Minggu, 17 Maret 2019

Sederhananya Kebaikan


Hari itu ada tugas untuk mengikuti kegiatan di sekolah lain yang berjarak sekitar 23 km dari tempat kerja. Mengingat pertemuan sebelumnya sudah terlambat karena beberapa alasan teknis. "Hari ini harus ontime" pikirku.
                Setelah singgah di rumah untuk mengkondisikan anak-anak, langsung berangkat. Ban motor yang aku naiki terasa seperti kempes. Dan ternyata setelah dicek memang kempes. Sepanjang jalan mata ini fokus mencari bengkel yang biasanya menyediakan pompa. Sudah beberapa desa terlewati tapi belum menemukan bengkel yang dicari.
                Tibalah di sebuah bengkel tradisional milik seorang bapak tua (mungkin umur 60 tahun lebih). Di bengkel ini juga, pekan yang lalu ketika berangkat pada acara yang sama yaitu MGMP, ban sepeda motorku kempes bahkan sampai tidak ada angin sedikit pun. Yang membuat bersyukur adalah kejadian tersebut tepat di depan bengkel. Sehingga tidak perlu repot-repot nuntun motor dengan jarak yang jauh. Langsung saja saya ganti ban di sana.
                Aku berhenti tepat di depan bengkel. "Nyuwun tambah angin" kataku. Tanpa menjawab bapak pemilik bengkel yang saat itu terlihat sedang membetulkan sepeda beranjak mengambil pompa genjot untuk memompa ban motorku. Bengkel itu memang masih menggunakan pompa genjot. Tidak seperti bengkel-bengkel lain yang sering ku kunjungi yang menggunakan pompa dinamo.
"Awan temen?" tanya bapak pemilik bengkel sambil menggenjot pompa. Saat itu hampir pukul 10.
"Enggih niki" jawabku sambil membuka dompet untuk mengambil uang.
"Ojo mbayar" kata bapak pemilik bengkel ketika melihatku mengambil uang.
"Ukur pertolongan" tambahnya.
"Ooh, enggih?" tanyaku.
                Seseorang yang sedang duduk di dekat sepeda yang tadi sedang dibetulkan bapak pemilik bengkel mengatakan sesuatu. Tetapi tidak begitu jelas apa yang dikatakan. Mungkin mengomentari ucapan bapak pemilik bengkel. Atau mungkin menjawab pertanyaanku.
"Nggih sampun, matur nuwun" kataku ketika bapak pemilik bengkel selesai memompa ban. "Mugi-mugi bapak rejekine lancar nggih" tambahku sambil menghidupkan motor.
                Kulanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan masih teringat kebaikan bapak pemilik bengkel. Kebaikan yang sederhana, sesederhana bengkelnya. Tapi kebaikan seperti ini yang saat ini jarang ditemui. Betapa selama ini apapun dinilai dengan materi. Bahkan ngencengkan sekrup pun bayar. Apalagi pompa untuk tambah angin. Tapi bapak pemilik bengkel menggunakan sarana yang dimilikinya untuk menebar kebaikan. Meskipun dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...