Sore
itu, seorang wanita paruh baya menikmati waktu menjelang maghrib di teras
rumah. Ia bercanda dengan kedua putrinya yang masih berusia kurang dari 6
tahun. Sesekali menyapa tetangga yang pulang dari sawah. Ada yang sambil
memikul rumput untuk pakan ternak mereka. Ada yang hanya membawa peralatan cangkul
di pundaknya.
Seorang
pengendara motor lewat dengan membawa keranjang di kanan kirinya. Dari kejauhan
nampak dia menganggukkan kepala menyapa wanita tersebut. "Nggih, monggo!" sahut wanita yang
sedari tadi duduk di kursi sambil mengawasi anaknya yang berlarian memainkan dolanan polisi-maling. "Ling
ling ling sapa sing dadi maling, si si si sapa sing dadi pulisi" seru
anak-anak sambil mengacung-acungkan jari saling tunjuk.
Kembali
sebuah sepeda motor melintas. Seorang lelaki dengan keranjang di kanan-kiri
seperti penjual degan. Dari jauh dia menoleh ke arah rumah tempat wanita itu
bercengkerama bersama kerabatnya. Melihat gelagat pengendara motor, wanita
tersebut menduga pengendara motor adalah orang yang biasa membeli buah nangka
atau sukun yang tumbuh di halamannya.
Setelah
melewati rumah sekitar seratus meter, pengendara motor tersebut berbalik arah.
Dia mengarahkan motornya menuju tempat wanita itu bersantai. Nampak dia
tersenyum. Setelah dekat, dia matikan mesin motor dan melepas helmnya. "Pangling mboten, Bu Ning?" katanya
sambil berjalan menuju tempat duduk di teras rumah.
"Sinten nggih?"
sahut wanita yang dipanggil bu Ning balik bertanya. Dia merasa pernah melihat
lelaki itu. Tapi kapan dan di mana, masih sulit untuk diingat.
"Bambi
Bu…" kata lelaki itu sambil mengajak berjabat tangan. "Ooooo, ya Allah, pangling" balas bu
Ning sambil memperhatikan laki-laki yang ternyata dikenalnya dari ujung rambut
sampai ujung kaki.
Masih
sambil mengamati lelaki di depannya, ingatan bu Ning kembali pada masa sekitar sepuluh
tahun yang lalu. Waktu itu Bambi masih kelas II SMP. Dia sering terlambat tiba
di sekolah. Dengan sepeda jengkinya dia datang dengan tergopoh-gopoh. Keringat
membasahi kening dan punggungnya. Tas hitam terselip di pinggang seperti punya
tukang kredit.
"Assalamualaikum,
pak" sapa Bambi sambil mencium tangan seorang guru yang berdiri di dekat
parkir sepeda. "Waalaikum salam, telat lagi ya?" kata guru yang
mengenakan kaos olahraga itu. "Iya, pak, maaf…" jawab Bambi sambil buru-buru
berlari menuju kelas.
Jarak
rumah Bambi paling jauh di antara teman sekolahnya. Jarak yang umumnya ditempuh
dengan naik angkot, harus dia tempuh dengan mengayuh sepeda jengkinya. Sepeda
yang sudah dilepas boncengan dan remnya.
Di
ruang guru Bambi pun tidak jarang jadi perbincangan para guru. Meskipun usianya
lebih tua dibanding teman-teman satu kelasnya, kemampuannya relatif rendah di
bawah rata-rata. Dia sudah berhenti sekolah dua tahun, dan mendaftar kembali di
kelas I SMP.
"Soal 10 Bambi kur bener 2" kata
seorang guru yang berbadan relatif subur. "Ra popo Bu, sing penting akhlake apik" sahut guru yang duduk
di belakangnya membela Bambi. Bambi bukan hanya memiliki perilaku yang baik,
dia pun sering kali dimintai bantuan bapak ibu gurunya mengerjakan berbagai
pekerjaan, seperti membawakan minuman, membeli makanan di kantin, bahkan kadang
diminta memijit punggung guru laki-laki di sekolahnya.
"Bu
Ning sehat?" tanya Bambi membuyarkan lamunan bu Ning. "Ya,
alhamdulillah sehat…" jawab bu Ning agak kaget.
Setelah
mempersilakan Bambi duduk dan menanyakan kabarnya, bu Ning masuk ke rumah. Beberapa
saat kemudian wanita itu keluar dengan membawa segelas teh hangat, sepiring
buah pisang dan setoples kue kering. "Ayo Bam diminum…" kata bu Ning
mempersilakan mantan muridnya menikmati sajian yang dibawanya. "Nggih Bu, maturnuwun" jawabnya
sambil mengangguk sopan.
Keduanya
bercerita tentang kehidupan masing-masing. Bu Ning sejak Bambi kelas II SMP
mendapatkan tugas mengajar di daerah lain. Hingga akhirnya dapat kembali ke
daerahnya setelah mengajukan mutasi. Saat ini telah memiliki dua orang anak,
yang berusia lima setengah tahun dan dua setengah tahun. Semuanya perempuan.
Bambi
yang dulu agak gemuk, sekarang makin langsing. Tapi hitamnya masih belum
berubah. Dia sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Sehari-hari dia
bekerja sebagai penjual pisang. Dia beli pisang dari para petani, kemudian
dijual pada juragannya.
"Anakku yo mesti njaluk jajan"
katanya menceritakan anaknya. "Nek
ora nggobali jajan yo muter-muter ning kranjang nggolet gedang sing mateng.
Terus diputhel" ceritanya antusias. Dia pun tanpa malu-malu
menceritakan tentang suka duka menjadi penjual pisang. Terkadang harus tombok membeli pisang yang sudah matang
untuk jajan anaknya.
Bambi
berdiri dari kursinya dan meminum segelas teh di depannya sekaligus. Makanan
yang dihidangkan tidak ada satu pun yang dicicipinya. "Sampun sonten, tak pamit lah Bu"
kata Bambi sambil merogoh sakunya. Dia mengeluarkan uang yang dilipat rapi.
Nampak pada lipatan paling luar uang 2000an. Dia ambil pada lipatan yang di
dalam, 5000an dua lembar.
"Nyah, nggo tumbas jajan" katanya
sambil membungkuk menyodorkan uang pada anak kecil di depannya. "Eeeee, ojo repot-repot Bam! kata bu Ning
mencegah. Tapi uang itu sudah diterima oleh anaknya. "Ayo bilang
apa?" kata bu Ning mengajari anaknya berterima kasih.
Bambi
bergegas menuju motornya. Beberapa kali dia menggenjot pedal untuk menyalakan
mesin. "Riyen nggih Bu…"
seru Bambi setelah motornya bunyi. "Nggih
monggoh-monggoh" jawab bu Ning sambil melambaikan tangan.
Sepeninggal
Bambi, bu Ning kembali merenung, betapa murid yang dulu sering menjadi bahan
perbincangan kini sudah menjadi dewasa. Bahkan bu Ning merasa pemikiran Bambi
lebih dewasa daripada dirinya. Pengalaman hidup Bambi lebih banyak daripada
dirinya. Bukan hanya itu, kalau saja Bambi tidak menyebut namanya, bu Ning
menduga usia Bambi di atas usia dirinya.
Bu Ning
jadi ingat sebuah nasehat kepada guru, yang entah siapa yang mengatakan atau
menuliskannya. "Apabila dirimu mendapati muridmu berperilaku buruk
janganlah engkau berkeluh kesah. Teruslah didik dia dengan penuh kesabaran.
Karena bisa jadi tangan merekalah yang kelak akan menarikmu menuju surga".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar