Senin, 02 September 2019

MISTERI SIDIK JARI


Sudah kurang lebih satu pekan absen finger print menjadi moment yang menggelisahkan. Betapa tidak. Sekedar menempelkan jari jempol pada layar saja membutuhkan waktu seperempat jam, setengah jam bahkan sampai hampir satu jam. Hanya untuk mendengar mesin finger print berbunyi "Terima Kasih" saja harus menghabiskan waktu setiap pagi dan sore. Entah berapa kali sampai tak terhitung mesin selalu berbunyi "Silakan Coba Lagi". Lagi. Lagi dan lagi. Padahal jari orang lain cukup waktu satu detik.
                Mesin yang tertempel di dekat pintu ruang TU itu pasti sentimen padaku. Dia ingin menahanku berlama-lama berdiri di depannya. Menatap kameranya. Mengelus-elus layarnya. Bolak-balik ke pancuran untuk cuci tangan. Dilap dengan tisu. Menempel lagi jari jempol. Ganti jari telunjuk. Jari tengah. Jari manis. Jari kelingking. Belum juga berhasil. Ganti tangan kiri. Urut dari jempol lagi, telunjuk lagi, jari tengah lagi, jari manis lagi. Kelingking lagi. Diulangi lagi. Lagi. Lagi. Ah, sia-sia saja.
                "Sudah bu, besok kita rekam ulang saja ke BKD Provinsi," kata Kasubag TU yang sejak tadi memperhatikan aktivitas pagiku. Guru dan karyawan yang lain mengikuti apel pagi. Aku masih berkutat dengan mesin sialan itu. Ah, bukan mesinnya yang sialan. Mungkin jariku. Nyatanya orang lain tak ada yang bermasalah dengan mesin itu.
                "Makanya bu, jangan kebanyakan nulis, sidik jarinya jadi hilang kan…" kata temanku. Duh, betapa dia tidak memiliki rasa empati. Teman sedang kesusahan bukannya diberi dukungan malah dibuly.
                "Banyak-banyak istighfar, Mba…" kata guru yang baru datang langsung menempelkan jarinya di mesin finger print, "Lihat nih, Bismillahirrohmanirrohimi" Finger print langsung berbunyi terima kasih.
                Waduh, apa aku kebanyakan dosa ya, batinku teringat komentar temanku tadi. Kutatap lagi mesin di depanku yang sudah seperti menjadi musuh baruku. Gara-gara dia pekerjaanku kacau. Gara-gara dia konsentrasiku buyar. Gara-gara dia pikiranku jadi tidak fokus. Mau ngapa-ngapain males les les.

                Gara-gara jari ini juga, setiap pagi dan sore aku jadi tontonan. Mereka bukan sekedar penonton tetapi juga komentator. Macam-macam komentar mereka. Dari yang memotivasi hingga yang menghakimi. Dari yang simpati hingga yang tak peduli. Sudahlah, terima saja.
                Jadilah pagi itu aku berangkat ke Semarang. Demi sebuah sidik jari. Tiga orang pendampingku. Kasubag TU, suami dan sopir. Ya, hanya demi sebuah sidik jari. Pagi buta kami berangkat. Meninggalkan anak-anak yang masih terbuai dalam mimpi. Entah apa jadinya ketika mereka bangun tanpa kami di dekatnya. Paling tangisan yang akan terdengar. Ada atau tidak ada orang tuanya pekerjaan anak-anak memang hanya menangis. Tapi itu anugerah. Banyak keluarga yang sangat merindukan suara tangis anak-anak di rumahnya. Disyukuri meski kadang bikin jengkel.
                Perjalanan relatif lancar. Hanya beberapa titik yang mengalami kemacetan. Saat memasuki kota Semarang. Kami sampai di BKD Provinsi pukul sembilan lebih. Aku bersama Kasubag TU langsung menuju kantor yang dipadati oleh mobil. Hingga kami harus mencari tempat parkir jauh dari lokasi tujuan. Kami dipersilakan mengisi buku tamu. Menulis nama, instansi asal dan tujuan.
                Selanjutnya kami mencari Ruang Inka (Informasi Kepegawaian). Tiap ada tulisan yang tertempel di dinding dan pintu kami baca. Seperti orang suku pedalaman yang baru pertama kali masuk ke kota. Naik turun tangga. Bertanya ke sana ke mari. Ternyata ruang yang dicari sudah terlewati. Kami berbalik arah.
                "Silakan coba mesin-mesin itu, mana yang cocok." kata petugas setelah mengetahui maksud kedatanagan kami. Aku mencoba tiga mesin finger print yang ditunjuk oleh Mas Sangaji, petugas BKD yang melayani kami. Semua mesin berbunyi "Silakan Coba Lagi". Beberapa pegawai yang sedang khusyuk dengan pekerjaannya menoleh ke arahku.
                "Coba lagi yang ini!" lanjut Mas Aji menyodorkan mesin baru. Jari kumasukkan ke dalam mesin. "Silakan Coba Lagi". Lagi lagi kata itu yang terdengar.
                "Oke, berarti pakai ini saja." kata lelaki tambun yang dengan ramah melayani kami sejak tadi sambil menyodorkan secuil kertas. Selama beberapa menit dia terlihat mengotak-atik mesin finger print yang dipegangnya. Hingga kemudian dia menyuruhku memasukkan kode yang tertera pada secuil kertas yang baru saja diberikannya padaku. Enam digit ID. Klik ok. Lanjut memasukkan delapan digit pasword. Klik ok. "Terima kasih." Bunyi mesin itu melegakan hati. Bunyi yang beberapa hari ini sangat kurindukan.
                Merasa sudah mendapatkan solusi, kami berpamitan dengan mengantongi secuil "mantra" untuk menghadapi finger print esok hari. Suami yang sedari tadi menunggu di mobil bersama sopir kami langsung memberondong dengan pertanyaan tentang hasil dari rekam ulang sidik jari. Kami ceritakan proses di Ruang Inka tadi.
                "Berarti jari Ibu sangat sensitif ya, Bu, sampai tidak terdeteksi oleh mesin." kata sopir mengomentari cerita kami.
                "Iya, lah, jariku saja sensitif, apalagi hatiku." kataku disambut tawa kami semua.
***
                Kamis pagi, saatnya mencoba mantra dari BKD yang kami peroleh dalam perjalanan selama satu hari kemarin. Seperti biasa sesampai di sekolah langsung menuju mesin yang beberapa hari membuatku uring-uringan. Secuil kertas masih kugenggam. Mencoba memasukkan enam digit ID. Klik ok. Tapi pada mesin justru muncul perintah, "masukkan jari Anda." Waduh, alamat gagal maning kiye! Kan emang jarinya yang bermasalah. Duh…
                "Gimana, Bu?" tanya Kasubag TU yang kemarin mendampingi ke BKD. Dia mendekat ke arah finger print. Kujelaskan padanya bahwa mesin yang dicoba di BKD kemarin programnya berbeda dengan mesin finger di sekolah. Pada mesin finger di BKD tertera kolom untuk mengisi pasword setelah kita memasukkan ID. Tetapi pada mesin finger di sekolah setelah kita masukkan ID yang muncul justru perintah untuk memasukkan jari.
                Mas Jaka, operator yang kemarin memasang mesin finger print berusaha membantu. Mengotak-atik mesin yang tertempel di tembok. Kebetulan dia berada di sekolah untuk memperbaiki internet sekolah yang beberapa hari ini bermasalah. Mencoba memasukkan angka sakral yang kuperoleh dari BKD kemarin. "Kode yang Anda masukkan salah." bunyi mesin itu.
                "Nanti biar tak telpon Mas Aji lagi." kata Kasubag TU yang memperhatikan kami sibuk dari tadi di dekat mesin finger. Dia memencet-mencet android dengan cassing hitam legam. Mencoba menghubungi Mas Aji, pegawai BKD Provinsi. Berjalan keluar untuk menghindari suara gaduh di ruang TU.
                "Ya, ya, Ooo, ya, Baik, Baik." katanya dengan orang di ujung telpon. Dia kembali masuk ke ruang TU sambil tertawa. "Oalah, adoh-adoh ming Semarang jeh, isih ora bisa!" lanjutnya.
                "Mas Aji lupa belum mereset ulang programnya, Bu. Disuruh nunggu 10 menit lagi nanti bisa dicoba lagi." jelas perempuan paruh baya yang sangat keibuan itu.
                Aku sedang tanya jawab di kelas XII MIPA 3 tentang globalisasi ketika seorang teman memanggilku. Dia utusan dari Kasubag TU. Menyuruhku mencoba kembali mesin finger yang baru saja direset ulang.
                Kucoba memasukkan nomor ID dan pasword untuk yang ke sekian kalinya. "Terima kasih" bunyi mesin itu. Nah, lega rasanya. Ternyata untuk mendengar mesin itu berbunyi terima kasih butuh memasukkan enam ditambah 8 angka ke dalam aplikasi. Sekitar 20 detik. Orang lain cukup dengan 1 detik. Tak apalah daripada harus mencet berkali-kali hingga berjam-jam. Toh, memang sudah sejak dulu aku harus bekerja lebih keras daripada orang lain untuk mendapatkan hasil yang sama. Ketika masih sekolah dulu, aku harus belajar lebih giat dari pada teman lain yang lebih cerdas untuk mendapatkan nilai yang setara. Hari ini pun aku harus bekerja lebih keras daripada mereka yang memiliki fasilitas hidup yang lebih untuk memperoleh taraf hidup yang sama. Nikmatilah, hidup itu proses. Bukan semata-mata hasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepengurusan Baru MGMP Sosiologi Kebumen Terbentuk, Semangat Pengembangan Diri Guru Kembali Menyala

MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Kebumen menggelar pertemuan pada Selasa (19/5/2026) kemarin. Kegiatan yang berlang...