir sepeda. "Waalaikum salam, telat lagi ya?" kata guru yang mengenakan kaos olahraga itu. "Iya, pak, maaf…" jawab Bambi sambil buru-buru berlari menuju kelas.
                Jarak rumah Bambi paling jauh di antara teman sekolahnya. Jarak yang umumnya ditempuh dengan naik angkot, harus dia tempuh dengan mengayuh sepeda jengkinya. Sepeda yang sudah dilepas boncengan dan remnya.
                Di ruang guru Bambi pun tidak jarang jadi perbincangan para guru. Meskipun usianya lebih tua dibanding teman-teman satu kelasnya, kemampuannya relatif rendah di bawah rata-rata. Dia sudah berhenti sekolah dua tahun, dan mendaftar kembali di kelas I SMP.
                "Soal 10 Bambi kur bener 2" kata seorang guru yang berbadan relatif subur. "Ra popo Bu, sing penting akhlake apik" sahut guru yang duduk di belakangnya membela Bambi. Bambi bukan hanya memiliki perilaku yang baik, dia pun sering kali dimintai bantuan bapak ibu gurunya mengerjakan berbagai pekerjaan, seperti membawakan minuman, membeli makanan di kantin, bahkan kadang diminta memijit punggung guru laki-laki di sekolahnya.
                "Bu Ning sehat?" tanya Bambi membuyarkan lamunan bu Ning. "Ya, alhamdulillah sehat…" jawab bu Ning agak kaget.
                Setelah mempersilakan Bambi duduk dan menanyakan kabarnya, bu Ning masuk ke rumah. Beberapa saat kemudian wanita itu keluar dengan membawa segelas teh hangat, sepiring buah pisang dan setoples kue kering. "Ayo Bam diminum…" kata bu Ning mempersilakan mantan muridnya menikmati sajian yang dibawanya. "Nggih Bu, maturnuwun" jawabnya sambil mengangguk sopan.
                Keduanya bercerita tentang kehidupan masing-masing. Bu Ning sejak Bambi kelas II SMP mendapatkan tugas mengajar di daerah lain. Hingga akhirnya dapat kembali ke daerahnya setelah mengajukan mutasi. Saat ini telah memiliki dua orang anak, yang berusia lima setengah tahun dan dua setengah tahun. Semuanya perempuan.
                Bambi yang dulu agak gemuk, sekarang makin langsing. Tapi hitamnya masih belum berubah. Dia sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Sehari-hari dia bekerja sebagai penjual pisang. Dia beli pisang dari para petani, kemudian dijual pada juragannya.
                "Anakku yo mesti njaluk jajan" katanya menceritakan anaknya. "Nek ora nggobali jajan yo muter-muter ning kranjang nggolet gedang sing mateng. Terus diputhel" ceritanya antusias. Dia pun tanpa malu-malu menceritakan tentang suka duka menjadi penjual pisang. Terkadang harus tombok membeli pisang yang sudah matang untuk jajan anaknya.
                Bambi berdiri dari kursinya dan meminum segelas teh di depannya sekaligus. Makanan yang dihidangkan tidak ada satu pun yang dicicipinya. "Sampun sonten, tak pamit lah Bu" kata Bambi sambil merogoh sakunya. Dia mengeluarkan uang yang dilipat rapi. Nampak pada lipatan paling luar uang 2000an. Dia ambil pada lipatan yang di dalam, 5000an dua lembar.
                "Nyah, nggo tumbas jajan" katanya sambil membungkuk menyodorkan uang pada anak kecil di depannya. "Eeeee, ojo repot-repot Bam! kata bu Ning mencegah. Tapi uang itu sudah diterima oleh anaknya. "Ayo bilang apa?" kata bu Ning mengajari anaknya berterima kasih.
                Bambi bergegas menuju motornya. Beberapa kali dia menggenjot pedal untuk menyalakan mesin. "Riyen nggih Bu…" seru Bambi setelah motornya bunyi. "Nggih monggoh-monggoh" jawab bu Ning sambil melambaikan tangan.
                Sepeninggal Bambi, bu Ning kembali merenung, betapa murid yang dulu sering menjadi bahan perbincangan kini sudah menjadi dewasa. Bahkan bu Ning merasa pemikiran Bambi lebih dewasa daripada dirinya. Pengalaman hidup Bambi lebih banyak daripada dirinya. Bukan hanya itu, kalau saja Bambi tidak menyebut namanya, bu Ning menduga usia Bambi di atas usia dirinya.
                Bu Ning jadi ingat sebuah nasehat kepada guru, yang entah siapa yang mengatakan atau menuliskannya. "Apabila dirimu mendapati muridmu berperilaku buruk janganlah engkau berkeluh kesah. Teruslah didik dia dengan penuh kesabaran. Karena bisa jadi tangan merekalah yang kelak akan menarikmu menuju surga".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...