Kamis, 14 Maret 2019

HIDUPKAN KELAS SOSIOLOGI DENGAN TSTS




Banyak siswa yang menganggap ilmu sosial adalah pelajaran hafalan. Termasuk di dalamnya pelajaran Sosiologi. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meskipun ada beberapa konsep yang perlu dihafal untuk dapat memahami realitas sosial sebagai obyek kajiannya.
          Ditambah lagi metode pembelajaran yang monoton menyebabkan timbul kejenuhan pada siswa. Banyak siswa menunjukkan kebosanannya dengan berbicara di luar topik pelajaran dengan teman sebelah, meletakkan kepala di atas meja, mengantuk di dalam kelas dan sering ijin meninggalkan ruang kelas untuk ke kamar kecil, koperasi atau kantin.
          Mengatasi hat tersebut, model pembelajaran TSTS (Two Stay Two Stray) dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Keaktifan dalam pembelajaran bukan hanya dapat mengusir kebosanan siswa melainkan karena terlibat aktif dalam pembelajaran maka prestasi siswa pun akan meningkat.
          Model TSTS ini merupakan pengembangan dari  tipe jigsaw (tim ahli). Kegiatan dimulai dengan pembentukan kelompok yang masing-masing terdiri antara 4 hingga 5 siswa secara heterogen. Masing-masing kelompok mendapatkan tugas untuk mengkaji pokok bahasan tertentu. Hasil diskusi kelompok disampaikan pada kelompok lain dengan cara kunjungan rumah. Dua anggota kelompok berperan sebagai tamu dan dua atau tiga anggota yang lain berperan sebagai tuan rumah. Tamu bertugas untuk mengunjungi rumah-rumah kelompok lain untuk mendapatkan informasi hasil diskusi dari kelompok lain. Sedangkan anggota kelompok yang berperan sebagai tuan rumah bertugas mempresentasikan hasil diskusi kepada tamu-tamu yang datang. Apabila seluruh rumah telah dikunjungi maka siswa yang berperan sebagai tamu akan menyampaikan hasil kunjungannya kepada anggota kelompoknya yang menjadi tuan rumah. Sehingga seluruh siswa dalam satu kelas mendapatkan hasil diskusi dari semua kelompok di kelas.
          Meskipun TSTS dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran tetapi membutuhkan persiapan yang matang. Karena terkadang kondisi kelas menjadi sulit dikendalikan bahkan terkesan gaduh. Meskipun kegaduhan tersebut indikator dari kelas yang hidup.

          Model TSTS pun dapat dikombinasikan dengan produk karya siswa. Seperti dalam pembahasan keragaman masyarakat Indonesia, model TSTS dapat dilakukan dengan memberikan proyek membuat miniatur suku bangsa. Presentasi tiap kelompok menjadi lebih menarik. Melalui miniatur siswa mendapatkan gambaran nyata tentang realitas adanya keragaman dalam masyarakat sehingga diharapkan muncul toleransi terhadap perbedaan dalam masyarakat multikultural.

1 komentar:

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...