Hari itu ada tugas untuk mengikuti kegiatan di sekolah lain
yang berjarak sekitar 23 km dari tempat kerja. Mengingat pertemuan sebelumnya
sudah terlambat karena beberapa alasan teknis. "Hari ini harus ontime" pikirku.
Setelah
singgah di rumah untuk mengkondisikan anak-anak, langsung berangkat. Ban motor
yang aku naiki terasa seperti kempes. Dan ternyata setelah dicek memang kempes.
Sepanjang jalan mata ini fokus mencari bengkel yang biasanya menyediakan pompa.
Sudah beberapa desa terlewati tapi belum menemukan bengkel yang dicari.
Tibalah
di sebuah bengkel tradisional milik seorang bapak tua (mungkin umur 60 tahun
lebih). Di bengkel ini juga, pekan yang lalu ketika berangkat pada acara yang
sama yaitu MGMP, ban sepeda motorku kempes bahkan sampai tidak ada angin
sedikit pun. Yang membuat bersyukur adalah kejadian tersebut tepat di depan
bengkel. Sehingga tidak perlu repot-repot nuntun
motor dengan jarak yang jauh. Langsung saja saya ganti ban di sana.
Aku
berhenti tepat di depan bengkel. "Nyuwun
tambah angin" kataku. Tanpa menjawab bapak pemilik bengkel yang saat
itu terlihat sedang membetulkan sepeda beranjak mengambil pompa genjot untuk memompa ban motorku.
Bengkel itu memang masih menggunakan pompa genjot. Tidak seperti
bengkel-bengkel lain yang sering ku kunjungi yang menggunakan pompa dinamo.
"Awan temen?"
tanya bapak pemilik bengkel sambil menggenjot pompa. Saat itu hampir pukul 10.
"Enggih niki"
jawabku sambil membuka dompet untuk mengambil uang.
"Ojo mbayar"
kata bapak pemilik bengkel ketika melihatku mengambil uang.
"Ukur pertolongan"
tambahnya.
"Ooh, enggih?"
tanyaku.
Seseorang
yang sedang duduk di dekat sepeda yang tadi sedang dibetulkan bapak pemilik
bengkel mengatakan sesuatu. Tetapi tidak begitu jelas apa yang dikatakan.
Mungkin mengomentari ucapan bapak pemilik bengkel. Atau mungkin menjawab
pertanyaanku.
"Nggih sampun,
matur nuwun" kataku ketika bapak pemilik bengkel selesai memompa ban.
"Mugi-mugi bapak rejekine lancar
nggih" tambahku sambil menghidupkan motor.
Kulanjutkan
perjalanan. Sepanjang jalan masih teringat kebaikan bapak pemilik bengkel.
Kebaikan yang sederhana, sesederhana bengkelnya. Tapi kebaikan seperti ini yang
saat ini jarang ditemui. Betapa selama ini apapun dinilai dengan materi. Bahkan
ngencengkan sekrup pun bayar. Apalagi
pompa untuk tambah angin. Tapi bapak pemilik bengkel menggunakan sarana yang
dimilikinya untuk menebar kebaikan. Meskipun dengan orang yang sama sekali
tidak dikenalnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar