Sabtu, 17 November 2019 hari istimewa. Abi wisuda S2 di
hotel Maxoli. Kami berangkat dari rumah
jam 6 pagi. Ditemani sopir kami menjemput Mbah Peneket.
Sampai
di lokasi kami melihat para wisudawan bersama keluarga berlalu-lalang di
halaman hotel. Sebagian tumpah di jalanan. Di pinggir jalan, tepatnya di depan
hotel penjual bunga dan boneka berjajar rapi. Menawarkan dagangan pada setiap
yang lewat.
Kami parkir
mobil di depan kantor Koramil, sekitar 50 meter dari hotel. Kemudian kami
berjalan kaki menuju hotel bergabung dengan orang-orang yang belum kami kenal.
Si
kecil sudah merengek minta beli mainan. Kami alihkan perhatiannya pada ikan di
kolam. Kolam yang berada di depan hotel dengan beberapa air mancur di atasnya.
Hanya sebentar, si kecil kembali merengek. Kami berpindah ke tempat lain,
semacam kedai kopi. Di sana ada bangku panjang, sekitar 3 meter. Sambil
menyuapi si kecil dengan tahu yang ditumis bersama mi dan kembang kol. Hanya
beberapa suap saja. Tidak mau lagi. Kembali kami berjalan-jalan. Menghalau
kebosanan. Melihat-lihat karangan bunga ucapan selamat untuk para wisudawan
dari berbagai instansi. Di arah depan tepat di sepanjang jalan menuju pintu
masuk tertata rapi galeri foto. Para pendamping sudah mulai antri masuk menuju
ruang wisuda. Seorang wisudawan didampingi dua orang. Abi didampingi ibunya
(ibu mertuaku) dan ibu mertuanya (ibuku). Aku mendampingi anak-anak di luar.
Karena tidak ada tiket tambahan. Bahkan ketika harus membeli pun, tidak
diperkenankan. Apalagi anak-anak di bawah umur dilarang masuk.
Aku
berjalan-jalan bersama dua putriku masuk dari pintu samping. Mengamati lokasi
hotel dari arah dalam. Taman yang cukup luas tapi kurang terawat. Rumput liar
tumbuh acak. Daun dan bunga rontok berserakan. Bunga jenis baru yang belum
pernah kulihat. Warna kuning ranum seperti mawar. Ada merah menyala berbentuk
mirip itik. Dan pohon dengan tangkai bunga menjuntai panjang hingga menjangkau
tanah. Bentuk bunga seperti corong dengan warna ungu.
Di arah
sekitar 20 meteran, para wisudawan dan wisudawati sedang berbaris menerima
informasi dari petugas. Jumlah mereka berdasarkan informasi yang tertulis di
koran mencapai 430 untuk jenjang S1 dan S2. Kami melihat mereka dari jauh. Si
kecil menarik-narik tangan menuju televisi 21 inci yang sedang menayangkan
langsung penampilan grup rebana para mahasiswa. Sebentar saja sudah merasa
bosan. Si kecil minta keluar membeli bunga. Apalagi setelah melihat seorang perempuan
melintas dengan membawa seikat bunga asli yang cantik di tangannya. Si kecil
tidak bisa dialihkan perhatiannya lagi.
Kami
menuju depan hotel. Membisiki di telinga si kecil sebelum sampai di dekat para
penjual, "nanti jangan langsung beli, ya, kita jalan-jalan dulu pilih yang
paling bagus." Si kecil mengangguk.
Sang
kakak memilih seikat bunga mawar warna merah dari bahan kain flanel dengan
harga 35.000. Si kecil memilih setangkai mawar dengan warna abu-abu seharga
8.000. Ya, abu-abu. Dirayu untuk memilih warna yang lebih cerah pun ditolak.
Meskipun setelah pergi dari penjual, dia mau mengganti warna bunganya. Kami
kembali ke penjual dan meminta izin untuk mengganti dengan bunga warna oranye.
Kami
kembali ke lokasi hotel setelah mendapatkan bunga dan menikmati sosis bakar dan
es teh. Kuajari dua putriku, nanti bunganya kasih ke Abi sambil bilang,
selamat. ya Bi. Mereka menurut saja.
Sambil
menunggu waktu prosesi wisuda selesai kami bermain-main dengan bunga kamboja.
Beberapa helai bunga yang jatuh kami susun bersama bunga yang baru saja kami
beli. Harumnya masih sangat kuat. Mirip bunga melati, bahkan lebih harum lagi.
Kami berebut mengambil bunga-bunga yang berserakan tidak jauh dari pohonnya.
Sampai hampir bertengkar dan menjadi tontonan banyak orang. Kembali jalan-jalan
masuk lewat pintu samping. Beberapa kelompok orang menggelar tikar dan karpet
di bawah pohon besar. Mereka menikmati hidangan bersama keluarga layaknya orang
piknik. Sedikit ada perasaan iri, andai bisa seperti mereka, menikmati kebersamaan
dengan bersantai. Tidak direpotkan dengan dua krucil yang tidak pernah
berdamai.
Ah,
cuma berandai-andai. Kami kembali berkeliling menghabiskan waktu. Terasa sangat
lambat mereka yang ditunggu belum juga keluar. Baru setelah bosan berkeliling
ke sana ke mari. Minta ini minta itu. Keluar masuk halaman hotel. Akhirnya
tepat tengah hari prosesi wisuda berakhir. Kami mencermati setiap orang yang
keluar dari ruangan. Melihat Simbah mereka dari jauh sang kakak langsung
berlari kegirangan menghampiri. Menuntun mereka menuju tempat dudukku. Di dekat
taman, di bawah tiang lampu.
Kami
buka tas yang dibawa Simbah. Snack, koran dan kalender. Kubuka koran yang
memuat opini Abi pada wacana nasional. Kutunjukkan pada ibu.
Sebentar
kemudian Abi muncul dari arah dalam. Sang kakak lari menghampiri sambil
menyerahkan bunga yang baru dibelinya. Si kecil menarik tanganku ke arah kakak
dan ayahnya. Setelah dekat tangannya menjulur menyerahkan setangkai mawar
oranye sambil berucap, selamat Abi. Abi segera menggendong dan menciumi pipi si
kecil. Kami sepakat untuk foto sebelum meninggalkan hotel untuk mencari makan
siang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar