Istirahat pertama di
ruang guru. Teman yang baru pulang diklat asyik membahas soal HOTS. Rekan guru
yang lain merespon dengan antusias. Waktu seperempat jam istirahat pun tidak
terasa.
"Di sini (SMA Mirit) soal biasa aja sudah jadi HOTS." kata guru Bahasa
Indonesia berkomentar. Guru senior dengan pengalaman mengajar tidak diragukan
lagi.
"PKn sih gimana HOTSnya, Matematika lha langsung
HOTS semua." sahut guru PKn menimpali.
Pernyataan mereka menyiratkan bahwa HOTS adalah soal yang
sulit. Mungkin sebagian guru juga memiliki anggapan bahwa HOTS identik dengan
sulit. Padahal HOTS (Hight Order Thinking
Skills) atau berfikir tingkat tinggi. Bukan berfikir sulit.
Tetapi, ikut berkomentar bahkan berseberangan pendapat
dengan guru senior tidaklah etis. Cukup diam dan mendengar. Maka, kubuka
kembali artikel yang pernah kutulis sekitar awal tahun 2019. Artikel pendidikan
sebagai syarat untuk mengikuti Olimpiade Guru Nasional 2019.
Sedikit kutipan dari naskah asli dengan judul :
Implementasi Pendidikan Karakter pada Mata Pelajaran Sosiologi Berorientasi
HOTS.
Beberapa miskonsepsi
yang sering terjadi pada tataran HOTS antara lain:
·
Jenis soal HOTS akan tetap menjadi soal
HOTS meskipun diujikan pada waktu yang berbeda. Hal ini tidak benar karena
apabila soal yang diujikan telah didiskusikan di kelas maka akan mengubah level
menjadi mengingat saja.
·
Jika soal telah dibuat menggunakan kata
kerja bantu taksonomi Bloom, maka sudah dapat mengukur level kognisi yang
diinginkan. Hal ini tidak benar karena mengukur level HOTS adalah esensinya,
bukan pada kata kerja bantu yang digunakan.
·
Pertanyaan atau soal yang sulit selalu
menunjukkan level HOTS. Hal ini tidak benar karena HOTS tidak ditentukan mudah
atau sulit melainkan tingkatan mengingat atau mencipta.
·
Penggunaan teknologi modern dalam
pembelajaran pasti menunjukkan level HOTS. Hal ini tidak benar karena HOTS
tidak ditentukan oleh media, melainkan fokus pada isi.
·
Jenis soal pilihan ganda (multiple choice) tidak dapat digunakan
untuk menilai HOTS secara valid. Hal ini tidak benar karena jenis soal pilihan
ganda dapat digunakan untuk menilai level kognisi rendah sampai tinggi
tergantung kecermatan analisis dalam memberikan jawaban.
·
Sebuah fenomena, kasus, atau kejadian
hanya bisa dugunakan untuk mengukur satu tingkatan level kognisi.
·
Pada kelas yang sama, siswa akan
memiliki level kognisi yang sama. Hal ini tidak benar karena respon siswa
terhadap rancangan tugas yang diberikan guru santa bervariasi.
·
Fenomena, kejadian atau kasus yang
disajikan dalam jenis soal harus panjang, terkenal dan besar atau bombastis
sehingga lebih mudah dipahami siswa. Hal ini tidak benar karena dalam HOTS
berbagai situasi nyata maupun situasi yang diskenario dapat digunakan asalkan
di dalamnya siswa diajak menganalisis, mengelompokkkan, menghubungkan fakta
serta membuat solusi.
·
Semua materi harus bisa diarahkan ke
level HOTS paling tinggi, yaitu mencipta. Pendapat ini kurang tepat karena
pembelajaran HOTS memberi peluang kepada siswa untuk berkenalan dan akhirnya
terbiasa dengan berbagai level pemikiran dari yang terrendah hingga yang
tertinggi.
·
Siswa tingkat sekolah dasar belum mampu
menguasai HOTS. Hal ini tidak tepat karena HOTS dapat digunakan untuk berbagai
usia. Bahkan TK merupakan tempat terbaik mengembangkan HOTS pada kemampuan
berfikir kritis dan kreatif. Pada usia ini anak selalu mengajukan pertanyaan
kritis dan selalu mencoba berbagai hal baru.
·
Soal HOTS harus dirumuskan dalam kalimat
ilmiah dan butuh kemampuan yang sangat baik untuk mencerna kalimat tersebut.
Hal ini tidak selalu benar karena HOTS fokus pada isi dan esensi soal, bukan
sekedar penggunaan kata atau kalimat.
·
Kemampuan berfikir tingkat tinggi hanya
bisa diberikan di sekolah oleh akademisi. Hal ini tidak benar karena kemampuan
HOTS dapat diajarkan di mana pun dan pada usia berapa pun.
Contoh soal HOTS yang
disusun saat Penulisan Soal Nasional 2018 yang diselenggarakan oleh Puspendik.
|
Pertumbuhan
sosial ekonomi di negara kita tidak sama antar satu wilayah dengan wilayah
yang lain. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya kesempatan untuk
memperoleh sumber pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan
kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan. Ketidakmerataan pembangunan
antardaerah juga dapat diakibatkan oleh kebijakan politik yang kurang
memihak. Sehingga angka kemiskinan tetap tinggi meskipun jumlah orang kaya
semakin bertambah.
Dampak
yang dapat ditimbulkan oleh permasalahan sosial tersebut adalah….
A.
Menurunnya
pendapatan perkapita karena pertumbuhan penduduk yang tinggi
B. Kesenjangan
sosial ekonomi antara kota dan desa semakin tinggi
C.
Kelompok
masyarakat dari kelas bawah sulit untuk merubah nasib ke arah lebih baik
D.
Konflik
sosial dapat terjadi akibat ketidakadilan dalam proses pembangunan
E. Rendahnya mobilitas sosial bagi
masyarakat yang mengalami keterbatasan kesempatan
|
|
Jawaban
B
|
|
Pembahasan:
A.
Permasalahan
ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah di Indonesia tidak secara langsung
menyebabkan menurunnya pendapatan perkapita. Tetapi pendapatan perkapita
dapat dipengaruhi oleh jumlah penduduk.
B.
Permasalahan
ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah di Indonesia dapat menyebabkan
kesenjangan sosial ekonomi antara kota dan desa karena pembangunan di kota
sangat pesat atau maju sedangkan di desa yang secara geografis sulit
dijangkau pembangunannya lambat.
C.
Permasalahan
ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah di Indonesia berdampak langsung
terhadap keterbelakangan desa, bukan hanya kelas bawah yang sulit merubah
status sosial.
D.
Konflik
sosial dapat terjadi jika masyarakat kecewa atas kebijakan pemerintah dalam
pembangunan yang kurang berpihak pada desa
E.
Permasalahan
ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah di Indonesia berdampak secara
tidak langsung terhadap mobilitas masyarakat. Masyarakat yang dalam
pembangunan lambat akan kurang mendapatkan kesempatan untuk merubah status
sosial menjadi lebuh baik
|
Terima kasih sudah
berkenan membaca. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
Rujukan
Nugroho, Arifin. 2018. HOTS: Konsep, Pembelajaran, Penilaian dan
Soal-soal, Jakarta: Grasindo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar