Selasa, 24 September 2019

MITOS DAN FAKTA HOTS


Istirahat pertama di ruang guru. Teman yang baru pulang diklat asyik membahas soal HOTS. Rekan guru yang lain merespon dengan antusias. Waktu seperempat jam istirahat pun tidak terasa.
            "Di sini (SMA Mirit) soal biasa aja  sudah jadi HOTS." kata guru Bahasa Indonesia berkomentar. Guru senior dengan pengalaman mengajar tidak diragukan lagi.
            "PKn sih gimana HOTSnya, Matematika lha langsung HOTS semua." sahut guru PKn menimpali.
            Pernyataan mereka menyiratkan bahwa HOTS adalah soal yang sulit. Mungkin sebagian guru juga memiliki anggapan bahwa HOTS identik dengan sulit. Padahal HOTS (Hight Order Thinking Skills) atau berfikir tingkat tinggi. Bukan berfikir sulit.

            Tetapi, ikut berkomentar bahkan berseberangan pendapat dengan guru senior tidaklah etis. Cukup diam dan mendengar. Maka, kubuka kembali artikel yang pernah kutulis sekitar awal tahun 2019. Artikel pendidikan sebagai syarat untuk mengikuti Olimpiade Guru Nasional 2019.
            Sedikit kutipan dari naskah asli dengan judul : Implementasi Pendidikan Karakter pada Mata Pelajaran Sosiologi Berorientasi HOTS.
Beberapa miskonsepsi yang sering terjadi pada tataran HOTS antara lain:
·         Jenis soal HOTS akan tetap menjadi soal HOTS meskipun diujikan pada waktu yang berbeda. Hal ini tidak benar karena apabila soal yang diujikan telah didiskusikan di kelas maka akan mengubah level menjadi mengingat saja.
·         Jika soal telah dibuat menggunakan kata kerja bantu taksonomi Bloom, maka sudah dapat mengukur level kognisi yang diinginkan. Hal ini tidak benar karena mengukur level HOTS adalah esensinya, bukan pada kata kerja bantu yang digunakan.
·         Pertanyaan atau soal yang sulit selalu menunjukkan level HOTS. Hal ini tidak benar karena HOTS tidak ditentukan mudah atau sulit melainkan tingkatan mengingat atau mencipta.
·         Penggunaan teknologi modern dalam pembelajaran pasti menunjukkan level HOTS. Hal ini tidak benar karena HOTS tidak ditentukan oleh media, melainkan fokus pada isi.
·         Jenis soal pilihan ganda (multiple choice) tidak dapat digunakan untuk menilai HOTS secara valid. Hal ini tidak benar karena jenis soal pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai level kognisi rendah sampai tinggi tergantung kecermatan analisis dalam memberikan jawaban.
·         Sebuah fenomena, kasus, atau kejadian hanya bisa dugunakan untuk mengukur satu tingkatan level kognisi.
·         Pada kelas yang sama, siswa akan memiliki level kognisi yang sama. Hal ini tidak benar karena respon siswa terhadap rancangan tugas yang diberikan guru santa bervariasi.
·         Fenomena, kejadian atau kasus yang disajikan dalam jenis soal harus panjang, terkenal dan besar atau bombastis sehingga lebih mudah dipahami siswa. Hal ini tidak benar karena dalam HOTS berbagai situasi nyata maupun situasi yang diskenario dapat digunakan asalkan di dalamnya siswa diajak menganalisis, mengelompokkkan, menghubungkan fakta serta membuat solusi.
·         Semua materi harus bisa diarahkan ke level HOTS paling tinggi, yaitu mencipta. Pendapat ini kurang tepat karena pembelajaran HOTS memberi peluang kepada siswa untuk berkenalan dan akhirnya terbiasa dengan berbagai level pemikiran dari yang terrendah hingga yang tertinggi.
·         Siswa tingkat sekolah dasar belum mampu menguasai HOTS. Hal ini tidak tepat karena HOTS dapat digunakan untuk berbagai usia. Bahkan TK merupakan tempat terbaik mengembangkan HOTS pada kemampuan berfikir kritis dan kreatif. Pada usia ini anak selalu mengajukan pertanyaan kritis dan selalu mencoba berbagai hal baru.
·         Soal HOTS harus dirumuskan dalam kalimat ilmiah dan butuh kemampuan yang sangat baik untuk mencerna kalimat tersebut. Hal ini tidak selalu benar karena HOTS fokus pada isi dan esensi soal, bukan sekedar penggunaan kata atau kalimat.
·         Kemampuan berfikir tingkat tinggi hanya bisa diberikan di sekolah oleh akademisi. Hal ini tidak benar karena kemampuan HOTS dapat diajarkan di mana pun dan pada usia berapa pun.

Contoh soal HOTS yang disusun saat Penulisan Soal Nasional 2018 yang diselenggarakan oleh  Puspendik.
Pertumbuhan sosial ekonomi di negara kita tidak sama antar satu wilayah dengan wilayah yang lain. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya kesempatan untuk memperoleh sumber pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan. Ketidakmerataan pembangunan antardaerah juga dapat diakibatkan oleh kebijakan politik yang kurang memihak. Sehingga angka kemiskinan tetap tinggi meskipun jumlah orang kaya semakin bertambah.
Dampak yang dapat ditimbulkan oleh permasalahan sosial tersebut adalah….

A.     Menurunnya pendapatan perkapita karena pertumbuhan penduduk yang tinggi
B.     Kesenjangan sosial ekonomi antara kota dan desa semakin tinggi
C.     Kelompok masyarakat dari kelas bawah sulit untuk merubah nasib ke arah lebih baik
D.     Konflik sosial dapat terjadi akibat ketidakadilan dalam proses pembangunan
E.     Rendahnya mobilitas sosial bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan kesempatan
Jawaban B
Pembahasan:
A.     Permasalahan ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah di Indonesia tidak secara langsung menyebabkan menurunnya pendapatan perkapita. Tetapi pendapatan perkapita dapat dipengaruhi oleh jumlah penduduk.
B.     Permasalahan ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah di Indonesia dapat menyebabkan kesenjangan sosial ekonomi antara kota dan desa karena pembangunan di kota sangat pesat atau maju sedangkan di desa yang secara geografis sulit dijangkau pembangunannya lambat.
C.     Permasalahan ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah di Indonesia berdampak langsung terhadap keterbelakangan desa, bukan hanya kelas bawah yang sulit merubah status sosial.
D.     Konflik sosial dapat terjadi jika masyarakat kecewa atas kebijakan pemerintah dalam pembangunan yang kurang berpihak pada desa
E.      Permasalahan ketidakseimbangan pembangunan antarwilayah di Indonesia berdampak secara tidak langsung terhadap mobilitas masyarakat. Masyarakat yang dalam pembangunan lambat akan kurang mendapatkan kesempatan untuk merubah status sosial menjadi lebuh baik

Terima kasih sudah berkenan membaca. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

Rujukan
Nugroho, Arifin. 2018. HOTS: Konsep, Pembelajaran, Penilaian dan Soal-soal, Jakarta:   Grasindo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...