Sudah kurang lebih satu pekan absen finger print menjadi
moment yang menggelisahkan. Betapa tidak. Sekedar menempelkan jari jempol pada
layar saja membutuhkan waktu seperempat jam, setengah jam bahkan sampai hampir
satu jam. Hanya untuk mendengar mesin finger print berbunyi "Terima
Kasih" saja harus menghabiskan waktu setiap pagi dan sore. Entah berapa
kali sampai tak terhitung mesin selalu berbunyi "Silakan Coba Lagi".
Lagi. Lagi dan lagi. Padahal jari orang lain cukup waktu satu detik.
Mesin
yang tertempel di dekat pintu ruang TU itu pasti sentimen padaku. Dia ingin
menahanku berlama-lama berdiri di depannya. Menatap kameranya. Mengelus-elus
layarnya. Bolak-balik ke pancuran untuk cuci tangan. Dilap dengan tisu.
Menempel lagi jari jempol. Ganti jari telunjuk. Jari tengah. Jari manis. Jari
kelingking. Belum juga berhasil. Ganti tangan kiri. Urut dari jempol lagi,
telunjuk lagi, jari tengah lagi, jari manis lagi. Kelingking lagi. Diulangi
lagi. Lagi. Lagi. Ah, sia-sia saja.
"Sudah
bu, besok kita rekam ulang saja ke BKD Provinsi," kata Kasubag TU yang
sejak tadi memperhatikan aktivitas pagiku. Guru dan karyawan yang lain
mengikuti apel pagi. Aku masih berkutat dengan mesin sialan itu. Ah, bukan
mesinnya yang sialan. Mungkin jariku. Nyatanya orang lain tak ada yang
bermasalah dengan mesin itu.
"Makanya
bu, jangan kebanyakan nulis, sidik jarinya jadi hilang kan…" kata temanku.
Duh, betapa dia tidak memiliki rasa empati. Teman sedang kesusahan bukannya
diberi dukungan malah dibuly.
"Banyak-banyak
istighfar, Mba…" kata guru yang baru datang langsung menempelkan jarinya
di mesin finger print, "Lihat nih, Bismillahirrohmanirrohimi" Finger
print langsung berbunyi terima kasih.
Waduh,
apa aku kebanyakan dosa ya, batinku teringat komentar temanku tadi. Kutatap
lagi mesin di depanku yang sudah seperti menjadi musuh baruku. Gara-gara dia
pekerjaanku kacau. Gara-gara dia konsentrasiku buyar. Gara-gara dia pikiranku
jadi tidak fokus. Mau ngapa-ngapain males les les.
Gara-gara
jari ini juga, setiap pagi dan sore aku jadi tontonan. Mereka bukan sekedar penonton
tetapi juga komentator. Macam-macam komentar mereka. Dari yang memotivasi
hingga yang menghakimi. Dari yang simpati hingga yang tak peduli. Sudahlah,
terima saja.
Jadilah
pagi itu aku berangkat ke Semarang. Demi sebuah sidik jari. Tiga orang
pendampingku. Kasubag TU, suami dan sopir. Ya, hanya demi sebuah sidik jari.
Pagi buta kami berangkat. Meninggalkan anak-anak yang masih terbuai dalam mimpi.
Entah apa jadinya ketika mereka bangun tanpa kami di dekatnya. Paling tangisan
yang akan terdengar. Ada atau tidak ada orang tuanya pekerjaan anak-anak memang
hanya menangis. Tapi itu anugerah. Banyak keluarga yang sangat merindukan suara
tangis anak-anak di rumahnya. Disyukuri meski kadang bikin jengkel.
Perjalanan
relatif lancar. Hanya beberapa titik yang mengalami kemacetan. Saat memasuki
kota Semarang. Kami sampai di BKD Provinsi pukul sembilan lebih. Aku bersama
Kasubag TU langsung menuju kantor yang dipadati oleh mobil. Hingga kami harus
mencari tempat parkir jauh dari lokasi tujuan. Kami dipersilakan mengisi buku
tamu. Menulis nama, instansi asal dan tujuan.
Selanjutnya
kami mencari Ruang Inka (Informasi Kepegawaian). Tiap ada tulisan yang
tertempel di dinding dan pintu kami baca. Seperti orang suku pedalaman yang
baru pertama kali masuk ke kota. Naik turun tangga. Bertanya ke sana ke mari.
Ternyata ruang yang dicari sudah terlewati. Kami berbalik arah.
"Silakan
coba mesin-mesin itu, mana yang cocok." kata petugas setelah mengetahui
maksud kedatanagan kami. Aku mencoba tiga mesin finger print yang ditunjuk oleh
Mas Sangaji, petugas BKD yang melayani kami. Semua mesin berbunyi "Silakan
Coba Lagi". Beberapa pegawai yang sedang khusyuk dengan pekerjaannya
menoleh ke arahku.
"Coba
lagi yang ini!" lanjut Mas Aji menyodorkan mesin baru. Jari kumasukkan ke
dalam mesin. "Silakan Coba Lagi". Lagi lagi kata itu yang terdengar.
"Oke,
berarti pakai ini saja." kata lelaki tambun yang dengan ramah melayani
kami sejak tadi sambil menyodorkan secuil kertas. Selama beberapa menit dia
terlihat mengotak-atik mesin finger print yang dipegangnya. Hingga kemudian dia
menyuruhku memasukkan kode yang tertera pada secuil kertas yang baru saja
diberikannya padaku. Enam digit ID. Klik ok. Lanjut memasukkan delapan digit
pasword. Klik ok. "Terima kasih." Bunyi mesin itu melegakan hati.
Bunyi yang beberapa hari ini sangat kurindukan.
Merasa
sudah mendapatkan solusi, kami berpamitan dengan mengantongi secuil
"mantra" untuk menghadapi finger print esok hari. Suami yang sedari
tadi menunggu di mobil bersama sopir kami langsung memberondong dengan
pertanyaan tentang hasil dari rekam ulang sidik jari. Kami ceritakan proses di
Ruang Inka tadi.
"Berarti
jari Ibu sangat sensitif ya, Bu, sampai tidak terdeteksi oleh mesin." kata
sopir mengomentari cerita kami.
"Iya,
lah, jariku saja sensitif, apalagi hatiku." kataku disambut tawa kami
semua.
***
Kamis pagi,
saatnya mencoba mantra dari BKD yang kami peroleh dalam perjalanan selama satu
hari kemarin. Seperti biasa sesampai di sekolah langsung menuju mesin yang
beberapa hari membuatku uring-uringan. Secuil kertas masih kugenggam. Mencoba
memasukkan enam digit ID. Klik ok. Tapi pada mesin justru muncul perintah,
"masukkan jari Anda." Waduh, alamat gagal maning kiye! Kan emang jarinya
yang bermasalah. Duh…
"Gimana,
Bu?" tanya Kasubag TU yang kemarin mendampingi ke BKD. Dia mendekat ke
arah finger print. Kujelaskan padanya bahwa mesin yang dicoba di BKD kemarin
programnya berbeda dengan mesin finger di sekolah. Pada mesin finger di BKD
tertera kolom untuk mengisi pasword setelah kita memasukkan ID. Tetapi pada
mesin finger di sekolah setelah kita masukkan ID yang muncul justru perintah
untuk memasukkan jari.
Mas Jaka,
operator yang kemarin memasang mesin finger print berusaha membantu.
Mengotak-atik mesin yang tertempel di tembok. Kebetulan dia berada di sekolah
untuk memperbaiki internet sekolah yang beberapa hari ini bermasalah. Mencoba
memasukkan angka sakral yang kuperoleh dari BKD kemarin. "Kode yang Anda
masukkan salah." bunyi mesin itu.
"Nanti
biar tak telpon Mas Aji lagi." kata Kasubag TU yang memperhatikan kami
sibuk dari tadi di dekat mesin finger. Dia memencet-mencet android dengan
cassing hitam legam. Mencoba menghubungi Mas Aji, pegawai BKD Provinsi.
Berjalan keluar untuk menghindari suara gaduh di ruang TU.
"Ya, ya,
Ooo, ya, Baik, Baik." katanya dengan orang di ujung telpon. Dia kembali
masuk ke ruang TU sambil tertawa. "Oalah, adoh-adoh ming Semarang jeh,
isih ora bisa!" lanjutnya.
"Mas Aji
lupa belum mereset ulang programnya, Bu. Disuruh nunggu 10 menit lagi nanti
bisa dicoba lagi." jelas perempuan paruh baya yang sangat keibuan itu.
Aku sedang
tanya jawab di kelas XII MIPA 3 tentang globalisasi ketika seorang teman
memanggilku. Dia utusan dari Kasubag TU. Menyuruhku mencoba kembali mesin
finger yang baru saja direset ulang.
Kucoba
memasukkan nomor ID dan pasword untuk yang ke sekian kalinya. "Terima
kasih" bunyi mesin itu. Nah, lega rasanya. Ternyata untuk mendengar mesin
itu berbunyi terima kasih butuh memasukkan enam ditambah 8 angka ke dalam
aplikasi. Sekitar 20 detik. Orang lain cukup dengan 1 detik. Tak apalah
daripada harus mencet berkali-kali hingga berjam-jam. Toh, memang sudah sejak
dulu aku harus bekerja lebih keras daripada orang lain untuk mendapatkan hasil
yang sama. Ketika masih sekolah dulu, aku harus belajar lebih giat dari pada
teman lain yang lebih cerdas untuk mendapatkan nilai yang setara. Hari ini pun
aku harus bekerja lebih keras daripada mereka yang memiliki fasilitas hidup
yang lebih untuk memperoleh taraf hidup yang sama. Nikmatilah, hidup itu
proses. Bukan semata-mata hasil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar