Kamis, 16 Mei 2019

Berbincang Pendikar dengan Pak Guru Agama


Cangkir hanya mengeluarkan apa yang menjadi isinya. Jika ia berisi madu maka madu yang akan keluar dari dalamnya. Demikian juga jika berisi racun maka racun pula yang akan ditumpahkan. Begitu perumpamaan seseorang dengan hatinya.
                Hari itu aku mengawasi ujian dengan pak guru agama di sekolah tempat bertugas. Beliau orang yang tegas sekaligus lembut. Meskipun terkesan banyak diam tetapi ketika berbicara, hanya kata-kata yang penuh makna yang keluar dari bibirnya.
                Hampir dua jam di ruang 5 kami banyak berbincang tentang pendidikan karakter. Menurutnya, saat ini pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk membentuk generasi yang siap menghadapi era industri 4.0. Prestasi akademik yang selama ini banyak ďikejar oleh sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan ternyata akan sulit terwujud jika karakter peserta didik belum terbentuk. Sebaliknya karakter yang telah terbentuk dengan baik akan sangat mudah untuk diarahkan pada prestasi-prestasi yang lain. Beruntung sekolah yang telah memiliki input peserta didik yang berkarakter. Tetapi untuk sekolah pinggiran kebanyakan karakter peserta didik masih membutuhkan perhatian yang serius.
                Tetapi, membentuk karakter peserta didik bukanlah perkara yang mudah. Meskipun pendidikan karakter (pendikar) merupakan program pemerintah yang terintegrasi dalam kurtilas, dalam implementasinya masih jauh api dr panggang. Apalagi pada sekolah negeri seringkali masih melaksanakan sesuai tuntutan standar minimal dari pusat.
                "Pimpinan punya peran penting dalam membentuk karakter sebuah lembaga pendidikan" kata guru yang berperawakan langsing tersebut. Pimpinan punya kewenangan untuk mengajak bahkan memaksa agar tindakan sesuai dengan aturan. Pimpinan harus fokus pada satu program dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh. "Stop berwacana, saatnya bekerja tuntas."
                Dalam perbincangan tersebut, pak guru agama juga menyampaikan rasa salut pada STIKES Surya Global yang beberapa waktu lalu dikunjunginya. Menurutnya lembaga pendidikn yang berada di Yogyakarta tersebut layak dijadikan rujukan dalam pembentukan karakter. STIKES Surga berangkat dari sekolah umum yang dipimpin oleh seseorang yg memiliki pemahaman agama yang baik. Hingga akhirnya dapat terbentuk pesantren. Dengan slogan "profesiku adalah jalan dakwahku" STIKES Surga mampu membentuk karakter mahasiswa lebih islami.
                Di akhir obrolan, pak guru agama berpendapat bahwa pembentukan karakter membutuhkan pembiasaan. Untuk ukuran peserta didik apabila kebiasaan baik belum terbentuk maka proses pemaksaan dapat ditempuh. "Kebaikan kadang memang perlu dipaksakan" katanya. Selain itu, butuh komitmen kuat dari smua elemen di sekolah untuk menjadi teladan yang baik. "Ingat, tujuan memberi teladan jangan sampai berubah menjadi rasa ingin diakui oleh orang lain atau pamer" pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...