Banyak siswa yang menganggap ilmu sosial adalah pelajaran hafalan.
Termasuk di dalamnya pelajaran Sosiologi. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya
benar. Meskipun ada beberapa konsep yang perlu dihafal untuk dapat memahami
realitas sosial sebagai obyek kajiannya.
Ditambah lagi
metode pembelajaran yang monoton menyebabkan timbul kejenuhan pada siswa.
Banyak siswa menunjukkan kebosanannya dengan berbicara di luar topik pelajaran
dengan teman sebelah, meletakkan kepala di atas meja, mengantuk di dalam kelas
dan sering ijin meninggalkan ruang kelas untuk ke kamar kecil, koperasi atau
kantin.
Mengatasi hat
tersebut, model pembelajaran TSTS (Two Stay Two
Stray) dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam
kegiatan pembelajaran. Keaktifan dalam pembelajaran bukan hanya dapat mengusir
kebosanan siswa melainkan karena terlibat aktif dalam pembelajaran maka
prestasi siswa pun akan meningkat.
Model TSTS ini
merupakan pengembangan dari tipe jigsaw (tim
ahli). Kegiatan dimulai dengan pembentukan kelompok yang masing-masing terdiri
antara 4 hingga 5 siswa secara heterogen. Masing-masing kelompok mendapatkan
tugas untuk mengkaji pokok bahasan tertentu. Hasil diskusi kelompok disampaikan
pada kelompok lain dengan cara kunjungan rumah. Dua anggota kelompok berperan sebagai
tamu dan dua atau tiga anggota yang lain berperan sebagai tuan rumah. Tamu
bertugas untuk mengunjungi rumah-rumah kelompok lain untuk mendapatkan
informasi hasil diskusi dari kelompok lain. Sedangkan anggota kelompok yang
berperan sebagai tuan rumah bertugas mempresentasikan hasil diskusi kepada
tamu-tamu yang datang. Apabila seluruh rumah telah dikunjungi maka siswa yang
berperan sebagai tamu akan menyampaikan hasil kunjungannya kepada anggota
kelompoknya yang menjadi tuan rumah. Sehingga seluruh siswa dalam satu kelas
mendapatkan hasil diskusi dari semua kelompok di kelas.
Meskipun TSTS dapat
meningkatkan aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran tetapi membutuhkan
persiapan yang matang. Karena terkadang kondisi kelas menjadi sulit
dikendalikan bahkan terkesan gaduh. Meskipun kegaduhan tersebut indikator dari
kelas yang hidup.
Model TSTS pun
dapat dikombinasikan dengan produk karya siswa. Seperti dalam pembahasan
keragaman masyarakat Indonesia, model TSTS dapat dilakukan dengan memberikan
proyek membuat miniatur suku bangsa. Presentasi tiap kelompok menjadi lebih
menarik. Melalui miniatur siswa mendapatkan gambaran nyata tentang realitas
adanya keragaman dalam masyarakat sehingga diharapkan muncul toleransi terhadap
perbedaan dalam masyarakat multikultural.

Bismillah... Postingan perdana... Edisi belajar...
BalasHapus